Pagi itu, Selasa, 12 Mei 2026, Ruang Togog Bilung tampak lebih ramai dari biasanya. Anak-anak kelas 6 bercampur dengan adik-adik dari Sekar, beberapa orang tua, hingga mahasiswa PKL memenuhi ruang presentasi sejak pagi hari. Di tengah suasana yang cukup riuh itu, Raesha Abra Pradnyaresi — yang akrab dipanggil Rae — mendapat giliran pertama untuk mempresentasikan risetnya.
Sebagai pembuka, Rae berdiri di depan layar presentasi dengan wajah yang tampak siap meski sedikit grogi. Ia membuka presentasi dengan salam, lalu mulai berbicara dengan santai. Di hadapannya sudah siap laptop, layar proyektor, dan teman-teman yang membantu jalannya presentasi. Semua tampak sederhana, tetapi di balik kesederhanaan itu tersimpan perjalanan belajar yang tidak ringan bagi Rae.
Judul riset yang dipilih Rae terdengar sangat sederhana: Riset Soal. Namun justru di situlah tersimpan cerita tentang tekanan, tanggung jawab, kebingungan, dan proses mengenali diri sendiri.
Dalam presentasinya, Rae menggunakan media PPT yang ia buat sendiri. Ia memilih template dan layout presentasinya secara mandiri. Bahkan, ia mengunduh aplikasi Canva lewat ponselnya untuk mencari desain yang sesuai dengan keinginannya. Awalnya Rae mengaku bingung harus mulai menulis dari mana. Ia lalu berdiskusi dengan pendampingnya. Dari obrolan sederhana tentang hal-hal yang dekat dengan kesehariannya — terutama kesukaannya bermain game — Rae mulai menemukan cara menyusun pikirannya sendiri.
Sedikit demi sedikit, ia mulai menuliskan tujuan, tahapan, proses, hingga catatan akhir dari risetnya. Presentasi yang ditampilkan memang singkat, tetapi terasa jelas bahwa setiap slide merupakan hasil pikirannya sendiri. Rae tampak cukup lancar menjelaskan isi presentasi karena ia memahami apa yang ia tuliskan.
Tujuan utama riset ini adalah melatih dirinya menghadapi ujian dan mencoba memahami berbagai bentuk soal yang kemungkinan akan muncul. Untuk itu, Rae mencari contoh-contoh soal dari tahun sebelumnya, baik dari buku cetak maupun internet. Ia juga meminjam kumpulan buku soal untuk dipelajari. Namun sebenarnya, perjalanan riset Rae tidak sesederhana mengerjakan latihan soal.
Pada awal semester dua, Rae sempat ingin melanjutkan pola riset sebelumnya: memahami pelajaran berdasarkan kumpulan riset yang pernah ia buat sejak kelas 1 hingga kelas 5. Ia ingin belajar dari pemahaman yang tumbuh perlahan melalui pengalaman dan tema-tema yang dekat dengan hidupnya. Tetapi di tengah semester, arah itu berubah.
Waktu yang terasa pendek dan tekanan menghadapi ujian membuat Rae memilih jalan yang lebih praktis: langsung mengerjakan soal-soal yang datang dari sekolah maupun rumah tanpa sempat menelusuri kembali materi-materi sebelumnya. Pilihan itu sebenarnya dilakukan dengan sedikit terpaksa.
Di depan teman-temannya, Rae bahkan mengaku dengan jujur bahwa ia sering malas belajar soal. Ia baru benar-benar mengerjakan ketika mamanya mulai marah atau mengomel. Kalimat itu langsung menjadi salah satu momen paling diingat dalam presentasinya. “Kalau aku malas mengerjakan riset, solusinya adalah menyuruh mama marah dan mengomel baru aku akan segera mengerjakannya.”
Ucapan itu membuat suasana ruangan mencair. Banyak yang tertawa, tetapi di balik candaan itu tampak bagaimana Rae sedang berusaha memahami cara dirinya bekerja, cara ia termotivasi, dan bagaimana tekanan kadang menjadi pendorong yang tidak ia sukai tetapi tetap ia jalani.
Hal itu terasa berbeda dibanding semester sebelumnya. Saat meneliti tema-tema yang ia sukai seperti hewan dan makanan, Rae terlihat lebih menikmati proses belajar. Ia bisa menulis ulang materi dengan antusias dan mengerjakan soal berdasarkan rasa ingin tahunya sendiri. Sementara dalam riset soal kali ini, proses belajar terasa lebih berat karena dibayangi target ujian dan kekhawatiran tentang masa depan sekolahnya.
Memasuki sesi tanya jawab, Rae awalnya masih tampak santai dan percaya diri. Ia menjawab pertanyaan teman-teman, fasilitator, orang tua, dan tamu yang hadir dengan cukup cepat. Namun semakin banyak orang asing yang bertanya, ekspresi Rae perlahan berubah. Ia mulai tampak lelah dan sedikit kesal, seperti ingin segera mengakhiri sesi tersebut.
Beberapa pertanyaan yang muncul cukup dalam: bagaimana persiapannya menghadapi ujian, apa yang ia rasakan setelah mengerjakan soal, hingga bagaimana riset-risetnya sejak kelas 1 bisa dihubungkan dengan pelajaran seperti matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia.
Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya mengajak Rae melihat kembali perjalanan belajarnya selama bertahun-tahun. Mungkin bukan hal yang mudah bagi anak seusianya untuk langsung merangkai semua pengalaman itu menjadi jawaban yang utuh. Namun justru di situlah proses belajar Rae terlihat nyata.
Jika ditarik mundur sekitar tiga tahun sebelumnya, Rae dikenal sebagai anak yang pemalu, pendiam, suka menyendiri, bahkan sering enggan berangkat sekolah. Tetapi proses belajar di SALAM perlahan mengubah banyak hal. Ia mulai mampu berinteraksi dengan teman-teman dan fasilitator, menjadi lebih terbuka, lebih bersemangat, dan lebih bertanggung jawab.
Hal-hal kecil yang mungkin jarang diperhatikan justru menjadi tanda penting perkembangan dirinya. Rae termasuk anak yang tidak suka terlambat datang ke sekolah. Ia berusaha hadir tepat waktu meskipun di SALAM tidak ada hukuman bagi yang terlambat. Dalam presentasi kali ini pun ia menunjukkan tanggung jawab yang lebih besar: membuat desain presentasi sendiri, mengetik sendiri, hingga mengirimkan hasil PPT kepada mentornya tanpa bantuan orang lain.
Di rumah, orang tua Rae juga terus mendampingi prosesnya melalui diskusi-diskusi sederhana tentang pilihan hidup dan tanggung jawab. Terutama menjelang masa setelah lulus SD, Rae mulai sering memikirkan masa depannya. Karena ia berencana melanjutkan sekolah di luar SALAM, ia merasa lebih tertekan dibanding sebelumnya. Ia mulai membandingkan dirinya dengan anak-anak sekolah formal dan merasa tertinggal dalam hal belajar menghadapi ujian.
Padahal selama ini, baginya sekolah di SALAM terasa seperti bermain, bercanda, dan melakukan hal-hal yang ia sukai. Tema-tema riset tentang hewan dan makanan terasa dekat dengan hobinya memelihara hewan dan memasak. Yang terasa berat justru bagian menulis dan presentasi karena ia masih sering malu dan grogi.
Riset soal ini akhirnya bukan hanya tentang latihan ujian. Lebih dari itu, riset ini menjadi cermin tentang bagaimana Rae sedang belajar menghadapi tekanan, mengenali kelemahannya, memahami rasa malasnya, sekaligus perlahan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.
Mungkin yang paling penting dari semua proses ini bukanlah seberapa banyak soal yang berhasil ia kerjakan, melainkan keberaniannya untuk tetap berjalan di tengah kebingungan dan tekanan yang ia rasakan sendiri. Dan dari perjalanan itu, Rae sedang belajar bahwa tumbuh tidak selalu berarti menjadi sempurna, tetapi berani memahami diri sendiri sedikit demi sedikit.
Dari notulensi: Yeni
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply