karya anak salam

Kirana dan Paper Book: Belajar Menyusun Dunia dari Lembar demi Lembar

Pagi itu, suasana Ruang Bagong terasa tenang. Teman-teman masih menyimak presentasi sebelumnya ketika Kirana Michiko Harzani, kelas 2 SALAM yang akrab dipanggil Nana, menunggu gilirannya dengan perasaan campur aduk. Wajahnya tampak sedikit tegang. Ia mengaku deg-degan. Namun ketika melihat Mbak Rika, narasumber yang datang untuk mendukungnya, duduk di dekat tangga dan memberikan lambaian semangat dari kejauhan, Nana tampak sedikit lebih tenang.

Hari itu Nana mempresentasikan risetnya yang berjudul Paper Book, sebuah proyek kreatif yang memadukan paper doll, buku lipat, dan elemen pop-up menjadi karya yang bisa dimainkan sekaligus dinikmati sebagai cerita visual.

Presentasi dibuka dengan sederhana. Nana menyapa para peserta lalu mengajak mereka menyaksikan video yang telah disiapkannya. Meskipun sempat terjadi sedikit kebingungan saat memutar urutan video, ia berhasil mengatasinya dan melanjutkan presentasi dengan baik. Di hadapan peserta, Nana menampilkan berbagai media pendukung berupa video, poster dari kardus, contoh buku bertema kucing, buku bertema kafe, dokumentasi proses riset, hingga foto-foto hasil kunjungannya ke kafe kucing yang menjadi salah satu sumber inspirasi.

Melalui presentasinya, Nana menceritakan perjalanan riset yang dilakukan dalam beberapa tahap percobaan. Ia memulai dengan membuat contoh sederhana, kemudian melakukan kunjungan ke kafe kucing untuk mengumpulkan ide dan referensi. Dari pengalaman itu lahirlah buku bertema kafe kucing. Setelahnya, ia melanjutkan percobaan lain dengan membuat buku bertema kafe anjing yang dilengkapi berbagai tambahan dan penyempurnaan.

Selama proses riset, Nana belajar menggunakan beragam alat dan bahan. Ia juga menemukan berbagai teknik baru yang sebelumnya belum pernah ia kenal. Salah satu hal yang membuatnya terkesan adalah proses fotokopi, pemindaian, pencetakan, dan penggunaan kertas karbon untuk menjiplak gambar. Baginya, penemuan ini terasa seperti membuka pintu baru.

“Berarti aku bisa membuat dua buku sekaligus untuk aku dan Gatha, tanpa harus mulai dari awal lagi,” begitu kira-kira pemahaman yang ia dapatkan.

Penemuan sederhana tersebut menunjukkan bagaimana seorang anak mulai memahami konsep duplikasi karya. Bukan hanya membuat sesuatu, tetapi juga memikirkan cara memperbanyak hasil kerja dengan lebih efisien.

Di antara berbagai keterampilan yang dipelajari, menggambar suasana, konsep, dan tema menjadi bagian yang paling ia sukai. Kemampuan imajinasinya tampak menonjol ketika merancang dunia kecil yang akan dituangkan ke dalam paper book. Sebaliknya, bagian yang paling tidak disukainya adalah memotong bagian-bagian kecil.

Ketika ditanya oleh Puan tentang bagian yang paling tidak disukai selama proses pembuatan, Nana menjawab jujur bahwa ia tidak suka memotong potongan-potongan kecil karena jumlahnya sangat banyak dan setelah selesai ia masih harus membersihkan sisa-sisa guntingan yang berantakan.

Selain keterampilan membuat karya, presentasi ini juga memperlihatkan perkembangan kemampuan literasi Nana. Dibandingkan semester sebelumnya, kemampuan membacanya berkembang cukup pesat. Hal itu tampak dari video dokumentasi yang menunjukkan bagaimana ia mampu membaca dan menyampaikan informasi dengan lebih lancar. Meskipun terkadang masih bingung ketika harus menceritakan ulang urutan proses pembuatan yang cukup panjang dan kompleks, alur berpikirnya mulai terlihat lebih runtut.

Salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi Nana adalah manajemen waktu. Ia mengakui bahwa proses penyusunan materi presentasi sering kali dikerjakan hingga malam hari. Pada suatu malam ketika harus menulis papan presentasi, rasa kantuk membuat tulisannya menjadi tidak beraturan. Di bagian akhir, Mama membantu menuliskan contoh dengan pensil agar Nana dapat menebalkannya menggunakan spidol.

Namun justru di situlah terlihat proses belajar yang sesungguhnya. Nana mulai memahami bahwa sebuah karya membutuhkan perencanaan, pengaturan waktu, dan ketekunan yang tidak selalu mudah dijalani.

Momen yang paling berkesan selama presentasi terjadi pada awal kegiatan. Rasa gugup yang sempat membuatnya gelisah perlahan menghilang setelah ia mulai berbicara. Sedikit demi sedikit Nana berhasil menaklukkan rasa malu, khawatir, dan takut yang muncul sebelum tampil di depan banyak orang. Setelah menemukan ritmenya, ia mampu menjelaskan hasil riset dengan lebih lancar dan percaya diri.

Ada pula momen yang membuat seluruh ruangan tersenyum. Tiba-tiba Arka berseru, “Kinan cantik!” Mendengar itu, wajah Nana langsung memerah dan ia tertawa keras bersama teman-temannya. Suasana yang semula serius seketika berubah hangat dan penuh keceriaan.

Sepanjang proses riset, Nana tidak berjalan sendirian. Orang tua mendampingi sejak pencarian bahan, pelaksanaan eksperimen, hingga persiapan presentasi. Fasilitator membantu mengarahkan proses berpikir dan memberikan dorongan saat menghadapi kesulitan. Teman-teman hadir sebagai pendengar sekaligus pemberi dukungan melalui pertanyaan dan perhatian mereka. Mbak Rika sebagai narasumber juga meluangkan waktu untuk hadir dan memberikan semangat secara langsung.

Melalui riset ini, Nana tidak hanya belajar membuat paper book. Ia belajar memahami konsep-konsep baru yang lebih kompleks, mengenal teknologi sederhana untuk menggandakan karya, melatih keberanian berbicara di depan umum, serta belajar mengakui bahwa ada bagian-bagian yang masih membutuhkan bantuan orang lain.

Yang menarik, ketika refleksi dilakukan, Nana mengaku masih sangat menyukai riset yang berkaitan dengan makanan. Namun belakangan ia juga mulai menemukan kegemaran baru: mengarang lagu sambil memainkan ukulele. Bahkan ia sudah memiliki keinginan untuk menjadikan kegiatan mencipta lagu sebagai tema riset berikutnya saat memasuki kelas tiga.

Dari lembar demi lembar kertas yang disusun menjadi sebuah buku, Nana sedang belajar menyusun sesuatu yang jauh lebih besar. Ia sedang menyusun keberanian, kemandirian, kreativitas, dan kepercayaan diri. Seperti paper book yang dapat dibuka dan menampilkan dunia kecil di dalamnya, setiap proses belajar yang ia jalani perlahan membuka dunia baru yang sebelumnya belum pernah ia kenal.[]

Dari Notulensi: Mama Sari

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *