Pagi itu, Selasa, 19 Mei 2026, Ruang Bagong mulai dipenuhi oleh anak-anak dan orang tua yang bersiap mengikuti Bulan Presentasi. Meski beberapa peserta masih dalam perjalanan, suasana sudah terasa hidup. Tepat pukul sembilan pagi, Rabbani Malik Al Fatih. Kelas 2 SD SALAM—yang akrab dipanggil Rama—berdiri di depan teman-temannya untuk mempresentasikan hasil risetnya yang berjudul “Memancing.”
Sejak awal, Rama menunjukkan kesungguhan dalam menyampaikan apa yang telah dipelajarinya. Ia tidak hanya membawa presentasi dalam bentuk PowerPoint dan video dokumentasi, tetapi juga menghadirkan langsung berbagai perlengkapan memancing seperti joran, kail, umpan, dan kasting. Kehadiran benda-benda tersebut membuat teman-temannya semakin tertarik mengikuti cerita yang ia bagikan.
Riset memancing yang dilakukan Rama tidak berhenti pada membaca atau menonton video. Ia terjun langsung ke lapangan, mendatangi sungai maupun tempat pemancingan untuk merasakan sendiri pengalaman memancing. Dalam prosesnya, ia mencari informasi dari berbagai sumber, mulai dari buku, video YouTube, hingga wawancara dengan para pemancing yang ditemuinya.
Melalui pengalaman tersebut, Rama menemukan bahwa memancing ternyata tidak sesederhana melempar kail ke air dan menunggu ikan datang. Ia belajar bahwa tidak semua umpan yang dipasang akan berhasil mendapatkan ikan. Ada banyak faktor yang memengaruhi hasil tangkapan, mulai dari jenis umpan, kondisi air, hingga keberuntungan. Cara Rama menjelaskan hal-hal tersebut menunjukkan logika berpikir yang khas anak-anak namun cukup runtut dan masuk akal.
Salah satu momen yang paling mengundang perhatian adalah ketika Rama menjelaskan tentang essen, cairan perangsang aroma untuk umpan pancing. Dengan ekspresi serius, ia mengatakan bahwa aroma essen tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Pernyataan sederhana itu membuat banyak orang tersenyum karena menunjukkan cara berpikir anak yang berusaha menerjemahkan pengalaman inderawinya sendiri.
Di sisi lain, Rama juga bercerita tentang tantangan yang sering membuatnya kesal, yaitu ketika senar pancing kusut dan melilit tidak beraturan. Ia mengakui bahwa kondisi itu kadang membuat emosinya muncul. Namun justru dari pengalaman-pengalaman seperti itulah ia belajar menghadapi kesabaran, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh setiap pemancing.
Ketika sesi tanya jawab dimulai, Rama menunjukkan perkembangan yang membanggakan. Ia mampu menjawab berbagai pertanyaan dari teman-teman maupun orang tua dengan percaya diri, jujur, dan jelas. Jawaban-jawabannya menunjukkan bahwa ia benar-benar memahami proses yang telah dijalaninya, bukan sekadar menghafal informasi.
Di balik riset ini, terdapat perjalanan sosial yang juga menarik. Pada awalnya, Rama belum terlalu berani berbicara dengan para pemancing yang lebih dewasa. Ia cenderung hanya berinteraksi dengan teman-teman sebaya. Namun, dorongan untuk terus bertanya membuatnya perlahan-lahan keluar dari rasa sungkan tersebut. Menjelang akhir proses riset, Rama mulai lebih luwes menyapa dan bertanya kepada sesama pemancing saat praktik di lapangan. Perubahan kecil ini menjadi salah satu capaian penting yang mungkin tidak terlihat dalam hasil tangkapan ikan, tetapi sangat berarti dalam proses belajar hidup.
Bagi orang tua, tujuan utama riset ini bukanlah sekadar membuat Rama mahir memancing. Yang lebih penting adalah menumbuhkan rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencari informasi dari berbagai sumber, baik melalui pengamatan, praktik langsung, maupun percakapan dengan orang lain.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika Rama berinisiatif memanfaatkan pancing milik adiknya yang sudah rusak. Dengan menggunakan bahan-bahan bekas, ia mencoba memperbaiki dan mengubahnya menjadi pancing golong yang kembali berfungsi. Kreativitas dan kemauan untuk mencoba itulah yang membuat proses belajar menjadi hidup. Pengalaman memancing bersama teman-teman sekelas di Moro Seneng juga menjadi kenangan yang membahagiakan sekaligus memperkaya pengalaman risetnya.
Dari keseluruhan perjalanan ini, terlihat bahwa Rama tidak hanya belajar tentang ikan, umpan, atau teknik memancing. Ia belajar tentang keberanian bertanya, kesabaran menghadapi kegagalan, kreativitas memanfaatkan barang yang ada, serta pentingnya mencari pengetahuan dari banyak sumber.
Sebagaimana dicatat dalam refleksi presentasi ini, inisiatif adalah modal yang sangat berharga. Namun untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan, inisiatif perlu berjalan berdampingan dengan disiplin. Dalam lingkungan belajar yang memberi ruang kebebasan berekspresi dan kemerdekaan belajar, disiplin tetap menjadi penyangga penting agar proses belajar tidak berhenti pada rasa penasaran semata, tetapi berkembang menjadi ketekunan dalam menjalani setiap langkah
Seperti seorang pemancing yang sabar menunggu ikan menyambar kail, Rama sedang belajar satu hal penting tentang kehidupan: bahwa hasil terbaik sering kali datang kepada mereka yang tekun, berani mencoba, dan tidak lelah untuk terus bertanya.
Dari notulensi: Ibu Caecil
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply