Suara riuh dari kegiatan Gelar Karya TA yang berlangsung di sekitar Ruang Togok sempat membuat suasana presentasi pagi itu cukup ramai. Proyektor yang digunakan untuk menampilkan materi pun sempat mengalami gangguan. Namun setelah diperbaiki, suasana perlahan menjadi lebih kondusif. Di tengah situasi tersebut, Bagas Pramudya Nugroho, siswa kelas 2 SD SALAM Semester 2, tampak tenang dan siap menyampaikan hasil risetnya yang berjudul “Mie Ayam Warna-Warni.”
Bagas membuka presentasi dengan menyapa para peserta yang hadir. Ia memanfaatkan berbagai media untuk membantu penjelasannya, mulai dari presentasi PowerPoint, foto-foto proses riset, video, tulisan hasil karyanya sendiri, hingga bahan-bahan dan contoh hasil percobaan yang dapat dilihat langsung oleh teman-teman dan para orang tua.
Sejak awal, Bagas menjelaskan alur risetnya secara runtut dan sistematis. Ia tampak sangat menguasai bagian proses pembuatan mie, meskipun sesekali masih ragu ketika harus menyebutkan beberapa nama bumbu masakan. Saat lupa, ia tidak malu untuk bertanya kepada Bu Esthi. Sikap jujur ini justru menunjukkan bahwa Bagas berani mengakui apa yang belum ia yakini.
Tujuan utama riset Bagas adalah membuat mie berwarna-warni dengan memanfaatkan bahan-bahan alami. Percobaan tersebut berhasil ia lakukan. Dalam prosesnya, ia belajar membaca, menulis, berhitung, sekaligus memahami hubungan antara bahan mentah dan hasil akhir yang dihasilkan. Bagas juga menemukan pengetahuan baru yang menarik mengenai arang bambu. Dari narasumbernya, Pak Dimas dari Kebon Taman Tirto, ia mengetahui bahwa arang bambu tidak hanya dapat memberikan warna hitam pada makanan, tetapi juga memiliki fungsi untuk membantu menetralisir racun. Bahkan ketika dicampurkan saat memasak nasi, warna nasi tidak berubah menjadi hitam.
Agar teman-temannya dapat merasakan langsung hasil penelitiannya, Bagas mengajak mereka menyentuh dan mengamati arang bambu. Mereka melihat bagaimana abu arang meninggalkan warna hitam pekat di kulit, tetapi tidak terlihat pada nasi yang dimasak bersama arang tersebut. Selain itu, Bagas juga mengajak peserta mengenali berbagai bumbu dapur dengan menggunakan indera penciuman dan perasa. Mereka membedakan butiran ketumbar dan merica, mencium aromanya, bahkan mencicipi beberapa bahan yang digunakan dalam pembuatan mie.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika Bagas menjelaskan fungsi berbagai bahan dan bumbu dengan lugas. Ia juga mampu menyebutkan beragam buah dan sayuran yang dapat digunakan sebagai pewarna alami makanan. Bagas terlihat sangat senang ketika dapat berbagi pengetahuan dengan teman-temannya, terutama saat mengajak mereka melakukan percobaan bersama dan mencicipi hasilnya. Suasana menjadi semakin hidup ketika beberapa peserta ikut mencoba berbagai bahan yang disediakan.
Dalam sesi tanya jawab, Bagas menjawab setiap pertanyaan dengan jujur dan percaya diri. Ketika Bu Wiwin bertanya apa yang membuatnya senang dari riset ini, Bagas menjawab bahwa ia tidak perlu membeli mie lagi karena bisa membuat sendiri mie yang lebih sehat. Saat Bu Ning bertanya pelajaran apa yang paling dilatih selama riset, Bagas menjelaskan bahwa proses ini mengajarkannya tentang kesabaran. Kepada Om Sea, ia menceritakan bahwa eksperimen arang bambu dilakukan bersama Pak Dimas di Kebon Taman Tirto. Sementara ketika Aksara bertanya mengapa mie buatannya begitu enak, Bagas menjelaskan bahwa resepnya berasal dari ibunya dan menggunakan pewarna alami dari buah serta sayuran yang kaya vitamin.
Keberhasilan riset ini tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Orang tua Bagas terlibat penuh dalam proses belajar, mulai dari menyiapkan bahan, mendampingi eksperimen bersama Pak Dimas, membantu persiapan presentasi, hingga menginisiasi kegiatan percobaan bersama di sekolah. Bu Nining sebagai fasilitator juga aktif mendampingi dan memancing pertanyaan yang membantu Bagas memperdalam pemahamannya. Teman-teman pun memberikan dukungan melalui perhatian, pertanyaan, serta keterlibatan mereka dalam berbagai percobaan yang dilakukan.
Dari keseluruhan proses, Bagas memperoleh banyak pembelajaran berharga. Ia belajar bersabar menunggu proses pembuatan mie hingga selesai. Ia memahami fungsi alat penggiling mie, mengenali rasa dan warna yang dihasilkan berbagai bahan alami, serta mampu mengajarkan kembali proses tersebut kepada orang lain. Yang tidak kalah penting, ia belajar untuk tidak mudah menyerah. Ketika percobaan menggunakan buah naga menghasilkan adonan yang terlalu lembek, Bagas tidak berhenti begitu saja. Ia terus menguleni adonan dengan menambahkan tepung hingga mendapatkan tekstur yang diinginkan.
Melalui riset ini, terlihat jelas bahwa Bagas bukan hanya belajar membuat mie warna-warni. Ia sedang belajar tentang ketekunan, keberanian mencoba, kejujuran dalam mengakui keterbatasan, dan kegigihan menghadapi kegagalan. Yang lebih membahagiakan, ia menikmati proses belajarnya dan menemukan kegembiraan ketika dapat berbagi pengetahuan kepada orang lain. Dari dapur kecil tempat ia bereksperimen, Bagas sedang menumbuhkan keterampilan hidup yang akan bermanfaat jauh melampaui semangkuk mie warna-warni yang berhasil ia buat.
Dari Notulensi: Bu Sari
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply