karya anak salam

Arka, Tempe Tahu Bacem: Belajar Rasa dari Dapur Kecil

Suasana Ruang Bagong pada Senin pagi, 18 Mei 2026, terasa hangat dan penuh semangat. Saat teman-temannya sedang menyimak presentasi Aruna, Arka Abhinaya Wikala datang sedikit terlambat. Meski demikian, Arka dan ibunya tetap terlihat tenang. Ketika akhirnya tiba giliran Arka untuk maju, teman-teman sekelas menyambutnya dengan antusias.

Siswa kelas 2 SD SALAM yang akrab dipanggil Arka ini membawakan hasil risetnya yang berjudul “Buat Tempe dan Tahu Bacem.” Dengan didampingi fasilitator, Bu Wiwin, Arka membagikan pengalamannya mempelajari proses memasak salah satu makanan favoritnya.

Presentasi Arka diawali dengan sapaan kepada teman-teman. Ia kemudian menampilkan dokumentasi yang telah disiapkan bersama pendampingnya. Ada video saat berbelanja bahan, foto-foto proses memasak, hingga presentasi yang berisi tulisan dan rekaman suara Arka sendiri. Di papan presentasi, berbagai foto alat masak dan bahan-bahan ditata dengan rapi dan menarik sehingga memudahkan teman-teman memahami alur risetnya.

Sepanjang presentasi, Arka beberapa kali mendapatkan bantuan berupa pertanyaan pemantik agar lebih mudah menjelaskan. Namun demikian, ia terlihat memahami seluruh proses yang diceritakannya. Ketika selesai mempresentasikan hasil riset, raut wajahnya menunjukkan rasa senang dan bangga karena berhasil menyelesaikan tugas yang telah dikerjakan.

Tujuan riset Arka cukup sederhana tetapi sangat bermakna: membuat tempe dan tahu bacem yang rasanya enak dan bumbunya meresap dengan baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia memulai dari kegiatan berbelanja bahan-bahan yang diperlukan, menyiapkan bumbu, memasak, hingga mencicipi hasil akhirnya.

Dalam proses ini, kemampuan membaca, menulis, dan berhitung juga berkembang secara alami. Arka belajar membuat daftar belanja, mengenali berbagai bahan yang dibutuhkan, serta melakukan transaksi saat berbelanja. Saat menyusun papan presentasi, ia kembali berlatih menulis dan mengorganisasi informasi yang ingin disampaikan.

Yang menarik, Arka tidak hanya berhenti pada satu kali percobaan. Ia melakukan hingga empat kali percobaan untuk mendapatkan rasa yang sesuai harapannya. Dari pengalaman tersebut, ia menemukan bahwa cita rasa makanan sangat dipengaruhi oleh penggunaan bumbu. Dengan polos dan lucu ia menjelaskan bahwa bumbu diberikan “biar enak.” Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa Arka mulai memahami hubungan antara bahan, proses memasak, dan hasil rasa yang dihasilkan.

Sebagai bagian dari presentasinya, Arka juga menyiapkan sampel tempe bacem untuk dicicipi oleh para peserta yang hadir. Teman-teman dan orang dewasa dapat merasakan langsung hasil kerja kerasnya.

Pada sesi tanya jawab, Arka menjawab berbagai pertanyaan dengan santai. Ketika ditanya Sasi tentang bagian yang paling disukai, ia menjawab bahwa ia paling senang memotong tempe. Sebaliknya, kepada Puan ia mengaku kurang menyukai kegiatan memotong bawang merah karena membuat matanya perih. Saat Kirana bertanya mengapa memilih tema tersebut, Arka menjelaskan bahwa ia memang sangat menyukai tempe dan tahu bacem. Sementara ketika Bu Sari bertanya bagaimana cara membuat bumbu meresap, Arka menjelaskan bahwa bahan-bahan harus direbus. Ia juga bercerita bahwa pernah mengalami kegagalan karena rasanya kurang enak, sehingga ia harus mencoba lagi sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.

Dukungan dari keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan riset ini. Orang tua Arka mendampinginya sejak proses berbelanja, menyiapkan bahan, melakukan percobaan memasak, hingga menyiapkan presentasi. Bu Wiwin sebagai fasilitator juga aktif memberikan pendampingan, mengajukan pertanyaan pemantik, dan ikut mencicipi hasil percobaan. Sementara itu, teman-teman sekelas memberikan dukungan dengan menyimak dan mengajukan pertanyaan selama presentasi berlangsung.

Melalui riset ini, Arka belajar memahami sebuah proses secara utuh. Ia mengalami sendiri tahapan mulai dari berbelanja, menyiapkan bahan dan bumbu, memasak, menunggu hingga bumbu meresap, sampai akhirnya mencicipi hasilnya untuk menilai apakah rasanya sudah enak atau belum. Pengalaman berulang hingga empat kali percobaan mengajarkannya tentang ketekunan, kesabaran, dan pentingnya terus memperbaiki hasil ketika sesuatu belum sesuai harapan.

Yang paling mengesankan adalah sikap Arka selama presentasi. Ia tampak percaya diri dan santai, bahkan sesekali menikmati camilan saat menjawab pertanyaan. Di balik kesederhanaannya, terlihat tumbuh keberanian untuk berbicara di depan banyak orang serta kebanggaan terhadap hasil kerja yang telah dicapai. Bahkan, Arka mulai menunjukkan semangat kewirausahaan dengan antusias menyampaikan keinginannya untuk menjual hasil masakannya pada kegiatan pasaran.

Dari dapur kecil tempat ia belajar memasak, Arka tidak hanya menghasilkan tempe dan tahu bacem yang lezat. Ia juga sedang belajar tentang proses, ketekunan, keberanian mencoba kembali setelah gagal, serta kebanggaan atas hasil usaha yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Dari Notulensi: Bu Sari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *