Pagi itu suasana Ruang Bagong terasa hangat dan penuh semangat. Anak-anak kelas 2 SD bersiap bergantian mempresentasikan hasil riset mereka di hadapan teman-teman, fasilitator, dan para orang tua yang hadir. Di urutan ketiga, tibalah giliran Kinanti Putri Irawan, atau yang akrab dipanggil Kinan, untuk berbagi cerita tentang riset yang telah ia lakukan selama semester ini.
Sebelum maju ke depan, Kinan tampak sedikit gugup. Namun dukungan dari Ayah Nugi, Ibu Nini, teman-teman, dan para fasilitator membuatnya berani melangkah ke depan. Begitu mulai berbicara, rasa gugup itu perlahan menghilang. Dengan suara yang jelas dan wajah ceria, Kinan memperkenalkan diri lalu mulai bercerita tentang risetnya yang berjudul Membuat Pentol Kriwil.
Pilihan tema riset ini berangkat dari sesuatu yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Kinan sangat menyukai pentol kriwil yang sering dibuat oleh ibunya di rumah. Rasa penasaran untuk bisa membuat makanan favoritnya sendiri mendorongnya melakukan serangkaian percobaan. Dari dapur rumah, proses belajar itu pun dimulai.
Untuk mendukung presentasinya, Kinan membawa sebuah poster berisi foto-foto alat, bahan, proses pembuatan, hingga resep pentol kriwil yang berhasil ia susun setelah beberapa kali praktik. Foto-foto tersebut dilengkapi dengan keterangan singkat yang membantunya menjelaskan setiap tahap pembuatan. Sambil menunjuk gambar-gambar pada poster, Kinan menceritakan pengalamannya dengan lancar meskipun sesekali berbicara agak cepat karena semangat.
Dalam proses risetnya, Kinan melakukan tiga kali praktik membuat pentol kriwil. Perbedaan utama dari ketiga percobaan tersebut terletak pada jumlah air yang digunakan dalam adonan. Dari hasil pengamatannya, Kinan menyimpulkan bahwa pentol yang paling enak dihasilkan pada praktik kedua dan ketiga. Meskipun demikian, ia masih belum dapat menjelaskan secara rinci bagaimana pengaruh jumlah air terhadap tekstur atau rasa pentol yang dihasilkan. Justru dari ketidaktahuan itulah terlihat bahwa riset masih membuka ruang untuk eksplorasi lebih lanjut.
Tidak semua proses berjalan mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi Kinan adalah saat harus memotong daging ayam sebelum digiling menggunakan chopper. Bagi anak seusianya, pekerjaan itu membutuhkan keberanian dan keterampilan tersendiri. Namun Kinan berhasil melakukannya. Ia juga berani memasukkan adonan ke dalam air panas, sebuah tahapan yang membutuhkan kehati-hatian. Dari praktik demi praktik, keterampilannya terus berkembang.
Salah satu momen yang paling berkesan terjadi saat sesi tanya jawab. Ketika fasilitator mempersilakan peserta mengajukan pertanyaan, Arka, salah satu teman sekelasnya, mengacungkan tangan. Semua orang mengira ia akan mengajukan pertanyaan tentang pentol kriwil. Namun ketika mendapat kesempatan berbicara, Arka justru berkata singkat, “Kinan cantik.”
Seketika seluruh Ruang Bagong dipenuhi gelak tawa dan tepuk tangan. Kinan yang mendengar pernyataan itu langsung tertawa malu sambil menutupi wajahnya yang memerah. Suasana yang semula tegang berubah menjadi hangat dan penuh keceriaan.
Dalam sesi tanya jawab, Kinan menunjukkan penguasaan yang baik terhadap materi yang ia pelajari. Ia mampu menjelaskan fungsi minyak dalam adonan, cara mengetahui adonan sudah matang, serta alasan penggunaan air es saat proses penggilingan daging. Jawaban-jawabannya disampaikan dengan percaya diri dan jelas. Namun ketika mendapat pertanyaan mengenai pengaruh jumlah air dalam adonan, Kinan mengakui bahwa ia belum mengetahui jawabannya. Kejujuran tersebut menjadi salah satu kekuatan yang tampak dalam proses belajarnya. Ia tidak berusaha menebak atau mengarang jawaban, tetapi berani mengatakan bahwa ia belum tahu.
Sepanjang presentasi, dukungan dari lingkungan sekitar juga terasa kuat. Teman-temannya mendengarkan dengan antusias, bahkan beberapa di antaranya membantu memegang poster agar tetap terlihat oleh seluruh peserta. Fasilitator pun sigap membantu membangun suasana ketika Kinan terlihat sedikit gugup. Kehadiran orang tua dan komunitas belajar yang suportif membuat proses berbagi pengalaman menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
Dibandingkan semester-semester sebelumnya, perkembangan Kinan terlihat sangat jelas. Ia semakin mandiri dalam menjalankan riset, memahami apa yang perlu dipersiapkan, dan mampu melakukan praktik tanpa banyak bantuan dari narasumber. Yang paling menonjol adalah keberaniannya berbicara di depan banyak orang seorang diri. Ia tampil tanpa harus ditemani orang tua, menyampaikan hasil risetnya dengan jelas, ceria, dan penuh percaya diri.
Meski demikian, proses belajar tentu masih terus berlangsung. Semester ini Kinan sedang tidak terlalu tertarik menuliskan catatan riset secara rinci seperti sebelumnya. Akibatnya, ada beberapa informasi dan perkembangan yang tidak sempat terdokumentasikan. Namun hal tersebut tidak mengurangi pencapaian penting yang telah diraihnya. Dari dapur rumah hingga ruang presentasi, Kinan menunjukkan bahwa belajar bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan juga tentang keberanian mencoba, kejujuran mengakui keterbatasan, dan kemandirian yang tumbuh sedikit demi sedikit.
Melalui semangkuk pentol kriwil yang ia buat sendiri, Kinan tidak hanya belajar memasak. Ia juga belajar percaya pada kemampuannya, berani menghadapi tantangan, dan menemukan bahwa setiap percobaan adalah bagian penting dari perjalanan belajar.
Dari Notulensi: Nini
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply