Mundur Untuk Terlontar

Social distancing akibat Pandemi Covid-19 berdampak besar bagi  pendidikan di Indonesia. Sekarang semua pembelajaran dilakukan secara online. Sehingga pelajar-pelajar tidak perlu berkumpul di sekolah untuk melakukan pembelajaran. Selain itu pemerintah juga memutuskan untuk meniadakan UN bagi SD, SMP, dan SMA. Mungkin bagi teman-teman yang bersekolah di sekolah formal social distancing menimbulkan perbedaan yang sangat berarti dalam keseharian mereka. Tidak sedikit teman-teman saya yang bersekolah di sekolah formal mengeluh. Mereka merasa pembelajaran secara online itu nggak masuk di otak mereka, mereka juga mengatakan lebih tidak produktif ketika belajar dari rumah. Lalu bagaimana dengan saya yang bersekolah di SMA eksperimental Sanggar Anak Alam (SALAM) dan pembelajarannya melalui riset?

Uji Coba Juga Belajar

Jujur sebenarnya program social distancing juga menyebabkan perbedaan dalam kegiatan sehari-hari saya dan juga riset yang saya lakukan. Salah satu dampak positif yang saya rasakan adalah saya memiliki banyak waktu untuk mencari ide produk. Jika sesuai jadwal riset yang sudah saya buat harusnya 2 minggu ini saya habiskan untuk membuat studio mini yang nantinya akan saya gunakan untuk memotret produk-produk saya. Namun karena adanya gerakan social distancing saya harus menunda membuat studio mini karena pasti akan memerlukan kegiatan keluar rumah yang lumayan sering. Selain itu mentor saya, Bu Gerna, juga meyarankan agar saya lebih fokus untuk mengembangkan produk, terutama dari limbah kain yang sudah saya gunakan untuk produksi tas. Menurut saya ide dari Bu Gerna patut dipertimbangkan. mengingat motto produk saya adalah tas ramah lingkungan, pengolahan limbah produk menjadi penting.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti jadwal riset saya dari membuat studio mini ke mengolah limbah produksi tas. Segera setelah itu saya memilah-milah kain bekas potongan produksi tas. Dari situ saya menggolongkan ternyata ada 2 macam perca yang saya punya. Untuk perca tipe 1 adalah perca yang tebal dan agak kasar potongan kainnya cenderung kecil-kecil. Sedangkan untuk perca tipe 2 adalah perca yang tipis dan lebih halus, potogan-potongan kainnya juga lebih lebar. Awal-awalnya saya bingung mau membuat apa, karena kalau dibuat pouch atau dompet akan memerlukan resleting sehingga bukan menjadi produk ramah lingkungan lagi jika begitu. Setelah mencari-cari ide, dan menimbang-nimbangnya selama beberapa hari, saya memutuskan untuk membuat  sepatu dan baju bayi/ batita. Untuk perca tipe 1 akan dibuat menjadi sepatu, sementara perca tipe 2 akan dibuat menjadi baju. Alasan saya memilih mengolah perca saya menjadi sepatu bayi dan baju bayi adalah potongan-potongan kain yang diperlukan kedua produk tersebut tidak lebar. Sehingga menurut saya cocok untuk mengolah perca menjadi sepatu bayi dan baju bayi. Karena sibuk mendesain, memotong pola, menjahit kadang saya bahkan tidak sempat memegang gawai, apalagi saat menjahit. Karena saat menjahit banyak sekali trial error yang saya alami. Bahkan sampai tadi siang, masih banyak bagian sepatu yang salah jahit.

Selain banyak hal positif yang saya rasakan dari social distancing ada pula dampak negatifnya. Salah satunya adalah rencana launching produk saya yang tertunda. Harusnya saya launching 3 model saya sekitar akhir Maret sampai awal April. Ada beberapa pertimbangan mengapa saya memilih untuk menunda launching produk. Pertama, banyak orang di PHK, dan banyak pula bisnis yang gulung tikar akibat pandemi ini. Sehingga banyak orang-orang yang mengalami kesusahan finansial.  Selain itu orang-orang cenderung menghabiskan uang mereka untuk membeli bahan-bahan pokok, dan produk-produk kesehatan, dan mengurangi belanja-belanja barang yang kurang mereka perlukan. Jika sampai saya launching produk-produk saya saat ini kemungkinan produk saya diterima masyarakat cukup rendah. Karena rencana launching tertunda, otomatis rencana saya untuk memproduksi produk saya dalam jumlah banyakpun ikut tertunda.

Selama proses riset di rumah ini otomatis fasilitator memantau riset yang yang saya lakukan melalui media sosial. Oleh sebab itu saya mendokumentasikan proses belajar saya dengan memotret. Jadi ketika saya mendesain sepatu saya foto, saat saya memecah pola juga saya foto. Sebenarnya sejak awal riset saya juga selalu mendokumentasikannya dengan foto, jadi tidak ada perbedaan untuk proses dokumentasi. Selain dokumentasi melalui foto saya juga terbiasa membuat sampel yang nantinya akan saya tunjukan secara langsung kepada fasilitator. Jadi untuk sampel mungkin akan saya tunjukan ketika bisa bertemu dengan fasilitator.

Tadi siang melalui kelas online yang disiarkan langsung via Instagram, Pak Toto Rahardjo, inisiator SALAM, menjelaskan ada beberapa tingkatan dalam proses pembelajaran, khususnya untuk kami siswa SMA Eksperimentasl SALAM. Tingkatan itu diantaranya tahap deklaratif, pembuktian, komulatif, serial dan paralel. Setelah melihat kembali riset saya, ternyata saya masih sampai tahap pembuktian. Karena saya sudah mencapai semua goal di awal riset. Namun saya juga memiliki goal lagi yaitu bisa menjual produk saya secara massal. Sehingga walaupun sekarang saya masih di tahap pembuktian, saya sudah memiliki rencana untuk ke tahap komulatif.

Memang benar social distancing sedikit menghambat riset saya. Tetapi saat social ditancing saya jadi lebih mengerti tentang produk yang nanti akan saya jual. Saya jadi lebih tahu seperti apa cara menangulangi limbah sehingga nanti ketika saya memperbanyak produksi tas, saya tidak akan pusing dengan limbah.  Dan jelas hal ini menambah nilai ramah lingkungan yang dimiliki produk saya. Ibaratnya social distancing membuat saya mundur beberapa langkah untuk kemudian melontarkan saya sejauh-jauhnya. []