karya anak salam

Aby dan Kura-Kura: Belajar Merawat, Belajar Bertanggung Jawab

Suasana Ruang Togog Bilung pagi itu terasa hangat dan penuh semangat. Pada Senin, 18 Mei 2026, empat anak dijadwalkan mempresentasikan hasil riset mereka di hadapan teman-teman, fasilitator, dan orang tua. Di antara mereka, Darren Abyasa Kurniawan—yang akrab dipanggil Aby—Kelas 4 SD SALAM mendapat giliran terakhir. Biasanya, menjadi peserta terakhir bisa menjadi tantangan tersendiri karena perhatian audiens mulai berkurang setelah mengikuti beberapa presentasi sebelumnya. Namun, kekhawatiran itu tidak terjadi hari itu.

Setelah sesi istirahat dan menikmati kudapan bersama, seluruh peserta kembali ke ruangan dengan energi yang segar. Ketika namanya dipanggil, Aby melangkah maju dengan penuh percaya diri. Ia menyapa teman-temannya dengan ramah, memperkenalkan diri, lalu menyebutkan judul risetnya, “Memelihara Kura-Kura (Part 2)”.

Riset yang dilakukan Aby kali ini merupakan kelanjutan dari riset semester sebelumnya. Pengalaman kehilangan kura-kura peliharaannya menjadi titik awal yang mendorongnya untuk belajar lebih serius. Pada semester pertama, kura-kura yang ia rawat mati karena diduga terserang penyakit. Peristiwa tersebut meninggalkan kesedihan sekaligus rasa penasaran dalam diri Aby. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana cara merawat kura-kura dengan lebih baik agar kejadian serupa tidak terulang.

Berbeda dengan semester sebelumnya yang menggunakan poster sebagai media presentasi, kali ini Aby memilih menggunakan presentasi PowerPoint. Menurutnya, media tersebut lebih sederhana dan mudah digunakan. Menariknya, sebagian besar materi, susunan slide, hingga pemilihan foto dikerjakan sendiri oleh Aby dengan sedikit arahan dari Om Prima. Kesepakatan untuk lebih mandiri dalam menyusun presentasi menjadi tantangan sekaligus kesempatan baginya untuk belajar mengelola informasi secara lebih terstruktur.

Dalam proses risetnya, Aby terlebih dahulu mencari tahu penyebab kematian kura-kuranya. Dari berbagai informasi yang ia pelajari, ia menduga kura-kuranya mengalami pneumonia. Ia menjelaskan beberapa gejala yang ditemukan, seperti mata yang membengkak, nafsu makan yang menurun, serta kesulitan bernapas yang terlihat dari kebiasaan kura-kura membuka mulut saat bernapas dan mengeluarkan bunyi tertentu.

Untuk memperdalam pengetahuannya, Aby melakukan wawancara dengan beberapa narasumber. Narasumber pertama adalah Mas Fajar, seorang penjaga toko di Kedai Satwa. Dengan penuh rasa ingin tahu, Aby menyiapkan sendiri berbagai pertanyaan yang ingin ia ajukan. Salah satunya mengenai seperti apa kandang yang baik agar kura-kura tetap sehat.

Mas Fajar menjelaskan bahwa kualitas air merupakan faktor yang sangat penting. Air harus bersih dan tidak mengandung kadar amonia yang tinggi. Selain itu, kura-kura juga perlu dijemur setiap hari selama sekitar sepuluh hingga lima belas menit agar mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Aby juga menanyakan mengenai makanan yang aman untuk kura-kura bayi. Dari wawancara tersebut ia mengetahui bahwa kura-kura dapat diberi pelet atau ikan kecil. Jika ingin memberikan daging ayam, daging tersebut harus direbus dan dipotong kecil-kecil terlebih dahulu. Penjelasan ini membuat Aby menyadari kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya.

“Nah, berarti yang kemarin kita salah memberi makan ayam mentah,” ungkapnya saat presentasi. Mas Fajar menjelaskan bahwa daging mentah berpotensi membawa bakteri yang dapat menyebabkan kura-kura muda lebih mudah terserang penyakit.

Rasa ingin tahu Aby belum berhenti sampai di situ. Ia kemudian meminta bantuan bundanya untuk menghubungi Mas Hanif, seorang narasumber yang pernah ditemuinya di Kampung Satwa. Permintaannya disambut baik, dan Aby kembali memperoleh kesempatan untuk berdiskusi tentang perawatan kura-kura.

Dari wawancara kedua ini, selain mendapatkan informasi yang memperkuat hasil wawancara sebelumnya, Aby juga menemukan beberapa istilah baru seperti habitat, predator, ekosistem, dan hewan invasif. Sesampainya di rumah, ia meminjam laptop pamannya untuk mencari arti istilah-istilah tersebut secara lebih mendalam. Kebiasaan mencari informasi tambahan ini menunjukkan tumbuhnya rasa ingin tahu dan kemandirian dalam proses belajarnya.

Sepanjang presentasi, karakter Aby yang ceria dan humoris tampak jelas. Ia menyampaikan materi dengan santai, sesekali diselingi candaan yang membuat suasana menjadi hidup. Kepercayaan dirinya terlihat karena ia benar-benar memahami materi yang dipresentasikan.

Salah satu momen yang paling mengundang tawa terjadi ketika Bu Ria bertanya tentang salah satu cara yang pernah dilakukan Aby untuk mengobati kura-kuranya yang mengalami pembengkakan mata. Aby menjelaskan bahwa ia pernah merendam kura-kuranya menggunakan jus wortel. Ketika ditanya dari mana ia memperoleh informasi tersebut, dengan mantap ia menjawab, “Dari TikTok, Tante.”

Jawaban spontan itu langsung disambut gelak tawa oleh seluruh ruangan. Meski demikian, Aby juga memahami bahwa kondisi kura-kuranya saat itu sudah cukup parah dan lokasi dokter hewan yang jauh membuat upaya penyelamatan tidak berhasil dilakukan.

Pada sesi tanya jawab, Aby menjawab pertanyaan teman-teman dan orang tua dengan jujur. Ketika mengetahui jawabannya, ia menjelaskan dengan yakin. Namun ketika belum mengetahui suatu informasi, ia mengakuinya dengan apa adanya. Misalnya saat ditanya mengenai pengobatan penyakit white spot pada kura-kura atau ketika Kalandra bertanya tentang tahun ditemukannya kura-kura Brazil. Aby mengakui bahwa ia pernah membaca sejarahnya, tetapi sudah lupa tahunnya. Keberanian untuk mengatakan “belum tahu” menjadi salah satu perkembangan penting dalam proses belajarnya.

Perjalanan riset semester ini juga didukung oleh banyak pihak. Aby mendapatkan hibah seekor kura-kura besar dari Taru yang kemudian menjadi objek pengamatannya. Orang tua berusaha menyediakan berbagai kebutuhan yang diperlukan selama riset berlangsung, mulai dari alat, bahan, hingga membantu menghubungkan narasumber. Para fasilitator kelas juga terus mendorong Aby untuk menggali informasi melalui kegiatan membaca, menulis, dan mencatat hasil pengamatannya.

Melalui riset ini, Aby belajar bahwa setiap kura-kura memiliki kondisi yang berbeda dan membutuhkan perhatian yang khusus. Ia mulai menyusun jadwal rutin untuk memberi makan, menjemur, bahkan mengajak kura-kuranya berjalan-jalan. Rasa tanggung jawab yang tumbuh terlihat dari kepeduliannya terhadap kondisi hewan peliharaannya serta kesungguhannya dalam mendokumentasikan berbagai informasi yang ia peroleh.

Orang tua Aby juga melihat perkembangan yang sangat positif. Jika sebelumnya tugas sering dikerjakan mendekati batas waktu, kali ini ia mulai mengerjakan presentasinya secara bertahap. Ia rajin mencatat informasi penting, melaporkan perkembangan risetnya, dan menyampaikan kebutuhan yang diperlukan selama proses belajar. Meski sempat tergoda untuk bermain gim bersama teman-temannya menjelang hari presentasi, Aby akhirnya mampu kembali fokus dan menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Riset tentang kura-kura ternyata bukan hanya mengajarkan Aby mengenai kesehatan dan perawatan hewan. Lebih dari itu, riset ini menjadi sarana untuk belajar bertanggung jawab, tekun mencari informasi, berani bertanya, serta jujur mengakui hal-hal yang belum diketahui. Dari seekor kura-kura, Aby belajar bahwa merawat kehidupan membutuhkan perhatian, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar dari pengalaman.

Dari Notulensi: Putri Nugraheni

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *