Jumat pagi, 8 Mei 2026, suasana ruang Togok dan Mbilung di Salam masih ramai oleh anak-anak, orang tua, dan fasilitator yang antusias mengikuti bulan presentasi riset semester dua. Hari itu merupakan hari kedua rangkaian presentasi. Setelah presentasi Ella selesai, giliran Nammi Puan, siswa kelas 6 SD, tampil membawakan riset berjudul “Manfaat Kopi Non-Minum.”
Meskipun sempat mengalami sedikit kendala teknis, presentasi akhirnya dapat berjalan lancar berkat bantuan kakak-kakak panitia. Dukungan itu membuat suasana kembali cair dan menyenangkan. Nammi Puan pun tampil dengan tenang dan percaya diri.
Seperti presentasi sebelumnya, Nammi Puan menggunakan media PowerPoint yang dipadukan dengan video berisi penjelasan riset menggunakan dubbing suaranya sendiri. Dalam video itu, ia menjelaskan isi riset dari awal hingga kesimpulan secara runtut. Cara ini terasa sangat membantu karena ia tidak perlu terus-menerus membaca catatan sambil melihat layar. Suara penjelasan yang direkam juga membuat audiens lebih mudah memahami isi presentasi.
Riset Nammi Puan bermula dari rasa penasaran sederhana. Ia melihat orang tuanya sering minum kopi, tetapi di matanya kopi terasa pahit dan tidak enak. Dari situlah muncul pertanyaan, “Kenapa orang suka minum kopi?” Pertanyaan kecil itu kemudian berkembang menjadi diskusi panjang di rumah tentang kopi dan berbagai manfaatnya selain untuk diminum.
Bersama orang tuanya, Nammi Puan mulai mencari tahu bahwa kopi ternyata memiliki banyak kegunaan di berbagai bidang kehidupan. Dalam presentasinya, ia menjelaskan manfaat kopi dalam bidang rumah tangga, pertanian, kesehatan, lingkungan, hingga industri. Meskipun pembahasannya masih berupa pengetahuan dasar, riset ini menunjukkan bahwa satu bahan sederhana dapat memiliki manfaat yang sangat luas.
Untuk praktik langsung, Nammi Puan memilih beberapa contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mencoba membuat lulur dari ampas kopi, pengharum ruangan, serta adonan pembersih perabot dapur berbahan dasar kopi. Dari praktik-praktik kecil itu, ia belajar bahwa limbah yang sering dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai manfaat.
Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika Nammi Puan diajak mencari ampas kopi di Point Indomaret sebagai bahan praktik. Awalnya mereka sudah menyiapkan uang untuk membeli ampas kopi tersebut. Namun ternyata ampas kopi bisa didapatkan secara gratis dalam jumlah banyak. Melihat hal itu, Nammi Puan spontan berkata,
“Mami, ini kalau kita ambil ampas kopi di semua kopi Indomaret terus dibikin lulur atau apa gitu berarti kita bisa kaya raya dengan modal gratis.” Ucapan spontan itu membuat orang-orang di sekitarnya tertawa sekaligus kagum. Dari sana terlihat bagaimana proses riset tidak hanya memunculkan rasa ingin tahu, tetapi juga melatih cara berpikir kreatif dan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Dalam sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan datang dari fasilitator, orang tua, dan teman-teman yang hadir. Salah satu pertanyaan menyinggung praktik pengolahan limbah ampas kopi yang dilakukan Nammi Puan di rumah. Dengan santai ia menjelaskan proses membuat lulur kopi dan penggunaan ampas kopi sebagai pembersih peralatan dapur.
Namun ada juga pertanyaan yang belum bisa ia jawab, yaitu tentang kemungkinan ampas kopi dijadikan bahan alternatif pengganti bahan bakar mobil. Nammi Puan mengakui bahwa risetnya masih membahas manfaat kopi secara umum sehingga belum mendalami aspek-aspek tertentu secara detail. Justru dari situ muncul banyak masukan dari audiens agar pada riset berikutnya ia lebih fokus pada satu bidang tertentu supaya pembahasannya bisa lebih mendalam dan praktiknya lebih maksimal.
Dukungan lingkungan belajar terlihat sangat besar selama proses riset ini berlangsung. Fasilitator membantu mendampingi, teman-teman kelas 6 saling mengingatkan untuk mencicil pekerjaan riset, sementara orang tua berperan memfasilitasi praktik-praktik di rumah sampai berhasil. Dukungan positif itu membuat Nammi Puan mampu tampil percaya diri di depan banyak orang.
Dari seluruh proses tersebut, Nammi Puan belajar tentang keberanian mencoba, ketelatenan, dan pentingnya percaya diri. Ia juga mulai memahami bahwa sebuah produk bernilai tidak selalu harus dibuat dari bahan mahal. Kadang justru dari sesuatu yang dianggap limbah, seperti ampas kopi, bisa lahir ide-ide kreatif yang bermanfaat bahkan berpotensi menjadi peluang usaha.
Riset Nammi Puan memang masih luas dan belum mendalam, tetapi justru di situlah letak pentingnya proses belajar. Ia sedang belajar melihat dunia dengan rasa penasaran, mencoba memahami manfaat dari hal-hal kecil di sekitarnya, dan menemukan kemungkinan baru dari sesuatu yang selama ini sering dianggap biasa saja.[]
Dari notulensi: RKP Fajar Kurnia
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply