Suasana Ruang Togog pada pagi hari, 18 Mei 2026, terasa hangat dan ramai. Orang tua, fasilitator, teman-teman sekelas, beberapa siswa dari kelas lain, hingga kakak-kakak mahasiswa hadir untuk menyaksikan Bulan Presentasi Semester 2. Di tengah suasana tersebut, Aksara Pramudya Defara, siswa kelas 2 SD SALAM, tampak duduk dengan santai menunggu gilirannya. Tidak terlihat tanda-tanda gugup yang berlebihan. Justru sebaliknya, Aksara tampak percaya diri dan seolah sudah tidak sabar untuk berbagi cerita tentang riset yang telah ia lakukan.
Pada kesempatan itu, Aksara mempresentasikan riset berjudul Celengan. Melalui presentasi PowerPoint yang berisi dokumentasi kegiatan dan catatan tulisan tangannya sendiri, ia mengajak para hadirin mengikuti perjalanan belajarnya. Kehadiran tulisan tangan dalam slide membuat presentasinya terasa sangat personal karena memperlihatkan jejak proses berpikir dan kerja keras yang benar-benar berasal dari dirinya.
Aksara memulai dengan menceritakan bagaimana ide membuat celengan muncul, lalu berlanjut pada proses mencari informasi, membuat rancangan, hingga akhirnya mewujudkan berbagai bentuk celengan dari kardus bekas. Ia menjelaskan langkah demi langkah dengan cukup runtut sehingga mudah diikuti oleh audiens.
Meski sempat mengalami sedikit hambatan pada beberapa slide awal karena kesulitan membaca tulisan tangannya sendiri yang ditampilkan di layar, Aksara tidak kehilangan semangat. Ia berhenti sejenak untuk mengingat kembali apa yang ingin disampaikan, kemudian melanjutkan presentasinya dengan lancar. Kemampuan untuk kembali fokus setelah mengalami kendala kecil menunjukkan keberanian dan kepercayaan dirinya yang semakin berkembang.
Bagian yang paling dikuasai Aksara adalah ketika menjelaskan proses pembuatan celengan. Wajahnya tampak antusias saat menceritakan berbagai percobaan yang telah dilakukan. Tidak hanya menjelaskan melalui slide, ia juga memperlihatkan secara langsung hasil-hasil karya yang berhasil dibuat selama proses riset. Berbagai model celengan yang ia bawa menjadi bukti nyata perjalanan belajarnya selama beberapa waktu terakhir.
Momen yang paling menarik terjadi saat Aksara mendemonstrasikan cara kerja celengan lidah, karya yang menurutnya paling menantang untuk dibuat. Dengan penuh semangat, ia menunjukkan bagaimana sebuah koin diletakkan di atas lidah celengan, lalu ketika tombol ditekan, lidah tersebut bergerak seolah-olah sedang memakan koin yang ada di atasnya. Demonstrasi sederhana itu langsung menarik perhatian para peserta dan membuat suasana presentasi menjadi semakin hidup.
Melalui riset ini, Aksara ingin mempelajari cara membuat celengan dari bahan sederhana sekaligus memahami manfaat penggunaan barang bekas untuk berkarya. Dalam prosesnya, ia didampingi oleh Bunda Fara, Om Gilang, dan Tante Femil. Bersama mereka, Aksara mencari informasi, berdiskusi, membuat rancangan, dan mencoba berbagai teknik pembuatan celengan menggunakan kardus bekas.
Dari riset tersebut, Aksara menemukan bahwa celengan dapat dibuat dalam berbagai bentuk kreatif dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar rumah. Ia juga memahami bahwa penggunaan kardus bekas tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga membantu mengurangi sampah dan menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga lingkungan.
Selain itu, ia menemukan fakta menarik tentang asal-usul kata celengan. Menurut informasi yang ia temukan, kata tersebut berasal dari kata celeng dalam bahasa Jawa yang sering dimaknai sebagai simbol keberuntungan. Temuan kecil ini memperkaya pemahamannya bahwa benda-benda yang digunakan sehari-hari ternyata memiliki sejarah dan cerita yang menarik.
Namun, perjalanan riset tersebut tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi Aksara adalah saat membuat pola dan mekanisme tombol yang menggerakkan lidah celengan. Beberapa kali percobaan mengalami kegagalan sehingga harus dibongkar dan dibuat ulang. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa menghasilkan karya yang baik sering kali membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan keberanian untuk mencoba kembali setelah gagal.
Salah satu momen yang paling mengundang senyum terjadi ketika Aksara mempresentasikan hasil karyanya dengan sangat santai. Cara duduknya di kursi bahkan terlihat seperti sedang berada di ruang tamu rumah sendiri. Sikap rileksnya membuat suasana menjadi cair dan akrab.
Momen lucu lainnya muncul ketika di tengah presentasi ia tiba-tiba menoleh kepada Bundanya dan bertanya, “Keren nggak, Bunda?” Pertanyaan spontan itu langsung memancing tawa dan senyum para peserta yang hadir. Di balik kelucuannya, tersimpan kebutuhan yang sangat manusiawi: keinginan seorang anak untuk mendapatkan apresiasi dari orang-orang yang dicintainya.
Pada sesi tanya jawab, Aksara menunjukkan kepercayaan diri yang baik. Ketika ditanya tentang bagian tersulit dalam proses pembuatan celengan, ia menjawab bahwa mekanisme tombol dan lidah yang menjulur merupakan tantangan terbesar karena berkali-kali mengalami kegagalan sebelum berhasil. Saat ditanya dari mana ide membuat celengan berasal, ia menjawab dengan penuh keyakinan bahwa ide itu muncul dari pikirannya sendiri, bahkan dengan gaya khasnya mengatakan, “Dari otakku sendiri.”
Ketika ditanya siapa saja yang mendampinginya selama riset, Aksara menyebut nama Bunda Fara, Om Gilang, dan Tante Femil dengan jelas. Sementara saat ditanya tentang hal yang paling tidak disukainya selama proses riset, ia menjawab dengan jujur bahwa ia tidak suka ketika dimarahi saat membereskan perlengkapan karena menurutnya ia masih kecil. Jawaban yang spontan dan apa adanya tersebut justru memperlihatkan keberaniannya dalam mengungkapkan perasaan secara terbuka.
Sepanjang presentasi, dukungan dari teman-teman, orang tua, dan fasilitator terasa sangat kuat. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian, memberi kesempatan kepada Aksara untuk berbicara, serta menghargai setiap usaha yang telah ia lakukan. Kehadiran lingkungan yang aman dan suportif menjadi bagian penting yang memungkinkan Aksara tampil dengan nyaman di depan banyak orang.
Melalui riset tentang celengan ini, Aksara tidak hanya belajar membuat sebuah benda. Ia belajar tentang proses berpikir, mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba kembali. Ia belajar bahwa kreativitas dapat tumbuh dari barang-barang sederhana yang sering dianggap tidak berguna. Ia juga belajar bahwa keberhasilan bukanlah hasil dari sekali percobaan, melainkan buah dari ketekunan dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Yang paling penting, Aksara menunjukkan bahwa ketika anak diberi ruang untuk bereksplorasi, didengarkan, dan dipercaya, mereka mampu menampilkan kemampuan yang sering kali melampaui perkiraan orang dewasa. Dari sebuah celengan kardus sederhana, tumbuh pelajaran besar tentang kreativitas, keberanian, kejujuran, dan semangat untuk terus belajar.
Dari Notulensi: Faradilla
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply