karya anak salam

Talu, Ketika Kertas Bekas Menjadi Cerita Baru

Pagi itu, Senin, 11 Mei 2026, suasana Halaman SALAM masih relatif lengang ketika Carolus Talu Mahatma Juang, ayang akrab dipanggil Talu, datang untuk mengikuti Gelar Karya kelas 1 SD SALAM. Waktu menunjukkan pukul 08.40 WIB. Meja dan kursi telah tertata rapi, sementara beberapa teman sekelasnya sudah lebih dahulu hadir. Para fasilitator tampak sibuk mendata kehadiran, sedangkan orang tua membantu anak-anak menyiapkan meja pameran masing-masing.

Seiring berjalannya waktu, suasana semakin ramai. Anak-anak berdatangan satu per satu dengan semangat membawa hasil riset yang telah mereka kerjakan selama satu semester. Setelah kegiatan dibuka dengan doa dan bernyanyi bersama, lapangan berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Anak-anak berjualan hasil karya mereka dengan penuh antusias, sementara para orang tua dan pengunjung berkeliling melihat berbagai karya yang dipamerkan.

Menjelang pukul 10.00 WIB, giliran Talu mempresentasikan risetnya yang berjudul Mendaur Ulang Kertas. Ketika namanya dipanggil, ia tampak siap menyambut Bu Umi dan Pak Bomo yang menghampiri meja presentasinya. Namun sebelum memulai penjelasan, Talu meminta izin sejenak. Dengan tenang dan percaya diri, ia mencari jarum jam dan baterai yang menjadi bagian penting dari salah satu karya daur ulangnya.

Momen itu menjadi pembuka yang menarik. Setelah jarum jam dan baterai berhasil dipasang, jarum detik mulai bergerak berdetak. Tepuk tangan spontan pun terdengar dari teman-teman dan para penonton yang menyaksikan keberhasilan tersebut. Senyum Talu mengembang. Karyanya bekerja sesuai harapan.

Talu kemudian bercerita tentang awal mula risetnya. Ide mendaur ulang kertas muncul dari persoalan sederhana yang ia temui di rumah. Banyaknya kertas bekas yang berserakan membuat rumah terlihat kurang rapi. Dari situlah muncul keinginannya untuk mengubah limbah kertas menjadi sesuatu yang berguna.

Sejak bulan Januari, Talu mulai bereksperimen dengan berbagai kemungkinan. Dalam prosesnya, ia tidak hanya berhasil membuat satu karya, tetapi setidaknya lima jenis karya daur ulang yang berbeda. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah ketika mencoba membuat jam dinding dari bahan daur ulang. Percobaan pertamanya gagal karena ukuran karya yang dibuat terlalu kecil untuk berfungsi sebagai jam.

Namun kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Dengan tenang, Talu mencari jalan keluar. Karya yang tidak berhasil menjadi jam tidak dibuang begitu saja. Ia mengubah fungsinya menjadi karya lain yang dilengkapi cermin. Dari pengalaman itu, Talu belajar bahwa sebuah kegagalan tidak selalu berakhir sia-sia. Kadang-kadang, kegagalan justru membuka kemungkinan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Saat menjelaskan proses daur ulang kepada para pengunjung, Talu tampak sangat memahami apa yang telah ia kerjakan. Dengan gerakan tangan yang ekspresif, ia menceritakan langkah demi langkah pembuatan bubur kertas. Kertas bekas terlebih dahulu disobek menjadi bagian-bagian kecil, lalu direndam dalam air selama satu jam. Setelah lunak, kertas dihancurkan menggunakan hand blender, kemudian disaring dan diperas menggunakan kain saring.

Ketika seorang pengunjung bertanya apakah ada bahan tambahan yang digunakan dalam proses tersebut, Talu menjawab dengan yakin bahwa ia tidak menambahkan bahan apa pun. Bubur kertas yang telah disaring langsung dicetak menjadi berbagai bentuk, termasuk huruf-huruf kecil yang menjadi bagian dari karyanya.

Salah satu hal yang menonjol selama presentasi adalah kepercayaan diri Talu. Ia mampu menjawab berbagai pertanyaan dengan tenang dan komunikatif. Bu Umi beberapa kali memancing cerita tentang pengalaman-pengalaman tak terduga selama riset berlangsung, dan Talu menjawabnya dengan santai menggunakan bahasa yang sederhana namun mudah dipahami.

Di tengah presentasi, Talu juga menunjukkan kemampuan mengelola situasi dengan baik. Beberapa karya berbentuk gajah yang ia jual ternyata cukup diminati pembeli. Namun ia meminta para pembeli untuk mengambil barang pesanannya setelah presentasi selesai agar karya-karya tersebut tetap bisa dipajang selama sesi berlangsung. Keputusan sederhana ini menunjukkan kemampuan Talu dalam mengatur prioritas sekaligus menjaga jalannya presentasi.

Perjalanan riset semester ini memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Talu menunjukkan tanggung jawab yang lebih besar dalam mengelola waktu dan proses belajarnya. Ketika menghadapi kegagalan membuat jam, ia tidak panik ataupun menyerah. Ia memilih mengulang proses dengan perhitungan waktu yang matang hingga akhirnya berhasil menghasilkan karya yang sesuai keinginannya.

Pengalaman berjualan dalam Gelar Karya juga menjadi pelajaran baru bagi Talu. Pada awalnya ia merasa kurang nyaman, tetapi perlahan ia mampu beradaptasi. Dengan sabar dan ramah, ia melayani setiap pembeli serta menjawab pertanyaan para pengunjung yang datang ke mejanya.

Melalui riset mendaur ulang kertas ini, Talu tidak hanya belajar tentang cara mengolah limbah menjadi benda yang bermanfaat. Ia juga belajar tentang ketekunan, kreativitas, pengelolaan waktu, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian menghadapi kegagalan. Di balik tumpukan kertas bekas yang semula dianggap tidak berguna, Talu menemukan pelajaran berharga bahwa setiap benda, seperti juga setiap pengalaman, selalu memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan baru.

Dari notulensi: Ganing

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *