(Tetap) Belajar Meski di Rumah

Ini adalah hari ke 8 keluarga Sanggar Anak Alam (SALAM) menjalani kesepakatan untuk tidak melakukan proses belajar bersama di sekolah, sebagai upaya menghambat penularan cepat wabah Covid-19. “Merumahkan” proses belajar anak bukan sesuatu yang asing bagi kami sebagai penganut paham sekolah keluarga. Yang asing adalah membuat keputusan tanpa sempat mendiskusikannya dengan anak-anak.

Cara Anak SALAM Belajar Mandiri

Ya, yang menjadi perdebatan alot pada perbincangan di grup WA fasilitator pada Sabtu, 14 Maret 2020 lalu bukan tentang “Bagaimana caranya melakukan proses belajar di rumah?” tetapi tentang “Kapan mulai dirumahkan?” Pertanyaan soal “kapan” ini terkait erat dengan kebutuhan kami untuk berdiskusi dengan anak-anak tentang pandemi yang setidaknya membutuhkan waktu satu hari. Kami punya budaya untuk selalu membicarakan peristiwa-peristiwa, mengungkap data, menganalisis, hingga membangun pengetahuan-pengetahuan baru melalui proses diskusi. Pengetahuan baru tersebutlah yang menjadi dasar membuat kesepakatan-kesepakatan baru, termasuk kesepakatan meniadakan proses belajar di sekolah.

“Bagaimana kalau Seninnya kita gunakan untuk berdiskusi dengan anak-anak dulu?”, demikian usul seorang fasilitator yang kemudian menuai diskusi antara setuju dan tidak setuju dengan alasan serta konsekuensi logisnya. Keputusan yang tampaknya sepihak akhirnya kami ambil dalam situasi yang mendesak. Kami harus mengurangi sesegera mungkin perjumpaan-perjumpaan orang dalam jumlah banyak untuk mengurangi laju penyebaran wabah. Implikasi dari pilihan tersebut adalah kami tidak sempat mendiskusikan peristiwa ini dengan anak-anak. Saya pribadi sempat kecewa, namun kemudian membawa saya kembali kepada perenungan “Bukankah ini sekolah keluarga? Bukankah diskusi-diskusi tersebut justru sangat mungkin dilakukan di dalam keluarga? Bukankah justru ini waktunya keluarga melakukan fungsinya sebagai tempat belajar pertama-tama dan utama? Lalu kenapa risau?” Ahhhh rupanya racun-racun tidak percaya itu masih saja ada dalam diri saya.

Di Rumah Saja

Mengapa proses meniadakan proses belajar di sekolah dan menggantinya dengan proses belajar bersama keluarga di rumah bukan sesuatu hal yang rumit bagi SALAM? Ya karena bagi kami semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Dalam kondisi biasa kami telah menjalani laku belajar dari peristiwa apa saja, di mana saja, dari siapa saja, dan kapanpun saja. Kami tak pernah menghamba pada sebuah kurikulum atau capaian kaku, tidak dikotak-kotakkan oleh mata pelajaran ini dan itu, tidak mengandalkan pada sebuah gedung tertentu, tidak bergantung pada guru, dan tidak terikat pada waktu. Karena sesungguhnya seluas itulah kesempatan belajar dan semerdeka itulah sifatnya.  

Belajar adalah persoalan menemukan, bukan menghafal dan mengerjakan soal. Maka tidak ada materi seragam yang saya berikan. Tidak ada juga capaian tunggal yang saya instruksikan. Masing-masing keluarga diberi kebebasan penuh untuk menetapkan tujuan masing-masing dan mengolah setiap peristiwa – yang terancang maupun yang tak terancang – untuk dijadikan bahan belajar bersama.

Bagaimana Memfasilitasinya?

“Libur panjang karena wabah” memang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebagai fasilitator saya perlu waktu untuk menemukan cara yang efektif agar bisa tetap berkontak dengan semua warga belajar kelas 5. Awalnya saya memulainya dengan sapaan di pagi hari dan memancing cerita masing-masing keluarga. Beberapa hari kemudian saya menambah cara baru untuk berkomunikasi langsung dengan anak di WA grup khusus milik mereka. Kami bersepakat untuk ngobrol di grup dengan durasi satu jam setiap malam pada jam yang ditentukan. Anak-anak saling bercerita, mengirim foto, video, atau rekaman suaranya. Kadang-kadang becanda, kirim pesan bertubi-tubi tanpa makna, hingga HP tua saya hang tiba-tiba.

Apa saja kegiatannya?

Saya tidak sepenuhnya tahu detail aktivitas sepanjang hari dari masing-masing mereka. Tapi setiap hari ada saja cerita mereka. Dari mulai mengasuh adik, main halma, monopoli, UNO, dan ular tangga, membersihkan rumah, merawat ayam, burung, dan lele, membersihkan gereja,  membuat masker dan hand sanitizer, mencoba resep kudapan dan minuman, menggambar peta tempat tinggal, peta sebaran virus corona, dan rancangan senjata antivirusnya, menjahit, mendesain baju boneka, mencoba belajar make up, memperluas risetnya dengan sesuatu yang kontekstual saat ini, dan sederet aktivitas kreatif lainnya.

Supaya sederet aktivitas ini terekam dan kelak bisa bermanfaat untuk proses belajar bersama, maka saya mendorong anak-anak untuk membuat jurnal setiap harinya. Tidak muluk-muluk, catatan sederhana saja dengan panduan 5W + 1H untuk setiap peristiwa yang dilihat, didengar, dirasa atau kegiatan yang dilakukan.  

Apa Dampaknya?

Hari ini sudah lebih dari seminggu kami tidak bertemu. Jangan tanyakan pada saya berapa nilai capaian belajar anak selama waktu itu. Bukan delapan, sembilan, atau sepuluh. Angka tidak akan cukup untuk menceritakannya. Berapa nilai yang harus saya berikan pada anak yang sepanjang tahun kemarin tidak punya gairah untuk menulis, namun secara mengejutkan berbicara kepada ibunya, “Mi, aku mau dibelikan diary buat nulis.”  Pada catatan pertamanya dia menulis rencana proyeknya selama dua minggu yaitu memasak satu masakan setiap hari dan akan mencatatnya dalam diary. Hari pertama dimulai dengan memasak cheese scrumbled egg dari resep chef Arnold yang ditontonnya di Youtube. Dia masih tekun menulis hingga hari ini, tanpa kuminta. Keinginan belajar yang muncul dari dalam diri ini tak ternilai dengan angka buat saya.

Berdiam diri di rumah selama berhari-hari tidaklah mudah bagi semua, terutama bagi anak-anak. Energi yang biasa mereka gunakan untuk bermain fisik seharian lalu mau dikemanakan? Di awal-awal “libur”, banyak orangtua yang bercerita betapa tak mudah membuat anak mau berdiam diri di rumah. Mereka menawar, “Boleh sepedaan nggak?” “Boleh main ke rumah teman nggak?” “Aku main ke sungai boleh nggak?” Ya, pada akhirnya anak-anak belajar tentang menahan dan mengendalikan diri. Belajar menerima dan menikmati apa yang sedang diharuskan selama dua pekan (dan barangkali bisa lebih panjang).

Mengatur jadwal secara mandiri adalah keterampilan yang banyak diasah sepanjang masa ini. Anak dan orangtua akan beradaptasi dari jadwal lama ke jadwal baru yang hampir sepenuhnya dilakukan di rumah. Berada seharian di rumah memberi tantangan tersendiri, karena godaan untuk rebah-rebahan saja jadi tinggi. Ketika tidak ada proses belajar bersama di sekolah, mengelola waktu sepenuhnya menjadi hak sekaligus kewajiban bagi anak dan keluarga di rumah. Mau bangun jam berapa, mengerjakan aktivitas apa, mau istirahat kapan, mau tak mau harus disusun ulang. Beberapa mengeluh kesulitan, tapi lagi-lagi itu hanya karena butuh adaptasi, makin hari anak-anak dan keluarga makin mampu menyusun jadwal secara mandiri

Hari pertama dan kedua masa pembatasan sosial terlewati dengan baik-baik saja. “Yah anggap saja sedang dikasih waktu untuk istirahat lebih banyak,” kata mereka. Tetapi persoalannya ini bukan liburan. Jadi memang tidak bisa bebas bersenang-senang. Sehingga pada hari ketiga dan keempat sudah mulai saya jumpai status, “Mamak mati gaya”, “Baterai bocah masih 70%, mamak sudah tak berdaya. Dikasih kegiatan apa lagi ya?”. Atau ada status yang dibuat anak, “Mulai bosan, hmmm ngapain ya?”, “Pingin sekolah, lebih enak sekolah”. Beradaptasi dalam situasi sulit ini tidak mudah. Anak-anak pasti lambat laun akan merasa bosan Tapi bukankah kebosanan merupakan bagian dari kehidupan juga? Maka kebosanan pun merupakan bagian dari proses belajar anak-anak. Beberapa orangtua langsung ingin turun tangan mengatasi rasa bosan pada anak-anak mereka. Tapi sesekali rasanya perlu untuk memberi ruang bagi anak merasakan kebosanannya secara sadar, tidak langsung mencari penawarnya. Merengek? Mungkin perlu untuk sedikit tega, karena nantinya orangtua tidak akan setiap saat bisa siaga ketika rasa bosan melanda mereka. Lambat laun mereka belajar merasakan kebosanan, menemukan ritmedan menghasilkan ide kreatif berikutnya. Setelah hari ketiga dan keempat, nyatanya anak-anak mampu untuk menghadirkan aktivitas-aktivitas baru yang seru.

Waktu-waktu ini rupanya juga mengajarkan seni berhenti. Berhenti berkejaran memenuhi keinginan dan menemukan banyak kebahagiaan di kedalaman. Mungkin kita mengalami banyak ‘kehilangan’, tetapi sesungguhnya dengan berhenti kita pun kembali ‘mendapatkan’. Kreatifitas muncul dari situasi, tempat, bahkan peralatan yang terbatas. Diskusi-diskusi ringan antar anggota keluarga untuk menentukan jadwal baru mulai hadir kembali. Orangtua kembali bermain dengan anak-anaknya. Bonding yang kuat antar anggota keluarga. Sederhana, tapi membuat satu sama lain merasa dihargai keberadaannya.

Maka sekali lagi, masa karantina mandiri ini justru menjadi kesempatan bagi semua warga belajar SALAM (anak, fasilitator, orangtua) untuk menguatkan prinsip-prinsip belajar yang sesungguhnya.  Ketika tidak harus ke sekolah maka anak sedang sebenar-benarnya mengalami pendidikan yang pertama dan terutama, di dalam keluarga. []