Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyimpan kenangan. Di era media sosial, ingatan sering kali dibekukan dalam bentuk foto-foto instan yang disertai beberapa kalimat pendek, lalu dibagikan ke ruang digital. Beberapa tahun kemudian, kenangan itu mungkin muncul kembali sebagai pengingat otomatis. Namun bagi Banyumili R Harrimurti, siswa kelas 12 Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta, mengingat bukan sekadar menyimpan dokumentasi. Mengingat adalah sebuah proses merawat pengalaman hidup.
Selama dua belas tahun berproses di Salam, sejak pertama kali menjadi siswa sekolah dasar pada 2013 hingga kini berada di ambang kelulusan SMA, Banyu merasa perjalanan itu terlalu berharga untuk dibiarkan menghilang begitu saja. Ia memilih cara yang lebih personal dan mendalam: menyusun kembali serpihan-serpihan ingatan tersebut ke dalam karya seni lukis.
Melalui pameran refleksi yang ia gelar, Banyu menghadirkan sebuah jurnal visual tentang pertumbuhan dirinya. Bukan hanya tentang apa yang ia alami selama di Salam, melainkan juga tentang bagaimana seorang anak yang dahulu pendiam dan usil perlahan tumbuh menjadi remaja yang mampu memahami serta membaca dirinya sendiri dengan jujur.
Menerjemahkan perjalanan hidup selama dua belas tahun ke dalam bahasa visual tentu bukan pekerjaan sederhana. Sebelum kuas menyentuh kanvas, Banyu terlebih dahulu melakukan sebuah proses yang menyerupai penelitian terhadap memorinya sendiri. “Semua yang aku ingat, tak tulis di buku,” ungkapnya.
Ia mulai dengan menuliskan berbagai kenangan yang masih tersimpan dalam ingatan. Catatan-catatan itu mencakup pengalaman semasa SD, SMP, hingga SMA. Setelah itu, ia mengelompokkan setiap pengalaman ke dalam tema-tema tertentu seperti pertemanan, pelajaran, kegiatan, konflik, hingga berbagai perasaan yang pernah ia alami. Para fasilitator yang mendampinginya turut membantu mempertajam ingatan tersebut dengan mengingatkan kembali nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan di Salam: menjaga diri, menjaga teman, dan menjaga lingkungan.
Tantangan terbesar dalam proses ini ternyata bukan melukis, melainkan melawan lupa. Ada banyak kenangan yang mulai kabur, bahkan sebagian catatan yang pernah dibuat sudah tidak lagi tersimpan. Untuk menghidupkan kembali ingatan yang memudar itu, Banyu memiliki cara yang sederhana namun sangat bermakna. Ia berjalan pulang menuju tempat-tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia mengunjungi kembali ruang-ruang yang menyimpan jejak masa lalu, berbincang dengan fasilitator-fasilitator yang pernah mendampinginya, termasuk Bu Wiwin, hingga perlahan suasana dan rasa yang pernah hadir kembali muncul dalam ingatannya. Dari situlah sketsa-sketsa lahir, sebelum akhirnya berkembang menjadi lukisan yang utuh.
Di antara banyak karya yang dipamerkan, terdapat empat lukisan yang menjadi poros utama refleksi perjalanan hidupnya. Karya pertama berjudul Sesambutlah. Lukisan ini menampilkan tiga anak yang duduk di pematang sawah sambil memandangi matahari terbenam di kejauhan. Bagi Banyu, karya tersebut merekam momen transisi yang sedang ia alami menjelang kelulusan. Masa ketika teman-teman yang dahulu selalu bersama mulai menempuh jalan hidupnya masing-masing. “Karya ini diambil dari sebuah foto yang masih tersimpan,” ujarnya.
Lukisan kedua berjudul Berlayar. Karya ini merupakan interpretasi imajinatif Banyu tentang Salam. Ia menghadirkan berbagai objek yang sangat identik dengan kehidupan di sana, terutama meja biru yang sering berpindah-pindah tempat. Kadang meja itu berada di ruang kelas, kadang muncul dalam berbagai kegiatan, bahkan hadir di Pasar Senin Legi. Dipadukan dengan balon warna-warni dan suasana yang sengaja dibuat sedikit kabur, karya ini menggambarkan sifat nostalgia yang tidak pernah benar-benar utuh dan teratur. “Ini paling sulit dieksekusi secara konsep,” kenangnya.
Perjalanan hidup tentu tidak selalu dipenuhi kenangan menyenangkan. Melalui karya Serpihan Debu, Banyu merekam masa pandemi Covid-19 yang pernah mengubah kehidupan banyak orang. Lukisan tersebut menjadi catatan sunyi tentang masa ketika pertemuan dan kebersamaan harus dibatasi oleh jarak. Bagi seorang anak yang sedang bertumbuh, kerinduan untuk bermain dan bertemu teman-teman menjadi pengalaman yang sangat membekas.
Sementara itu, karya The Last Paper menjadi penutup dari rangkaian refleksi tersebut. Lukisan ini menangkap dinamika kehidupan masa SMA dengan segala keramaiannya. Di dalamnya terdapat kenangan tentang membolos, bermain bersama teman-teman, melakukan hal-hal spontan yang kadang berlebihan, namun justru menjadi bagian yang paling dirindukan ketika masa itu mulai berakhir.
Menariknya, dari seluruh karya yang dibuat, hampir tidak ada satu pun yang secara khusus menampilkan berbagai riset yang pernah dilakukan Banyu selama belajar di Salam. Padahal, bagi warga Salam, riset merupakan bagian yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Aku memang ingin menangkap kehidupan dan keseharian di Salam. Tapi tanpa disadari, sebenarnya kita itu selalu dalam riset,” katanya. Bagi Banyu, riset telah melebur menjadi bagian alami dari cara hidup. Ia hadir dalam keseharian, dalam cara bertanya, mengamati, mencoba, dan memahami dunia. Karena itu, riset tidak lagi perlu ditampilkan secara eksplisit dalam setiap karya.
Refleksi tersebut juga membawanya pada pemahaman tentang esensi Salam yang sesungguhnya. Menurutnya, kekuatan Salam justru terletak pada kesederhanaan yang nyaman dan suasana pertemanan yang sehat. Di sana, konflik tidak dipelihara terlalu lama. Jika ada pertengkaran hari ini, biasanya akan diselesaikan hari itu juga, lalu keesokan harinya mereka kembali bermain dan tertawa bersama. “Kalau Salam udah gak sederhana, kayaknya bukan Salam lagi,” komentarnya.
Perjalanan artistik Banyu sendiri terus berkembang. Pada tahun pertama SMA, ia masih banyak berkutat pada desain aplikatif seperti poster dan kaos. Memasuki kelas dua, ketertarikannya mulai bergeser ke seni lukis murni. Proses belajar yang lebih intensif, termasuk tempaan fisik dan mental di kelas menggambar L’Asry pada tahun terakhir, membantunya memperkuat kemampuan teknis sekaligus memperdalam cara berpikir konseptual dalam berkarya.
Kini, setelah menutup satu babak panjang dalam kehidupannya di Salam, sebuah gerbang baru telah menanti. Ketika ditanya apakah melukis akan menjadi jalan hidup yang sepenuhnya ia pilih di masa depan, Banyu menjawab dengan jujur bahwa ia belum seratus persen yakin. Namun ada satu keputusan yang sudah mantap ia ambil: melanjutkan pendidikan seni ke Institut Seni Indonesia (ISI).
Pada akhirnya, karya-karya Banyu memperlihatkan bahwa seni bukan sekadar keterampilan mengolah warna dan bentuk. Seni dapat menjadi ruang refleksi, tempat seseorang berdialog dengan dirinya sendiri. Melalui kanvas-kanvasnya, Banyu menunjukkan bahwa mengenang bukanlah aktivitas menoleh ke belakang semata, melainkan cara untuk memahami perjalanan yang telah dilalui, berdamai dengan masa lalu, serta menyiapkan langkah yang lebih mantap menuju masa depan.
Dua belas tahun di Salam mungkin telah berakhir sebagai sebuah fase pendidikan. Namun melalui lukisan-lukisan yang diciptakannya, perjalanan itu akan terus hidup, menjadi saksi tentang seorang anak yang tumbuh, belajar, bertanya, berteman, dan akhirnya menemukan dirinya sendiri.[]
Dari notulensi: Dewi & Andre
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply