Pagi itu, Selasa 12 Mei 2026, ruang Bagong terasa hangat dan hidup. Sekitar dua puluh orang hadir memenuhi ruangan—teman-teman kelas 5, beberapa orang tua, juga tamu dari Sekolah Akar Rumput (Sekar). Setelah presentasi Atar selesai, MC yang dipandu Logan dan Matthew mempersilakan Simatair Nun Sobri, yang akrab dipanggil Air, maju ke depan.
Air melangkah santai sambil membawa jurnal risetnya. Wajahnya tampak rileks, seolah ia sedang hendak bercerita kepada teman-temannya sendiri. Judul riset yang ia pilih sederhana namun dekat dengan kesehariannya: membuat sosis.
Di layar presentasi, Air menampilkan foto-foto proses pembuatan sosis yang telah ia lakukan sebanyak dua kali percobaan. Ia menjelaskan bahan-bahan yang digunakan, proses pembuatannya, hingga kandungan gizi di dalam sosis buatannya. Untuk urusan gizi, Air tidak asal menebak. Ia berdiskusi dengan tantenya di Magelang, Nugraheni Swastika atau Mbak Anung, seorang ahli gizi di Puskesmas. Dari sana, Air mengenal aplikasi bernama Nutribase yang biasa dipakai tenaga kesehatan untuk menghitung kandungan nutrisi makanan.
Tidak hanya menampilkan data, Air juga memutar animasi berdurasi dua menit tentang sejarah sosis dan cara pembuatannya. Animasi itu dibuat dengan bantuan AI oleh Attar, kakaknya. Suasana presentasi pun terasa menyenangkan. Air menjelaskan semuanya dengan percaya diri, tanpa terlihat tegang.
Riset membuat sosis ini sebenarnya berawal dari usulan mamanya. Setelah sebelumnya Air menjalani riset tentang sejarah Indonesia melalui lagu Genjer-Genjer dan memasak sayur genjer—yang menurutnya cukup berat dan rumit—kali ini ia ingin mencoba sesuatu yang lebih dekat dengan makanan favoritnya sendiri. Ia memilih belajar membuat sosis dari berbagai video di YouTube.
Ada dua percobaan yang dilakukan Air. Pada percobaan pertama, ia menggunakan campuran paha ayam dan daging sapi. Hasilnya terasa lebih kenyal karena kandungan lemak dari paha ayam. Sedangkan percobaan kedua menggunakan lebih banyak dada ayam yang tinggi protein dan rendah lemak. Menurut Air, jenis ini cocok untuk orang yang sedang rutin berolahraga. Teksturnya berbeda: lebih lembut dan mudah hancur di mulut.
Dari riset itu, Air mulai memahami bahwa rasa dan tekstur makanan ternyata dipengaruhi oleh jenis bahan yang digunakan. Ia juga belajar mencatat bahan-bahan penting seperti daging, bumbu, dan selongsong sosis dari usus sapi. Meski demikian, ia sempat lupa mencatat alat-alat seperti penggiling daging dan alat suntik untuk memasukkan adonan ke selongsong. Dengan polos ia mengaku bahwa alat-alat itu “tahu-tahu sudah dibelikan mama.”
Bagian paling menantang dalam proses ini ternyata bukan mencampur bumbu atau menggiling daging, melainkan memasukkan adonan ke dalam selongsong sosis. Air bercerita bahwa proses itu sangat melelahkan karena adonan yang licin sulit dimasukkan. Bahkan dengan bantuan papa dan mamanya, pekerjaan itu memakan waktu hampir tiga jam.
Karena prosesnya cukup merepotkan, Air memilih tidak membuat sosis langsung saat presentasi. Ia hanya membawa hasil jadi dari dua percobaannya untuk dicicipi teman-teman dan fasilitator. Sambil bercanda ia berkata bahwa mamanya sampai sakit pinggang membantu proses tersebut.
Suasana paling ramai terjadi saat sesi tanya jawab. Ibu Issana bertanya berapa lama sosis buatan Air bisa bertahan. Dengan cepat Air menjawab, “Kalau disimpan di kulkas bisa seminggu. Tapi kalau ditaruh di meja, paling sejam sudah habis.” Seluruh ruangan langsung tertawa.
Pertanyaan lain datang dari Pak Lanang yang penasaran tentang kandungan gizi sosis buatannya dibanding kebutuhan gizi manusia sehari. Dengan percaya diri Air menjawab, “Mungkin empat sampai lima sosis.” Namun beberapa detik kemudian ia mengaku sebenarnya belum menghitung secara pasti. Semua kembali tertawa.
Momen lucu lainnya muncul ketika papanya bertanya tentang siapa sebenarnya Mbak Anung, narasumber yang ia sebut dalam presentasi. Air spontan menjawab, “Ya keluarga too, masa pura-pura nggak tahu.” Papanya lalu mengingatkan bahwa teman-teman lain tentu tidak tahu hubungan keluarga mereka. Lagi-lagi ruangan dipenuhi tawa.
Di balik suasana santai itu, riset ini memperlihatkan bagaimana proses belajar Air berkembang. Mamanya banyak membantu mencari referensi YouTube dan menyiapkan bahan, sementara papanya membantu saat proses memasukkan sosis ke selongsong serta mencarikan narasumber tentang kandungan gizi. Teman-temannya pun ikut terlibat. Matthew bahkan pernah menawarkan bantuan ketika Air mengeluhkan betapa melelahkannya proses memasukkan adonan sosis.
Melalui riset sederhana ini, Air belajar bahwa makanan yang tampak biasa ternyata membutuhkan proses panjang dan penuh kesabaran. Ia menyadari bahwa membuat sosis secara manual tidak semudah memakannya. Namun dari situ pula ia mengetahui bahwa sosis rumahan buatannya terasa lebih sehat dibanding sosis pabrikan karena tidak banyak mengandung pengawet dan bahan tambahan yang tidak jelas.
Bagi Air sendiri, riset kali ini terasa lebih ringan dibanding riset-riset sebelumnya yang banyak menguras pikiran. Tetapi jika diperhatikan lebih jauh, perjalanan riset Air sejak kelas satu seperti bergerak di antara dua dunia yang ia sukai: seni dan memasak. Dan mungkin, dari situlah cara Air menemukan dirinya sendiri—melalui rasa, cerita, dan pengalaman sederhana yang dikerjakan dengan tangan serta rasa ingin tahu. []
Dari notulensi Syam
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply