Pagi itu, Senin, 11 Mei 2026, Mikhael Andrew Umarhadi atau yang akrab dipanggil Mikha Kelas 1 SD SALAM datang ke Salam diantar oleh daddy dan mami, Mikha menjadi anak ketujuh yang tiba di lokasi Bulan Presentasi. Ia segera memilih sebuah meja di sudut lapangan dekat panggung, lalu dengan percaya diri menata hasil risetnya di atas meja.
Satu per satu cokelat buatannya dikeluarkan dan disusun rapi. Di sampingnya, terdapat buku riset yang berisi catatan proses belajar serta sebuah label harga yang ditulis sendiri oleh Mikha: Rp4.000 untuk setiap cokelat. Semua tampak siap menyambut para pengunjung.
Tepat pukul sembilan pagi, ketika sesi pameran dan penjualan dimulai, wajah Mikha semakin berseri. Banyak orang datang mengantre untuk membeli cokelat hasil karyanya. Ia melayani para pembeli dengan antusias, bahkan memberikan rekomendasi ketika ada yang bertanya cokelat mana yang paling enak. “Cokelat yang bulat enak sekali,” jawabnya mantap.
Ternyata rekomendasinya berhasil menarik perhatian. Tak lama kemudian, beberapa pembeli kembali datang untuk membeli cokelat berbentuk bulat tersebut. Dengan bangga Mikha menunjukkan foto-foto proses pembuatannya dan menjelaskan bahwa cokelat bulat membutuhkan waktu serta usaha yang lebih banyak dibandingkan bentuk lainnya.
Dalam proses menjual cokelat, Mikha tidak hanya belajar berbicara di depan orang lain, tetapi juga belajar berhitung secara nyata. Ketika harus memberikan kembalian sebesar Rp6.000 kepada pembeli, ia sempat berpikir sejenak. Setelah menemukan solusinya, ia memberikan tiga lembar uang Rp2.000. Sebuah latihan matematika sederhana yang hadir langsung dalam pengalaman sehari-hari.
Ide riset tentang cokelat ini berawal ketika Mikha berkunjung ke Jakarta. Saat itu ia melihat sebuah toko cokelat buatan tangan yang ramai dikunjungi pembeli. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam. Karena memang sangat menyukai cokelat, Mikha pun ingin mencoba membuat aneka cokelat sendiri.
Perjalanannya tidak selalu mudah. Ia melakukan empat kali percobaan dengan berbagai variasi rasa. Dari hasil uji coba bersama teman-temannya, rasa yang paling disukai adalah cokelat oreo, kacang-kacangan, dan kismis. Namun ada satu tantangan yang hingga kini belum berhasil ia taklukkan, yaitu membuat cokelat Dubai, varian favoritnya.
Meski demikian, kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Dengan sabar ia menunggu cokelat meleleh, menuangkannya ke cetakan, lalu menambahkan berbagai bahan pelengkap sesuai ide yang muncul di kepalanya. Setiap percobaan menjadi kesempatan baru untuk belajar dan memperbaiki hasil sebelumnya.
Salah satu momen yang paling mengesankan terjadi saat sesi tanya jawab. Ketika ditanya berapa uang yang diperolehnya dari hasil penjualan, Mikha sempat kebingungan membedakan antara dua ratus rupiah dan dua ratus ribu rupiah. Ia juga sempat lupa menyebutkan nama beberapa jenis kacang yang digunakan dalam cokelatnya.
Namun ketika Pak Bomo bertanya untuk apa uang hasil penjualannya akan digunakan, Mikha langsung menjawab dengan mantap dan tak terduga. “Mau beli sapi.” Jawaban spontan itu mengundang senyum dan tawa hangat dari para pendengar. Di balik kesederhanaannya, tersimpan sebuah impian yang besar dan jujur dari seorang anak kelas satu SD.
Dalam sesi refleksi, Mikha mengaku sangat senang karena semua cokelatnya laku keras. Ia merasa puas dengan hasil riset yang telah dijalankan. Ketika Bu Umi bertanya apakah ia puas dengan proses dan hasil belajarnya, Mikha menjawab singkat namun penuh keyakinan. “Puas.”
Perjalanan riset ini ternyata juga membawa dampak bagi orang-orang di sekitarnya. Beberapa kali Mikha membawa hasil percobaannya ke sekolah dan teman-temannya antusias mencicipi berbagai varian cokelat yang dibuatnya. Sementara itu, Bu Umi memberikan banyak catatan dan masukan yang memperkaya pengetahuan Mikha mengenai dunia cokelat.
Bagi keluarga, riset ini bukan hanya proses belajar bagi Mikha seorang. Mereka ikut mengenal lebih jauh tentang tanaman kakao, buah cokelat, proses pengolahan menjadi bubuk cokelat, hingga teknik pembuatan berbagai produk olahan cokelat. Semakin jauh mereka mendampingi Mikha, semakin banyak hal menarik yang ditemukan bersama.
Kini, meskipun cokelat Dubai impiannya belum berhasil dibuat, semangat Mikha justru semakin tumbuh. Ia ingin terus mencoba berbagai resep baru dan bahkan memiliki keinginan untuk membuat serta menjual cokelat saat liburan nanti.
Dari sepotong cokelat yang meleleh di dapur, Mikha belajar tentang kesabaran, kreativitas, keberanian menawarkan hasil karya, berhitung, dan bermimpi. Sebuah perjalanan sederhana yang menunjukkan bahwa riset anak bukan hanya tentang menemukan jawaban, tetapi juga tentang menemukan kepercayaan diri dan harapan untuk masa depan.
Dari notulensi: Lindy Ann Umarhadi
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply