Suasana Bulan Presentasi pada Rabu, 20 Mei 2026, terasa begitu meriah. Ruang Limbuk Cangik dipenuhi orang tua, fasilitator, keluarga, dan para penonton yang datang untuk menyaksikan berbagai karya anak-anak. Di tengah keramaian itu, Aruna Ahimsa Al Ghifary—Taman Anak SALAM tampil membawakan hasil risetnya yang berjudul “Buku Frozen.”
Dengan sapaan sederhana, “Halo,” kepada pembawa acara, Aruna membuka presentasinya. Dari awal hingga akhir, ia bercerita tentang karyanya melalui jawaban-jawaban yang diberikan saat menerima pertanyaan. Cara bercerita yang santai dan alami membuat presentasi terasa hangat sekaligus menyenangkan.
Karya yang dibawa Aruna berupa sebuah buku sederhana yang dibuat dari kardus. Pada kardus tersebut ditempel tujuh gambar bertema Frozen yang kemudian disatukan menjadi sebuah buku. Gambar-gambar itu diwarnai menggunakan berbagai media, mulai dari spidol, krayon, hingga glitter warna-warni. Setelah selesai diwarnai, gambar ditempel menggunakan lem dan selotip hingga menjadi satu kesatuan karya yang utuh.
Di balik karya sederhana tersebut tersimpan proses belajar yang cukup panjang. Selama pengerjaan, Aruna beberapa kali berganti pilihan gambar sebelum akhirnya mantap menggunakan tema Frozen. Tantangan lain muncul ketika proses pewarnaan dan pemberian glitter sudah selesai, tetapi ternyata hasilnya belum sesuai dengan yang diinginkan. Meski demikian, Aruna terus melanjutkan pekerjaannya hingga buku tersebut selesai dibuat.
Salah satu temuan menarik dari proses ini adalah perkembangan kemampuan menggambar Aruna. Jika sebelumnya gambar-gambarnya masih cenderung abstrak, kini ia sudah mampu membuat figur yang lebih jelas dan mudah dikenali. Karakter yang paling sering digambarnya adalah Elsa dan Anna dari film Frozen. Bahkan, Aruna mulai berani menciptakan karakter-karakter buatannya sendiri yang lebih lengkap dan detail.
Momen yang paling mengesankan terjadi saat sesi tanya jawab. Ketika ditanya mengapa memilih tema Frozen untuk gelar karyanya, Aruna menjawab dengan polos dan penuh keyakinan, “Karena ini make up, Aruna suka make up.”
Jawaban itu mengundang senyum dari banyak orang yang hadir. Ternyata, yang membuat Aruna tertarik pada Frozen bukan hanya tokohnya, tetapi juga warna-warna riasan yang digunakan karakter-karakter tersebut. Ia menyukai warna-warna cerah yang menurutnya indah dan menarik untuk digambar.
Ada pula kejadian yang sangat membanggakan bagi keluarga. Sebelum presentasi dimulai, Aruna justru meminta kesempatan untuk bercerita lebih dulu kepada pembawa acara. Bagi orang tuanya yang pernah mendampingi Aruna saat masih di Kelompok Bermain dan mengenalnya sebagai anak yang pemalu, keberanian ini merupakan sebuah lompatan besar. Keinginan untuk tampil lebih dahulu menunjukkan tumbuhnya rasa percaya diri yang selama ini perlahan berkembang dalam dirinya.
Dukungan yang diterima Aruna pada hari itu juga sangat istimewa. Ia ditemani oleh ibu dan kedua adiknya. Selain itu, mbah uti, budhe, serta dua kakak sepupunya turut hadir untuk menyaksikan langsung proses presentasinya. Dua sahabat dekatnya, Janice dan Michelle, juga berada di sampingnya saat ia bercerita tentang Buku Frozen. Kehadiran keluarga dan sahabat membuat suasana menjadi semakin hangat dan penuh semangat.
Perjalanan belajar Aruna selama satu tahun terakhir menunjukkan banyak perubahan yang menggembirakan. Menggambar dan mewarnai menjadi aktivitas yang sangat dekat dengan kesehariannya. Hampir setiap perjalanan pulang dari sekolah diisi dengan cerita tentang kegiatan menggambar yang dilakukan di kelas. Melalui gambar-gambar itu, orang tua dapat melihat apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan Aruna.
Menariknya, kegiatan menggambar juga tampak membantu Aruna dalam mengelola emosinya. Saat sedang asyik menggambar dan kedua adiknya mulai mengganggu, ia lebih mampu mengendalikan diri. Alih-alih marah, Aruna sering mencari solusi dengan memberikan kertas gambar lain kepada adiknya atau mengajak mereka melakukan aktivitas berbeda. Sikap seperti ini menunjukkan tumbuhnya kemampuan mengatur emosi dan menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih tenang.
Perubahan lain yang tidak kalah berkesan terjadi saat proses pembuatan gelar karya. Suatu ketika, lem tembak yang digunakan meleber dan menyebabkan sebagian gambar rusak serta mengelupas. Ketika ibunya bertanya apa yang akan dilakukan, Aruna menjawab santai, “Gak apa-apa, nanti bisa digambar sendiri aja bagian yang sobek.”
Jawaban sederhana itu menunjukkan sesuatu yang sangat penting: kemampuan menerima kesalahan dan mencari solusi. Alih-alih kecewa atau menyerah, Aruna memilih untuk memperbaiki dan melanjutkan pekerjaannya.
Melalui Buku Frozen, Aruna tidak hanya belajar tentang menggambar, mewarnai, dan membuat karya. Ia juga belajar tentang ketekunan, keberanian tampil di depan banyak orang, kemampuan mengelola emosi, serta cara menghadapi masalah dengan tenang. Perjalanan kecil ini menjadi bukti bahwa proses belajar anak sering kali tidak hanya terlihat pada hasil karya yang dipamerkan, tetapi juga pada perubahan-perubahan diri yang tumbuh perlahan dari hari ke hari.
Bagi keluarga, melihat perkembangan Aruna selama setahun terakhir merupakan pengalaman yang sangat menyentuh. Setiap langkah kecil yang ia capai menjadi pengingat bahwa tumbuh kembang anak adalah perjalanan yang penuh kejutan indah. Dan melalui Buku Frozen yang penuh warna itu, Aruna telah menunjukkan bahwa keberanian, kreativitas, dan kemandirian dapat tumbuh bersama, setahap demi setahap.
Dari Notulensi: Nurul Fatah Nugraheni
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply