Senin pagi, 11 Mei 2026, suasana ruang kelas 6 di Salam terasa cerah sekaligus gerah. Ruangan di Togog Mbilung dan Bagong nyaris penuh oleh audiens yang datang untuk menyaksikan presentasi anak-anak kelas 6. Hari itu ada empat anak yang akan mempresentasikan hasil belajar mereka: Ayya, Ganis, Aleta, dan Paulus Angger Agya Nirwasito, atau yang akrab dipanggil Angger.
Angger duduk tenang di depan kelas dengan bantuan mikrofon dan slide powerpoint sederhana yang telah ia susun. Di hadapan teman-teman, fasilitator, dan para orang tua, ia mempresentasikan risetnya yang berjudul “Riset Soal”. Berbeda dengan riset-riset lain yang biasanya penuh dokumentasi, pengamatan, dan catatan proses, riset Angger justru berjalan sangat santai, nyaris tanpa dokumentasi yang rapi. Karena itulah, beberapa hari menjelang presentasi Panen Pengetahuan, Angger sempat merasa bahwa risetnya gagal.
Sebagai anak kelas 6, Angger mulai berhadapan dengan dunia baru: latihan soal, ujian, TKA, TKD, nilai, dan target masuk SMP. Pengalaman belajar yang selama ini lebih bebas dan berbasis riset kehidupan sehari-hari mendadak bersinggungan dengan pola belajar yang lebih formal. Angger merasa bingung. Ia merasa tidak benar-benar melakukan riset sebagaimana yang biasa dilakukan di Salam.
Namun, dalam sebuah obrolan sederhana di dapur beberapa hari sebelum batas pengumpulan slide presentasi, perlahan Angger mulai menyadari sesuatu. Ketika diajak mengingat kembali semester dua yang telah dijalani, ternyata banyak hal yang sebenarnya telah ia pelajari. Ia memang tidak secara khusus mencari atau mengumpulkan soal untuk diteliti, tetapi kesehariannya tetap dipenuhi proses belajar.
Angger mendapatkan soal-soal latihan TKA dan TKD dari fasilitator di kelas. Sesekali ia juga mengerjakan soal dari buku pinjaman milik Anin, temannya dari sekolah lain. Selain itu, ia memperoleh tambahan materi Agama Katolik dari kegiatan pelajaran komuni di gereja. Untuk pelajaran Bahasa Jawa, Angger mendapat pengalaman belajar dari fasilitasi Bu Gita dan Bu Esthi, orang tua kelas 6 yang membantu anak-anak mengenal bahasa dan aksara Jawa seperti yang dipelajari di sekolah formal lainnya.
Kesadaran kecil itu mengubah cara pandang Angger terhadap risetnya sendiri. Ia mulai memahami bahwa belajar ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk catatan lengkap dan dokumentasi rapi. Ada proses belajar yang berjalan diam-diam dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari.
Pagi itu, ada pula momen kecil yang lucu sebelum presentasi dimulai. Angger, Ayya, Ganis, dan Aleta ternyata mengenakan pakaian dengan warna senada, seperti warna kopi latte. Ketika ayah Angger berpapasan dengan Ganis dan Ayya di dekat prosotan, mereka buru-buru menjelaskan bahwa mereka tidak membuat janji dress code apa pun. Semuanya kebetulan saja. Meski sederhana, momen itu terasa hangat dan lucu, seolah menunjukkan kekompakan anak-anak kelas 6 yang tumbuh secara alami tanpa harus diseragamkan.
Saat gilirannya tiba, Angger maju dengan tenang. Ia duduk di kursi yang tersedia dan mulai mempresentasikan slide demi slide. Sesekali ia mencoba tidak terlalu bergantung pada teks presentasi dan mulai bercerita kepada audiens. Presentasinya berlangsung singkat. Slide yang dibuat Angger hanya sembilan halaman, termasuk halaman pembuka dan ucapan terima kasih.
Dalam presentasinya, Angger menyampaikan berbagai kesimpulan sederhana tentang pengalamannya menghadapi soal latihan dan ujian. Ia membandingkan tingkat kesulitan beberapa materi, sekaligus mengakui kekurangannya selama proses riset. Ia merasa kurang maksimal karena tidak mendokumentasikan perjalanan belajarnya dengan baik. Namun justru dari proses menyusun presentasi itulah, Angger menyadari bahwa ia sebenarnya tetap melakukan riset, hanya saja tidak terbiasa mencatatnya.
Sesi tanya jawab berlangsung cukup ramai. Banyak audiens yang penasaran dengan pengalaman Angger menghadapi ujian dan pelajaran baru. Bu Ochi bertanya pelajaran apa yang paling sulit menurutnya. Dengan jujur Angger menjawab, “Geometri.”
Pak Nur bertanya mata pelajaran apa yang paling disukai dan masih ingin dipelajari. Angger menjawab bahwa ia menyukai Bahasa Inggris dan aksara Jawa.
Bu Ningrum ingin tahu apakah materi yang dipelajari selama ini benar-benar muncul dalam ujian dan seberapa optimis Angger menghadapinya. Angger menjawab singkat namun mantap bahwa materi itu memang keluar di ujian dan ia tetap optimis.
Pak Tandang bertanya tentang tingkat kesulitan soal TKA dan TKD dalam skala satu sampai lima. Menurut Angger, soal-soal itu tidak terlalu sulit dan masih bisa dikejar dengan belajar lebih banyak.
Bu Bekti bertanya mengapa Angger tetap ingin mendapatkan nilai tinggi meski sudah mendaftar di sekolah swasta. Angger menjawab sederhana, bahwa ia tetap ingin mencoba masuk sekolah negeri juga.
Sementara Mbak Nisa bertanya apa yang akan ia lakukan nanti ketika masuk SMP dan kembali berhadapan dengan banyak soal. Jawaban Angger singkat: “Belajar.”
Mbak Farida bertanya bagaimana perasaannya ketika mengerjakan TKA dan TKD. Angger mengaku sedikit deg-degan. Pak Sea pun bertanya apakah ada rasa takut menghadapi ujian. Angger menjawab jujur bahwa rasa takut itu memang ada.
Di antara berbagai pertanyaan yang muncul, ada satu pertanyaan yang sebenarnya sudah diprediksi Angger sejak malam sebelumnya: pertanyaan dari Mimbok tentang janji mengurangi penggunaan gadget. Dengan apa adanya, Angger mengakui bahwa ia gagal memenuhi janjinya. Ia masih sering bermain ponsel dalam waktu yang panjang selama semester dua.
Meski begitu, sepanjang sesi tanya jawab, Angger terlihat santai dan tenang. Ia tidak panik menghadapi pertanyaan demi pertanyaan. Jawabannya sederhana, jujur, dan apa adanya.
Dari seluruh presentasi itu, ada satu kalimat dari slide Angger yang terasa paling membekas: “Jangan terlalu percaya bahwa hal yang kamu buat itu akan gagal.” Kalimat sederhana itu terasa seperti pelajaran penting, bukan hanya bagi Angger, tetapi juga bagi orang-orang dewasa yang hadir pagi itu.
Di tengah ketidakpastian dan kecemasan menghadapi banyak hal dalam kehidupan, Angger mengingatkan bahwa kegagalan sering kali hanya lahir dari rasa takut sebelum benar-benar mencoba melihat proses yang sudah dijalani.
Presentasi Angger mungkin singkat. Dokumentasinya mungkin tidak lengkap. Namun justru dari perjalanan yang nyaris dianggap gagal itulah muncul pemahaman penting: belajar tidak selalu terlihat megah, tetapi sering kali tumbuh diam-diam dalam keseharian.[]
Dari notulensi C Anangga P / Butet RSM
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply