Suasana Ruang Bagong pada pagi hari, 22 Mei 2026, terasa cukup ramai. Banyak orang hadir untuk menyaksikan presentasi riset anak-anak. Di tengah suasana itu, Alfred Da Fela, siswa kelas 10 SALAM, berdiri di depan peserta dengan sedikit rasa malu. Banyaknya perhatian yang tertuju kepadanya membuat ia tampak gugup. Namun, di balik kegugupan itu, Alfred tetap berusaha tampil percaya diri dan menyampaikan hasil risetnya dengan sebaik mungkin.
Riset yang dipilih Alfred cukup menarik: menulis cerpen. Bersama pendampingnya, Pak Aji, ia menjalani proses belajar yang tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga memperkenalkannya pada dunia imajinasi, alur cerita, dan ketekunan menyelesaikan sebuah karya.
Dalam presentasinya, Alfred menjelaskan bahwa tujuan riset ini adalah untuk memahami bagaimana sebuah cerita dibangun, mulai dari alur, tujuan penulisan, keterampilan yang diperlukan, hingga manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan menulis. Ia menyampaikan pengalamannya selama menjalani riset dengan jujur. Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah banyak cerita yang tidak pernah selesai. Ide-ide bermunculan di kepalanya, tetapi sering kali berhenti di tengah jalan sehingga akhir ceritanya menggantung.
Pengalaman tersebut membuat Alfred memahami bahwa menulis cerpen tidak sesederhana menuangkan imajinasi ke dalam kata-kata. Sebuah cerita membutuhkan waktu, kesabaran, dan alur yang tertata agar pembaca dapat mengikuti perjalanan cerita hingga akhir. Ia menyadari bahwa memiliki banyak imajinasi saja belum cukup jika tidak diimbangi dengan kemampuan menyusun cerita secara runtut.
Tantangan lain yang cukup penting adalah kebiasaannya yang belum menyukai membaca. Padahal, dalam dunia kepenulisan, membaca merupakan salah satu sumber utama untuk memperkaya wawasan, memperluas kosakata, dan mengenal berbagai gaya bercerita. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi salah satu pelajaran berharga dari riset yang dijalaninya.
Setelah presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi bedah karya bersama narasumber, Bu Butet. Berbagai tanggapan dan pertanyaan muncul dari peserta yang hadir. Bu Evi memberikan pesan yang sangat membekas. Ia mengingatkan Alfred agar tidak takut menulis dan tidak terlalu terpaku pada manfaat yang ingin disampaikan dalam sebuah cerita. Menurutnya, menulis membutuhkan keberanian untuk memulai dan membaca banyak referensi agar ide semakin berkembang.
Mbak Sumi mengajak Alfred untuk meninjau kembali target risetnya yang berencana menulis enam cerpen. Target tersebut perlu dicermati agar tetap realistis dan sesuai dengan proses belajar yang sedang dijalani. Sementara itu, Menik menanyakan apakah minat menulis memang berasal dari dirinya sendiri, mengingat Alfred mengaku tidak terlalu menyukai membaca. Dengan jujur Alfred menjawab bahwa awalnya ia tidak memiliki minat khusus dalam menulis. Namun, semakin lama menjalani riset, ia mulai menemukan ketertarikan dan kesenangan dalam kegiatan tersebut.
Bu Cahya kemudian memberikan saran agar Alfred mengikuti kelas yang berfokus pada minat menulis. Dengan lingkungan belajar yang lebih mendukung, kemampuan menulisnya dapat berkembang lebih jauh.
Di antara seluruh rangkaian acara, ada satu momen yang menjadi sorotan utama. Bu Evi memberikan sebuah buku kumpulan cerpen kepada Alfred. Hadiah sederhana itu ternyata memberikan dampak yang besar. Buku tersebut bukan sekadar kumpulan cerita, tetapi juga simbol dukungan dan kepercayaan bahwa Alfred mampu melanjutkan perjalanan menulisnya. Wajahnya tampak lebih bersemangat setelah menerima hadiah tersebut.
Presentasi hari itu berlangsung hangat karena banyaknya interaksi antara Alfred, teman-teman, orang tua, fasilitator, dan narasumber. Berbagai masukan yang diberikan tidak hanya menjadi bahan evaluasi, tetapi juga sumber motivasi untuk terus belajar. Dukungan yang hadir membuat proses presentasi terasa hidup dan penuh makna.
Dari riset ini, Alfred memperoleh pelajaran penting bahwa menulis dan membaca adalah dua hal yang saling berkaitan. Untuk menjadi penulis yang lebih baik, ia perlu memperluas kebiasaan membaca. Selain itu, ia juga belajar untuk lebih percaya diri, berani menyampaikan hasil karyanya, dan terbuka terhadap masukan dari orang lain.
Perjalanan Alfred dalam dunia menulis mungkin masih panjang. Ia masih harus belajar menyusun alur yang lebih rapi, menyelesaikan cerita hingga tuntas, dan memperkaya referensi melalui bacaan. Namun, langkah pertama telah dimulai. Dari seorang anak yang awalnya tidak memiliki minat khusus pada dunia kepenulisan, Alfred kini mulai menemukan ketertarikan baru. Dan mungkin, sebuah buku kumpulan cerpen yang diterimanya pagi itu akan menjadi awal dari lahirnya cerita-cerita baru yang kelak selesai menemukan jalannya.
Dari notulensi: Kiki
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply