Senin pagi, 11 Mei 2026, Lapangan Salam tampak lebih ramai dari biasanya. Menyambut Gelar Karya Semester 2 anak-anak kelas 1 SD. Di antara kerumunan itu, tampak Kanyaka Misani Kalasuba—atau yang akrab disapa Anya—datang dengan langkah tergesa-gesa. Pagi itu ia tiba sangat tepat waktu, alias mepet. Sambil menggandeng kakaknya, Anya membawa poster riset dan sebakul nasi, sementara Mamanya harus berjuang mencari tempat parkir di tengah padatnya kendaraan.
Begitu Sang Mama datang membawa “Telur Pedas” yang menjadi bintang utama risetnya, senyum Anya langsung mengembang. Posternya sudah tertempel rapi di depan meja pajang. Meski sang kakak harus segera masuk ke kelasnya sendiri dan melepas gandengan tangannya, Anya sama sekali tidak tampak sedih atau keberatan. Ditemani oleh Bu Debby, fasilitator setianya, Anya duduk manis di kursinya. Matanya yang bulat berbinar-binar, mengamati sekeliling lapangan dengan penuh antusias dan rasa nyaman.
Sebelum gilirannya tiba, Anya memanfaatkan waktu untuk mengamati teman-temannya yang sedang mempresentasikan karya. Ia adalah tipe pembelajar yang jeli. Otaknya berputar, mencoba mengantisipasi jika pertanyaan yang sama dilemparkan kepadanya nanti. Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah jumlah pendapatan. Ya, dalam gelar karya kali ini, Anya memutuskan untuk menjual hasil risetnya.
Karena sempat beberapa kali lupa jumlah uang yang berhasil dikumpulkan, Anya dengan sigap meminta Mamanya menuliskan angka tersebut di secarik kertas. “Biar tidak lupa,” pikirnya.
Saat nama Anya dipanggil oleh pembawa acara, ia melangkah maju dengan senyuman manis. Di depan kamera ponsel Mama yang merekam dengan bangga, Anya menerima mikrofon. Tanpa ragu, ia memegang mikrofon itu sendiri dengan penuh percaya diri. Pertanyaan demi pertanyaan dari MC dijawabnya dengan penuh semangat, meski sesekali bumbu malu-malu khas anak kelas 1 SD tetap terlihat.
Tantangan kecil muncul karena poster risetnya tertempel di bagian depan bawah meja. Saat hendak menyebutkan bumbu-bumbu rahasianya, Anya sempat terlihat kesulitan mengintip posternya sendiri. Akibatnya, ia sempat lupa beberapa nama bumbu dan jenis kecap yang digunakannya. Namun, hal itu tidak melunturkan keceriaannya. Anya tetap menjawab sesi tanya jawab dengan jujur dan percaya diri, walau dalam presentasi lisan tersebut ia tidak sempat memaparkan tujuan, proses, maupun tantangan risetnya secara mendetail.
Momen kunci dari presentasi Anya justru terletak pada kejujurannya yang menggemaskan. Karena sudah berpengalaman jualan di Pasar Senin Legi sebelumnya, Anya sudah sangat fasih menyiapkan porsi nasi dan telur pedas untuk pembeli. Harga jual pun sudah di luar kepalanya.
Saat sesi tanya jawab bersama Bu Umi dan Pak Bomo (MC), sebuah dialog jenaka tercipta: “Apakah menggoreng telur itu susah, Anya?” tanya Pak Bomo. “Enggak, soalnya yang goreng Mama,” jawab Anya polos tanpa beban. Gelak tawa pun pecah di Lapangan Salam. Pak Bomo yang terhibur kembali memancing, “Lalu tugas Anya apa?” “Bikin jadi pedas!” jawab Anya penuh semangat.
Keunikan lain dari riset Anya adalah penggunaan kompor minyak tanah di rumahnya—sesuatu yang cukup langka di era sekarang. Ketika Bu Umi menceritakan hal ini, Pak Bomo kembali memastikan, “Anya bisa nyalain kompornya?” Dengan wajah datar dan nada santai, Anya menjawab, “Bisa.” Namun saat dikejar dengan pertanyaan di mana ia membeli minyak tanahnya, Anya hanya tersenyum dan menjawab, “Enggak tahu.”
Anya juga sempat tersipu malu dan tersenyum kecil saat Bu Umi memujinya di awal sesi, “Anya kaya princess.” Hari itu, Anya memang meminta kepada Mamanya untuk memakai dress kelinci favoritnya dan rambutnya dikuncir anggun layaknya seorang putri, bukan seragam sekolah biasa. Rasa percaya dirinya tumbuh mekar dengan caranya yang unik.
Sepanjang acara, Anya duduk di samping Mika dan Mikael. Anak-anak kelas 1 ini menunjukkan ikatan yang manis, saling mendukung satu sama lain. Di sela-sela gilirannya, Anya juga antusias mengintip karya teman-temannya. Ia bahkan berpesan kepada Mamanya dengan mata berbinar, “Nanti Anya mau beli ice cream-nya Pandu ya, Mah.” Dan begitu Mamanya tiba di lokasi, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Anya mau beli jeli cokelatnya Mika ya, Mah.”
Hari itu Anya hanya didampingi oleh Mama. Bopo (Ayahnya) sedang berada di lokasi kerja yang jauh dan belum bisa pulang ke Yogyakarta. Namun, jarak tidak mengurangi kehadiran Bopo. Melalui panggilan video (video call), Bopo selalu memantau dan mendengarkan setiap jengkal proses yang dilalui Anya.
Anya juga sangat beruntung dikelilingi oleh para fasilitator seperti Bu Debby yang membuatnya sangat nyaman. Setiap kali selesai sesi mentoring, Anya selalu pulang ke rumah dengan penuh semangat, memamerkan “tugas” dari Bu Debby dan menceritakan langkah-langkah risetnya. Dukungan dari para guru ini pula yang menumbuhkan rasa percaya diri pada diri Mama. Awalnya, Mama sempat ragu dan takut dagangan Anya tidak laku karena anak-anak mungkin tidak suka pedas. Namun para fasilitator meyakinkan bahwa Anya mampu, hingga akhirnya mereka berani melangkah untuk berjualan.
Jika menengok ke belakang, perjalanan riset bertajuk “Telur Pedas” ini menyimpan cerita reflektif yang mendalam. Pada awal semester dua, Anya sebenarnya memilih riset membuat telur dadar—makanan favoritnya sendiri. Namun di tengah jalan, hatinya tergerak untuk menggantinya menjadi telur pedas, makanan kesukaan kakaknya. Ini adalah keputusan yang menyentuh, mengingat Anya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka makanan pedas. Ia memilih menurunkan ego keinginannya demi belajar membuatkan makanan yang disukai oleh orang lain.
Selama proses di dapur, Anya menunjukkan ketekunan dan rasa ingin tahu yang luar biasa. Setiap kali mencium aroma masakan, ia akan langsung turun ke dapur dan memastikan apakah Mama sedang memasak telur pedas agar ia bisa ikut terlibat. Mulai dari mengupas bawang, menyiapkan bumbu, hingga menuangkan saus, semua diikutinya dengan serius.
Bahkan, Anya tidak ragu “mengoreksi” Mamanya berdasarkan daya ingatnya yang tajam. “Mah, dicicipi dulu untuk tahu rasanya biar sama kaya yang Mama masak,” tegurnya suatu kali saat Mama lupa mencicipi. Di waktu lain, saat Mama langsung menuangkan saus, Anya mengingatkan, “Mama, dikasih air dulu.”
Saat mengupas bawang pun, ia sempat bernostalgia tentang tugas masa lalunya, “Anya waktu TA (Tugas Akhir) pernah, lebih gampang di-kletek.”
Anya juga menunjukkan kemandirian. Ia dengan inisiatif mengambil kursi kecil agar bisa melihat letupan masakan di atas teflon dengan lebih jelas. Walaupun bagian menggoreng yang berbahaya masih harus dibantu Mama, Anya tidak takut untuk mendekat.
Tentu saja proses ini tidak selalu mulus. Saat menyiapkan poster, mereka baru sadar ada beberapa foto alat dan bahan yang terlewat. Alih-alih menangis atau kecewa, Anya dengan dewasa memberikan solusi, “Ditulis aja yang kurang, Mah.” Begitu pula saat belajar menulis kata “telur”, Anya dan Mama sempat mengira tulisan yang benar adalah “telor”, sebelum akhirnya mereka belajar bersama membuka KBBI.
Ketika berjualan, ketakutan Mama bahwa dagangannya tidak habis dipatahkan oleh kepolosan Anya yang menenangkan, “Ada, Bu Debby suka pedas. Nanti kalau nggak semua kejual, dibagi aja.”
Pada akhirnya, riset Telur Pedas ini bukan lagi sekadar urusan dapur dan bumbu masakan. Melalui sebutir telur dan ulekan cabai, Anya yang baru duduk di bangku kelas 1 SD telah belajar tentang tanggung jawab, arti sebuah proses, keberanian menghadapi tantangan, serta bagaimana mencari solusi saat keadaan tidak berjalan sempurna. Semua itu dilaluinya dengan satu kunci utama: kebahagiaan dan senyuman seorang princess.
Dari notulensi : Erza (Orang Tua
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply