Setiap riset memiliki tantangannya sendiri. Ada yang menuntut keberanian untuk mencoba hal baru, ada yang membutuhkan ketelitian dalam mengamati, dan ada pula yang mengharuskan seseorang bersabar menempuh proses yang panjang. Bagi Helena Leandra Ariendra Satwika, atau yang akrab dipanggil Arien, riset semester ini menghadirkan pelajaran tentang ketekunan, pengelolaan waktu, dan kesediaan untuk tetap berjalan meskipun target belum sepenuhnya tercapai.
Pada presentasi yang berlangsung di Studio Garasi pada 13 Mei 2026, Arien tampil sebagai presenter ketiga setelah Bara Cora dan Prames. Suasana presentasi berlangsung santai. Beberapa teman dari kelas 8 turut hadir, sementara teman-teman kelas 9 tidak seluruhnya bisa mengikuti kegiatan tersebut.
Sejak awal presentasi, Arien tampak sedikit gugup. Namun, perlahan ia berhasil mengendalikan rasa deg-degannya. Dengan bantuan presentasi PowerPoint yang telah dipersiapkan dengan baik, Arien menyampaikan proses risetnya secara runtut dan jelas. Setiap tahapan diceritakan dengan tenang, menunjukkan bahwa ia memahami perjalanan yang telah dijalaninya selama satu semester.
Tema riset yang dipilih Arien tidak sederhana. Ia berusaha membuat cerpen dengan Aksara Jawa melalui proses menerjemahkan cerita pendek ke dalam Bahasa Jawa. Di balik tema yang terlihat sederhana itu, tersimpan tantangan yang cukup besar. Salah satu kesulitan utama yang dihadapi Arien adalah keterbatasan kosakata Bahasa Jawa yang ia kuasai.
Kesulitan tersebut tidak membuatnya berhenti. Arien memilih mencari jalan keluar dengan berdiskusi dan meminta masukan kepada narasumbernya, Ibu Widhy. Dari proses tersebut, ia menemukan bahwa Bahasa Jawa memiliki kekayaan yang jauh lebih detail dan kompleks dibanding yang sebelumnya ia bayangkan. Banyak nuansa makna yang harus dipahami agar sebuah cerita dapat diterjemahkan dengan tepat.
Melalui pengalaman itu, Arien menyadari bahwa riset bahasa bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan secara tergesa-gesa. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan proses belajar yang berkelanjutan.
Sejak awal, Arien memiliki target yang cukup besar. Ia ingin hasil risetnya tidak berhenti pada proses penerjemahan semata, tetapi berkembang menjadi sebuah buku. Namun hingga presentasi berlangsung, target tersebut belum berhasil diwujudkan.
Saat menjelaskan bagian ini, suasana menjadi sedikit berbeda. Mata Arien tampak berkaca-kaca ketika berbicara tentang target buku yang belum tercapai. Momen itu menunjukkan betapa besar kesungguhan dan harapan yang ia letakkan pada risetnya. Kegagalan mencapai target bukanlah sesuatu yang mudah diterima, terlebih ketika seseorang telah menaruh banyak perhatian dan tenaga pada proses tersebut.
Namun justru pada titik itulah terlihat kedewasaan Arien. Ia tidak menutupi kenyataan bahwa targetnya belum tercapai. Ia mampu mengakui kondisi yang sebenarnya sambil tetap menunjukkan komitmen untuk melanjutkan pekerjaannya.
Dalam sesi tanya jawab, Ibu Ika memberikan apresiasi atas usaha Arien selama semester ini. Ia juga mengamati bahwa semangat Arien sempat mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, hal itu dapat dipahami karena tema riset yang dipilih memang tidak mudah dan membutuhkan proses panjang.
Sementara itu, Bu Indah mengapresiasi berbagai kegiatan positif yang diikuti Arien selama semester ini. Ia mengingatkan pentingnya mengatur waktu dan energi agar berbagai aktivitas yang dijalani tetap seimbang. Bu Indah juga menanyakan rencana Arien setelah lulus nanti.
Menjawab pertanyaan tersebut, Arien menjelaskan bahwa ia mulai mempelajari syarat dan ketentuan Seleksi Penerimaan Murid Baru SMA/SMK Negeri DIY. Ia juga sedang mempersiapkan berbagai dokumen yang perlu dilegalisasi sebagai bagian dari persiapan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Di luar capaian riset, perkembangan Arien juga terlihat dari kemandiriannya. Selama semester ini, ia tetap konsisten dengan tema riset yang dipilih. Ia belajar mengatur jadwal pengerjaan riset, membuat janji dengan narasumber, serta mengelola proses diskusi secara mandiri. Ketika presentasi berlangsung, Arien juga menunjukkan kemampuan komunikasi yang baik. Ia menjawab pertanyaan dengan rinci dan mampu menjelaskan proses berpikirnya secara jelas.
Dalam refleksinya, Arien mengakui bahwa ada masa-masa ketika ia menunda pekerjaan menerjemahkan ceritanya. Ia juga menyadari bahwa banyaknya kegiatan yang diikuti membuatnya harus belajar menentukan skala prioritas. Pengalaman ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana mengelola energi, membatasi distraksi, dan memberi ruang untuk beristirahat.
Salah satu evaluasi yang muncul adalah kebiasaan menghabiskan waktu untuk berselancar di media sosial ketika rasa malas datang. Dari pengalaman tersebut, Arien mulai memahami pentingnya membedakan waktu untuk beristirahat dan waktu untuk bekerja. Kadang-kadang, yang dibutuhkan bukan menambah aktivitas baru, melainkan mengurangi beberapa kegiatan agar fokus dapat kembali terjaga.
Meski demikian, satu hal yang tetap bertahan adalah mimpinya. Arien belum menyerah pada target membuat buku dari hasil risetnya. Target itu memang belum tercapai hari ini, tetapi belum berarti gagal. Justru melalui perjalanan yang tidak selalu mulus ini, Arien sedang belajar sesuatu yang lebih penting daripada sekadar menyelesaikan sebuah proyek: belajar bertahan pada cita-cita, sekaligus belajar mengenali batas dan kemampuan diri sendiri.
Barangkali, buku yang ia impikan memang belum lahir pada semester ini. Namun benih-benihnya sudah mulai tumbuh melalui keberanian untuk mencoba, kesediaan untuk belajar dari kesulitan, dan ketekunan untuk terus melangkah meskipun hasil akhirnya masih berada di depan sana.[]
Dari notulensi: Novi Eksi
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply