Pagi itu halaman SALAM terasa ramai dan penuh semangat. Di antara anak-anak yang sedang bersiap mengikuti Gelar Karya Bulan Presentasi 2026, tampak Freya Agustin Halim Kelas 1 SD SALAM datang bersama mama, adik, dan tantenya. Dengan wajah ceria, Freya segera menghampiri meja dan kursi yang telah disiapkan panitia. Satu per satu perlengkapan jualannya dikeluarkan: piring, sendok, dan berbagai kebutuhan lainnya. Terlihat jelas bahwa ia sudah tidak sabar menunggu kegiatan dimulai.
Setelah seluruh peserta berkumpul untuk berdoa dan bernyanyi bersama, Freya mulai menjalankan peran barunya sebagai penjual sekaligus peneliti kecil. Ketika pembeli pertamanya datang, wajahnya langsung berbinar. Dengan antusias ia melayani pembeli yang ingin mencoba es krim buatannya. Pengalaman sederhana itu menjadi momen yang membanggakan sekaligus menyenangkan bagi Freya.
Riset yang dipresentasikan Freya berangkat dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupannya sehari-hari: kecintaannya pada es krim. Dari kesukaan tersebut muncul rasa ingin tahu untuk mencoba membuat es krim sendiri dengan berbagai bahan dan rasa.
Perjalanan risetnya dimulai dengan eksperimen menggunakan buah naga dan pisang sebagai bahan utama. Freya mencoba berbagai campuran pemanis seperti madu, susu kental manis, dan gula pasir. Untuk varian pisang, ia membuat dua rasa, yaitu pisang original dan pisang coklat dengan tambahan bubuk coklat. Semua bahan diblender, dimasukkan ke dalam freezer, lalu didiamkan semalaman.
Keesokan harinya, Freya melakukan tahap yang paling ditunggu-tunggu: mencicipi hasil buatannya sendiri. Dari percobaan pertama itu, ia menemukan bahwa rasa buah naga dan pisang original kurang sesuai dengan seleranya. Sebaliknya, es krim pisang coklat justru menjadi favoritnya. Temuan sederhana tersebut menjadi dasar bagi langkah-langkah berikutnya dalam riset yang ia lakukan.
Beberapa minggu kemudian, Freya kembali bereksperimen. Kali ini ia mencoba menggunakan buah semangka yang dicampur susu kental manis sebelum dibekukan. Namun hasilnya kembali menunjukkan bahwa rasa tersebut bukan yang paling ia sukai. Dari sini Freya mulai belajar bahwa setiap percobaan, baik berhasil maupun tidak, tetap memberikan pelajaran penting untuk menentukan langkah selanjutnya.
Alih-alih berhenti, Freya justru semakin bersemangat mengembangkan resep es krim pisang coklat. Pada praktik berikutnya, ia menambahkan biskuit ke dalam campuran es krim. Di percobaan lain, ia mencoba menambahkan topping keju. Semakin lama, variasi yang dicobanya semakin beragam. Pada salah satu praktik terakhir, Freya memasukkan keju slice ke dalam adonan, menggunakan coklat batang yang dilelehkan, lalu menambahkan berbagai topping seperti meses, choco chips, dan keju parut.
Melalui proses tersebut, Freya tidak hanya belajar membuat es krim. Ia juga belajar mengenali seleranya sendiri, mencoba berbagai kemungkinan, membandingkan hasil percobaan, dan mengambil keputusan berdasarkan pengalaman yang telah ia peroleh.
Resep favorit yang akhirnya dipilih Freya terdiri atas pisang mas, bubuk coklat, susu bubuk, serta air gula sebagai bahan tambahan yang bersifat opsional. Untuk memperkaya rasa dan tampilan, ia menambahkan topping berupa meses, choco chips, dan keju parut.
Saat presentasi berlangsung, Freya menggunakan poster sederhana untuk membantu menjelaskan hasil risetnya. Dibandingkan semester sebelumnya, kepercayaan dirinya terlihat meningkat. Ia berusaha menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para pengunjung dan fasilitator. Meskipun sesekali masih meminta bantuan mama untuk mengingat beberapa hal, Freya tampak lebih nyaman berbicara di depan orang lain.
Salah satu momen yang mengundang senyum adalah ketika Bu Umi bertanya berapa hasil penjualannya hari itu. Freya sempat lupa jumlahnya hingga mama membantunya mengingat bahwa uang yang terkumpul mencapai Rp145.000. Bagi Freya, jumlah tersebut terasa sangat besar. Dengan wajah penuh kebanggaan, ia menerima kenyataan bahwa hasil kerja kerasnya ternyata mendapat apresiasi dari banyak orang.
Momen lain yang tak kalah menarik terjadi ketika ia ditanya mengapa memilih pisang sebagai bahan utama es krimnya. Dengan jawaban singkat, jujur, dan khas anak-anak, Freya menjawab, “Karena enak.”
Jawaban sederhana itu sesungguhnya menggambarkan inti dari seluruh perjalanan risetnya. Freya tidak memulai dari teori yang rumit, melainkan dari rasa suka yang tulus. Dari rasa suka itu lahir keberanian untuk mencoba, mengamati, membandingkan, dan memperbaiki.
Di akhir sesi, Pak Bomo bertanya apakah Freya ingin berjualan lagi suatu saat nanti. Tanpa ragu, Freya menjawab, “Iya.” Jawaban penuh semangat itu menunjukkan bahwa pengalaman belajar melalui riset dan berjualan telah meninggalkan kesan yang menyenangkan baginya.
Melalui riset es krim pisang coklat ini, Freya belajar bahwa menemukan sesuatu yang disukai membutuhkan proses mencoba berulang kali. Ia belajar menerima bahwa tidak semua percobaan akan menghasilkan rasa yang sesuai harapan. Namun dari setiap kegagalan kecil, selalu ada pelajaran yang membantu menemukan pilihan yang lebih baik.
Yang paling penting, Freya menikmati seluruh perjalanan tersebut. Ia menikmati proses membuat es krim, melayani pembeli, menjelaskan hasil riset, dan merasakan kebanggaan atas hasil usahanya sendiri. Dari langkah-langkah kecil itulah tumbuh keberanian, rasa percaya diri, serta kegembiraan belajar yang menjadi bekal berharga bagi perjalanan berikutnya.
Dari notulensi: Novia
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply