Suasana Ruang Togog pada Kamis pagi, 21 Mei 2026, terasa hangat dan penuh semangat. Teman-teman kelas 2 SD SALAM bersama para orang tua hadir untuk menyaksikan presentasi riset Sadajiwa Nyanyian Desa. Meskipun acara dimulai sedikit lebih lambat dari jadwal, antusiasme peserta tidak surut. Semua tampak siap mendengarkan cerita Sada tentang perjalanan risetnya yang berjudul Membuat Mainan dari Kardus.
Sejak awal presentasi, Sada tampil dengan santai dan percaya diri. Ia mampu menjelaskan hasil risetnya secara runtut dan jelas. Fokus riset yang dipilihnya adalah membuat topeng dari kardus bekas. Dengan penuh semangat, Sada memperlihatkan foto-foto proses pembuatan yang telah ia lakukan serta menjelaskan bahan-bahan dan langkah-langkah yang digunakan untuk membuat topeng tersebut.
Dalam pemaparannya, Sada bercerita bahwa sebagian besar proses pembuatan topeng ia kerjakan sendiri. Hanya pada beberapa bagian tertentu yang membutuhkan ketelitian dan alat yang lebih berisiko, seperti memotong bagian kecil menggunakan cutter, ia meminta bantuan ayahnya. Salah satu karya yang paling menarik adalah topeng yang terinspirasi dari tokoh anime Chainsaw Man. Topeng itu dibuat berdasarkan ketertarikannya pada cerita yang pernah ia lihat dan menjadi salah satu hasil karya yang paling ia banggakan.
Selain menghasilkan topeng, proses riset ini juga membawa Sada pada berbagai penemuan kecil yang penting. Ia menemukan cara agar topeng yang dibuat lebih kokoh, yaitu dengan menggunakan pola ganda atau double pola. Pengetahuan ini tidak ia dapatkan dari orang lain, melainkan dari hasil mencoba dan mengamati sendiri selama proses pembuatan berlangsung.
Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika Bu Nining menanyakan kesulitan yang pernah dihadapi selama mengerjakan riset. Dengan jujur dan apa adanya, Sada menjawab bahwa ia sering mengalami kesulitan saat membuat detail-detail kecil pada topeng. Biasanya ia meminta bantuan ayahnya, tetapi tidak selalu mendapatkan bantuan yang diharapkan. Sambil bercerita, ia mengatakan bahwa kadang ayahnya tidak mau membantu meskipun sedang tidak melakukan apa-apa. Namun justru dari situ Sada belajar mencari solusi sendiri hingga akhirnya menemukan cara untuk menyelesaikan pekerjaannya tanpa bergantung pada orang lain.
Kemampuan Sada juga terlihat dalam sesi tanya jawab. Ia mampu menjawab berbagai pertanyaan dari teman-teman, orang tua, maupun fasilitator dengan baik. Jawaban-jawabannya menunjukkan bahwa ia benar-benar memahami proses yang telah dijalani, bukan sekadar menghafal materi presentasi.
Refleksi yang menarik muncul ketika ayahnya bertanya apakah Sada pernah terluka saat menggunakan cutter. Dengan santai Sada menjawab bahwa ia pernah terkena cutter sebanyak tiga kali. Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia terus berlatih hingga semakin mahir menggunakan alat tersebut. Pengalaman ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu berjalan mulus, tetapi membutuhkan keberanian untuk mencoba kembali setelah mengalami kegagalan atau kesalahan.
Dari keseluruhan presentasi, terlihat bahwa Sada tidak hanya belajar membuat topeng dari kardus. Ia juga belajar tentang kemandirian, ketekunan, dan keberanian mencari jalan keluar ketika bantuan yang diharapkan tidak selalu tersedia. Sikap santai, percaya diri, dan penguasaan materi yang ditunjukkannya selama presentasi memperlihatkan bahwa ia menikmati proses riset yang dijalani sepanjang semester ini.
Melalui topeng-topeng kardus yang dibuatnya, Sada membuktikan bahwa sebuah karya sederhana dapat menjadi ruang belajar yang kaya. Dari setiap potongan kardus, setiap kesalahan saat menggunakan cutter, hingga setiap ide yang muncul dari imajinasi, tumbuh kemampuan untuk berpikir, mencoba, dan menemukan solusi secara mandiri. Itulah pembelajaran yang sesungguhnya.[]
Dari Notulensi: Tinita
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply