karya anak salam

Rakkai dan Rubik yang Mensyaratkan Ketekunan

Pagi itu, Rabu, 13 Mei 2026, ruang Togog Mbilung perlahan mulai dipenuhi suara anak-anak, fasilitator, orang tua, dan beberapa tamu dari sekolah Akar Rumput. Matahari pagi terasa cerah, tetapi di sudut depan ruangan tampak seorang anak duduk bersandar di dinding dengan wajah sedikit tegang. Ia adalah Anglia Rakkai Narantaka, atau yang akrab dipanggil Rakkai. Hari itu adalah giliran Rakkai mempresentasikan hasil risetnya yang berjudul “Ceritaku Belajar Rubik.”

Presentasi dimulai pukul sembilan pagi. Setelah Naka membuka sesi pertama, tibalah giliran Rakkai maju ke depan. Dengan tenang ia membuka slide presentasinya yang terpampang di layar. Rakkai membacakan isi PPT sambil duduk santai di kursi. Suaranya memang belum terlalu keras dan jelas, tetapi layar presentasi membantu para hadirin mengikuti isi yang disampaikan.

Meski terlihat sederhana, riset yang dibawakan Rakkai sebenarnya menyimpan cerita tentang ketekunan dan rasa ingin tahu yang besar. Rakkai memilih rubik sebagai tema riset karena ia merasa permainan itu menantang. Sejak kelas 4 SD ia mulai menyukai rubik dan penasaran bagaimana cara menyelesaikannya. Dari rasa penasaran itulah perjalanan belajarnya dimulai.

Untuk mendalami risetnya, Rakkai membeli tujuh jenis rubik menggunakan uang tabungannya sendiri. Ia meminta bantuan Mimbok untuk membelikannya melalui toko daring. Namun Rakkai tidak membeli semuanya sekaligus. Ia membeli satu rubik terlebih dahulu, mempelajarinya sampai bisa, lalu baru membeli jenis berikutnya. Cara itu membuat proses belajarnya terasa bertahap dan penuh kesungguhan.

Rakkai belajar menyelesaikan rubik dengan melihat video di YouTube. Setelah mengetahui rumus-rumusnya, ia menghafalkannya sambil terus berlatih memainkan rubik. Ketika mulai hafal, ia memasang timer untuk mengukur kecepatannya. Ia mencatat waktu pertama dan waktu tercepatnya sebagai bahan evaluasi diri. Dari situlah ia belajar bahwa kemampuan tidak datang secara instan, tetapi melalui latihan yang berulang.

Bagian paling seru dalam presentasi hari itu adalah ketika Rakkai mempraktikkan langsung cara menyelesaikan lima jenis rubik yang dibawanya. Sebelum mulai, ia meminta para hadirin mengacak rubik-rubiknya terlebih dahulu. Dengan bantuan Aleta dan Ayya sebagai MC, timer pun dinyalakan.

Satu demi satu rubik berhasil diselesaikan dengan cepat. Namun ketika sampai pada rubik mirror, suasana berubah menegangkan. Rakkai membutuhkan waktu lebih lama dibanding sebelumnya. Wajahnya terlihat mulai tegang, mungkin sedikit panik. Beberapa hadirin mulai menggoda dan membuyarkan konsentrasinya. Meski demikian, Rakkai tetap berusaha fokus. Ia terus memutar rubik itu dengan penuh perhatian.

Beberapa saat kemudian, rubik mirror akhirnya berhasil terselesaikan. Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. Wajah Rakkai tampak sangat lega. Momen itu menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam presentasinya hari itu—sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana seseorang berusaha bertahan di tengah tekanan dan tetap menyelesaikan tantangan sampai akhir.

Keseruan belum berhenti. Setelah demonstrasi selesai, Rakkai menantang teman-temannya untuk battle rubik. Aslam dari kelas 3 maju untuk beradu cepat menyelesaikan rubik 3×3. Babak pertama dimenangkan Aslam, babak kedua berakhir bersamaan, dan babak ketiga dimenangkan Rakkai. Suasana ruangan menjadi sangat hidup. Anak-anak bersorak, tertawa, dan ikut merasakan semangat pertandingan kecil itu.

Dalam sesi tanya jawab, Rakkai cukup lancar menjawab pertanyaan yang diberikan. Pak Sea bertanya apakah rumus rubik itu dihafal atau dipahami. Dengan yakin Rakkai menjawab, “Dihafal dan dipahami.” Ketika ditanya apakah mungkin ditemukan rumus baru, Rakkai menjawab bahwa hal itu mungkin saja terjadi. Menurutnya, capaian utama dalam battle rubik adalah kecepatan.

Pak Sea juga sempat bertanya apakah penonton boleh mengganggu konsentrasi peserta ketika lomba rubik berlangsung. Dengan tegas Rakkai menjawab, “Nggak boleh!” Jawaban itu membuat semua tertawa karena sebelumnya Pak Sea memang sempat menggoda Rakkai saat praktik berlangsung, lalu beliau meminta maaf sambil bercanda.

Mba Farida kemudian bertanya tentang perasaan Rakkai ketika kalah dari Aslam di salah satu babak battle. Dengan santai Rakkai menjawab bahwa ia biasa saja dan tidak patah semangat. Dari jawaban sederhana itu terlihat bahwa Rakkai mulai belajar menerima kekalahan dengan sehat.

Selain belajar memainkan rubik, Rakkai juga mencari tahu sejarah rubik melalui internet. Ia bahkan mengakui bahwa sampai sekarang masih ada dua jenis rubik yang belum berhasil ia selesaikan, yaitu rubik 4×4 dan 5×5. Menurutnya, kedua rubik itu jauh lebih sulit karena rumusnya terlalu banyak dan rumit.

Presentasi Rakkai menunjukkan lebih dari sekadar kemampuan bermain rubik. Dari proses riset ini terlihat keberanian menghadapi tantangan, kejujuran mengakui hal yang belum bisa dilakukan, serta ketekunan untuk terus berlatih. Rakkai juga belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri, mulai dari menggunakan tabungan untuk membeli rubik, mempersiapkan bahan presentasi, hingga berlatih sampai hari presentasi tiba.

Meski demikian, perjalanan belajar Rakkai masih panjang. Dalam presentasinya, ia masih banyak membaca teks dari PPT sehingga suasana terasa kurang hidup. Suaranya juga belum cukup keras dan jelas. Selain itu, Rakkai belum sampai pada tahap menemukan cara atau rumusnya sendiri dalam menyelesaikan rubik.

Namun justru di situlah letak pentingnya proses belajar. Riset ini memperlihatkan bahwa ketika seorang anak belajar dari sesuatu yang benar-benar ia sukai, semangat dan ketekunannya tumbuh dengan alami. Rubik bagi Rakkai bukan sekadar permainan. Di balik putaran-putaran kecil itu, ada latihan kesabaran, logika, fokus, keberanian menghadapi tekanan, dan semangat untuk terus mencoba sampai berhasil.[]

Dari notulensi: Rina (mimbok)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *