Pagi itu, Senin, 11 Mei 2026, Lapangan Salam tampak lebih riuh dari biasanya. Di penghujung Semester 2 ini, aroma perayaan belajar menyeruak di udara. Di sudut lapangan, seorang anak kelas 1 SD bernama Louis Sang Pijar Nuswantara—yang akrab dipanggil Pijar—sedang sibuk dengan dunianya. Hari ini adalah puncak dari riset kecilnya yang bertajuk “Membuat Cendol Dawet Gula Aren”.
Berbeda dengan keriangan pasar Senin Legi yang biasa menggunakan uang Salam, kali ini Pijar punya ambisi yang lebih nyata: ia ingin berjualan dan mendapatkan uang yang sesungguhnya. Ketertarikannya pada cendol dawet bukan sekadar karena rasanya yang manis dan segar, melainkan karena sebuah rasa ingin tahu yang magis tentang bagaimana untaian cendol itu dicetak.
Pijar tiba sebagai salah satu dari dua peserta terakhir hari itu. Namun, keterlambatan tidak menyurutkan langkahnya. Sebelum peluit presentasi untuknya ditiup, lapaknya justru telah diserbu pembeli. Jari-jari kecilnya dengan cekatan meramu cendol, menuang santan gurih, dan mengucurkan manisnya gula aren. Ia belajar melayani, menghitung lembaran uang, bahkan memberikan kembalian secara mandiri. Ketika antrean mulai mengular, ia tak sungkan berseru meminta bantuan untuk mempercepat pembayaran.
Dagangannya laris manis hingga tak bersisa. Beruntung, sesuai kesepakatan awal dengan pendampingnya, Mas Budi S Gemak dan Mbak Audrey, Pijar menyisakan tepat satu gelas dawet. Sebotol kecil bukti sahih yang menjadi bahan presentasinya nanti.
Di balik segelas cendol yang segar, ada proses panjang yang telah dilalui Pijar di rumah. Ia telah melakukan lima kali percobaan dengan takaran komposisi yang berbeda-beda. Jalan riset tak selalu mulus; pada percobaan keempat, ia sempat menemui kegagalan karena keliru menghitung perbandingan bahan. Namun, dari sanalah ruang belajar itu terbuka. Pijar berkenalan dengan konsep berat, volume cairan, dan presisi. “Mengaduknya lama sekali, dan berat kalau sudah mulai mengental,” kisah Pijar saat menceritakan kesulitannya.
Melalui tungku api, Pijar menyaksikan sebuah metamorfosis fisik: bagaimana cairan yang encer perlahan berubah wujud menjadi padatan yang pekat karena panas. Di titik yang berat itu, ia belajar melintasi batas kuasanya dengan meminta bantuan orang tua. Namun, begitu adonan matang dan siap dicetak, di situlah kegembiraan terbesarnya membuncah. Menekan adonan hingga keluar menjadi butiran cendol adalah bagian yang paling ia sukai.
Saat tiba gilirannya maju ke depan, dipandu oleh Bu Umi selaku fasilitator dan Pak Bomo sebagai perwakilan orang tua, ada pertumbuhan sikap yang kentara pada diri Pijar. Dibandingkan dengan semester lalu, kali ini ia berdiri dengan kepercayaan diri yang lebih tegak. Meski kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya singkat, suaranya lewat mikrofon terdengar mantap.
Ada tawa kecil yang mewarnai sesi prapresentasi. Dibantu oleh Bu Yogka, seorang orang tua murid lainnya, Pijar menghitung lembaran uang hasil jualannya: Rp57.000,00!
Dengan mata berbinar, ia menyatakan uang itu akan diguakan seluruhnya untuk jajan. Di sinilah letak kepolosan anak kelas 1 SD; Pijar belum sepenuhnya menjamah konsep tentang “modal”. Ketika mamanya menagih uang modal untuk dikembalikan, Pijar menolak dengan tegas. Baginya, setiap rupiah yang masuk ke kantongnya hari itu adalah murni keuntungan dari keringatnya mengaduk adonan.
Ruang belajar di Salam bukan sekadar tentang hasil akhir yang manis, melainkan tentang jejak-jejak yang tertinggal. Di semester ini, Pijar telah melompat jauh dalam hal kemandirian, keberanian berbicara, serta pemahaman praktis matematika dan sains. Namun, sebagai catatan reflektif, Pijar masih memiliki tantangan dalam hal ketekunan mendokumentasikan proses belajarnya ke dalam buku tulisan. Ia masih perlu kerap diingatkan untuk mengikat ilmu lewat aksara.
Ketika sebuah pertanyaan pamungkas dilemparkan kepadanya mengenai rencana riset di semester berikutnya, Pijar terdiam sejenak. Dengan jujur ia mengaku belum memikirkannya. Ia menutup presentasinya hari itu dengan sebuah ruang terbuka: menanti rekomendasi dan lemparan ide tema riset dari orang-orang di sekitarnya. Pijar telah menuntaskan riset cendol dawetnya dengan manis, semanis gula aren yang diramunya di lapangan siang itu.
Melihat Pijar berdiri memegang mikrofon adalah melihat sebuah proses adaptasi yang indah. Ada lompatan kepercayaan diri yang besar dari semester lalu. Namun, dinamika “penolakan pengembalian modal” kepada mamanya memicu sebuah refleksi menarik: Bagaimana kita, sebagai pendamping, mengenalkan konsep nilai ekonomi dan perputaran modal kepada anak usia dini tanpa memberangus rasa bangga mereka atas jerih payahnya sendiri? Sebuah pertanyaan terbuka yang layak dibawa ke ruang-ruang diskusi selanjutnya.
Dari Notulensi: Budi S Gemak
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply