Penulis Pemula beserta Ilustratornya

Hari Salasa 21 Mei 2019, di ruang Limbuk Cangik (Taman Anak) sudah berkumpul anak-anak SMA, yang akan mempresentasikan hasil belajar dan kolaborasi mereka selama satu semester belajar di SALAM dalam bentuk pameran. Peserta yang akan presentasi hari ini ada 6 anak, 5 diantaranya merupakan siswa SMA (Imung, Rachel, Foni, Kenar, Sekar  dan yang lain merupakan siswa kelas 2 SMP (Devy). Dalam pameran ini terdapat 5 ilustrasi tokoh dari buku hasil kolaborasi, 1 buku popup (lebih menyerupai mading), brosur tentang cerita pendek dan dongeng serta alat peraga mengenai Augmented Reality (RA). Selain pameran hasil karya mereka, presentasi kali ini juga memberi kesempatan untuk anak-anak menceritakan suka dan duka selama menjalankan kolaborasi atau riset masing-masing.

Imung, Rachel & Devy. Foto Sisca Marindra

Untuk mempermudah, presentasi kali ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama Kolaborasi Imung dan Rachel, serta kolaborasi Devy dan Rachel—Berawal dari meriset tentang cabang ilmu psikologi perkembangan, Imung tertarik untuk membuat cerita pendek dan berkolaborasi dengan Rachel sebagai ilustratornya. Begitu juga dengan Devy, dari ketertarikannya dengan dunia sepak bola, Devy memutuskan mempelajari tentang menulis cerita pendek dan dongeng setelah mendapat masukan dari fasilitatornya. Setelah benar-benar memutuskan untuk menulis cerpen dan dongeng, Devy memilih untuk berkolaborasi bersama Rachel sebagai ilustrator karakter dongeng dan cerpennya.

Menjalankan kolaborasi, ternyata tidak semudah itu. Banyak pengorbanan yang mereka lakukan. Waktu istirahat kurang, dan banyak mengorbankan waktu bermain untuk tetap fokus menulis. Tidak sampai disitu, karena mereka juga pemula, ada hal-hal dalam dunia menulis yang harus mereka kuasai, misalnya tata letak tulisan, layout ilustrasi pada tulisan dan harus belajar mengusai beberapa aplikasi untuk editing.

Presentasi bukan sekadar bercerita di depan banyak orang, kita harus mempersiapkan agar setiap orang memahami presentasi yang kami paparkan, dan yang paling penting yakni bisa menikmati ketika proses kami presentasi.

Karena dukungan dari lingkungan sekolah, teman-teman dan keluarga, Devy, Imung dan Rachel bisa menyelesaikan proses menulis cerita pendek dan dongengnya dengan baik.  

Nampak menikmati dan antusias orang-orang yang mengikuti presentasi kami—dengan cerita proses suka-duka dalam menulis cerita pendek serta dongeng ini. Presentasinya berjalan dengan baik dan tidak sekadar mendengar, namun dapat menangkap makna dari setiap cerita dan proses peserta presentasi dan  bisa menjadi bahan belajar. Sebelum selesai dengan sesi pertama, ada pembacaan cerita Imung dan Devy, sesi tanya jawab dan kuis dari Imung yang menjadi penutup sesi pertama ini.  ***

Sekar, Kenar & Foni. Foto Sisca Marindra

Masih dengan tema presentasi anak-anak SMA, 21 Mei 2019, sesi kedua ada aku dan Kenar yang berkolaborasi menulis blog dan Sekar yang memperkenalkan Augmented Reality (RA) untuk para pendengar dan penonton. Dipandu oleh Mas Aji, sesi kedua dimulai setelah peserta presentasi sudah duduk di posisi masing-masing. Berangkat dari riset tentang Perkembangan anak, aku memutuskan untuk mencoba melatih menulis di blog. Lain denganku, Kenar sudah memiliki kesukaan menulis dari awal, namun kesukaan menulisnya mengarah ke menulis cerita fiksi.

Memiliki kesamaan suka membaca dan menulis, aku dan Kenar memutuskan untuk berkolaborasi menulis blog di semester ini. Blog tersebut kami presentasikan dalam bentuk buku popup yang dipamerkan bersama karya yang lain di ruangan presentasi. Menurutku dalam kerja tim, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain konsistensi, komunikasi, kerja sama dan kemauan (niat) tanpa terpaksa. Jika salah satu diantara hal-hal ini terlupakan, maka bisa dipastikan kerja tim akan berantakan—berkolaborasi tidak semudah membalikkan tangan. Harus bisa mengerti dengan perbedaan kondisi, apalagi dengan perbedaan karakter orang yang diajak kolaborasi.

Awalnya Kenar merasa menulis blog hanya sekadar menulis dan cocok dengan Kenar yang suka menulis cerita fiksi. Ternyata menulis blog berbeda dengan menulis cerita fiksi, karena menulis blog lebih ke kejadian nyata sedangkan menulis fiksi lebih mengarah ke imajinasi. Hal ini membuat Kenar merasa tidak nyambung dengan ketertarikannya menulis cerita fiksi sehingga menimbulkan rasa bosan dalam menulis blog. Karena merasa bosan, Kenar memutuskan untuk tidak melanjutkan menulis blog di semester berikutnya. Lain dengan Kenar, aku menyatakan jika ingin melanjutkan menulis blog dengan konten dari pengalamanku nanti di semester selanjutnya. Karena kurang komunikasi dan tidak konsisten dengan jadwal yang sudah dibuat, serta timbulnya rasa bosan, akhirnya kolaborasi tidak berjalan dengan cukup baik dan tidak memenuhi target.

Selain aku dan Kenar, ada Sekar yang menyampaikan presentasinya dengan metode Talk Show mengenai Augmented Reality (AR) atau teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi (wikipedia) yang baru dipelajari Sekar beberapa minggu ini. Sekar menjelaskan dan mempraktikan cara kerja ARnya untuk para penonton. “Ini sangat cocok untuk anak yang sedang dalam tahap belajar mengenal huruf dan membaca,” kata Sekar di sela-sela menjelaskan. Setelah selesai menjelaskan, Sekar mengajak penonton untuk sama-sama melihat cara kerja mainan yang dibuatnya tersebut.

Orang-orang yang hadir sangat bersemangat untuk menyaksikan, dan ikut berpartisipasi dalam sesi tanya jawab di akhir presentasi. Setelah selesai presentasi, masih bisa menikmati hasil karya yang dipamerkan di ruangan itu. []