Pagi itu, Senin, 11 Mei 2026, jarum jam merambat mendekati pukul sembilan. Langkah kaki Lanang Wisanggeni Bomo berayun lebih cepat dari biasanya. Murid kelas 1 SD itu bergegas menyusuri jalan setapak di antara pematang sawah yang hijau, menuju Lapangan Salam. Ada kegembiraan sekaligus debar halus di dadanya. Hari ini adalah hari yang istimewa—hari Gelar Karya dan Riset Semester 2, sebuah ruang bagi anak-anak untuk merayakan proses belajarnya. Lapangan sudah mulai ramai saat Lanang tiba. Dengan cekatan, ia langsung memilih sebuah meja kosong di sudut area untuk menata “ruang pamernya.”
Semester ini, Lanang membawa sebuah riset yang sangat lezat dan penuh warna: Nasi Goreng Pelangi. Ide ini sebenarnya tumbuh dari sebuah kenangan manis pada Pasar Senen Legi di semester sebelumnya. Kala itu, nasi goreng buatannya laku keras, tandas tak bersisa, dan menghasilkan banyak uang. Pengalaman keberhasilan itulah yang memantik rasa ingin tahu Lanang untuk menyelami lebih dalam rahasia di balik sepiring nasi goreng yang memikat hati teman-temannya.
Namun, perayaan hari itu tidak berjalan tanpa ujian. Saat Lanang dibantu Bapak sedang asyik menata meja, Pandu—temannya—datang. Karena keterbatasan tempat, meja yang sudah rapi harus ditata ulang agar bisa berbagi dengan Pandu. Seketika, rasa enggan menggelayuti hati Lanang. Ia sempat menolak mentah-mentah. Ekspresi marah dan kecewa tergambar jelas di wajah kecilnya.
Melihat riak emosi itu, sang Ibu—yang kehadirannya hari itu membuat segalanya terasa kian spesial bagi Lanang—mengajaknya menepi. Ibu mengajak Lanang mengobrol berdua, menyentuh hatinya dengan lembut.
“Lanang ingat, jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan?” tanya Ibu, mengingatkan kembali pada pilar semangat Anak Salam.
Ibu menjelaskan bahwa inilah saat yang tepat bagi Lanang untuk mempraktikkan langsung arti dari “jaga teman” melalui kerelaan berbagi ruang. Sentuhan dialog itu meluluhkan egonya; Lanang pun belajar berdamai dan menyambut Pandu di mejanya.
Ketika peluit tanda dimulainya sesi jual-beli ditiup, atmosfer lapangan yang bertema “Panen Pengetahuan” itu seketika berubah semarak. Keragaman riset anak-anak kelas 1 saling beradu riuh. Di sudutnya, Lanang menjelma menjadi seorang pedagang kecil yang mandiri dan penuh percaya diri. Ia menawarkan Nasi Goreng Pelangi dengan harga Rp3.000 per porsi, lengkap dengan pilihan lauk ayam goreng krispi seharga Rp2.000.
Didampingi oleh Ibu, Lanang melayani pembeli dengan nyaman. Setiap kali transaksi selesai dan uang berpindah tangan, Ibu dengan setia membisikkan pengingat, dan Lanang pun dengan santun mengucapkan, “Terima kasih.” Kelezatan nasi goreng dan keramahan itu berbuah manis; antrean mengular, bahkan beberapa pembeli rela mengantre kembali demi mendapatkan porsi kedua.
Setelah riuh pasar mereda, tibalah saatnya presentasi kelas yang dipandu oleh Ibu Umi selaku fasilitator, serta dibantu oleh Bu Debby. Di hadapan teman-teman dan para fasilitator, Lanang menceritakan bagaimana ia mempraktikkan pembuatan nasi goreng ini di rumah hingga berhasil membawanya ke sekolah. Saat sesi tanya jawab dibuka, tidak ada kesan tegang. Dengan gaya santai dan kepolosan khas anak-anak, Lanang menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu Umi dan Pak Gemak. Ketika ditanya bagaimana perasaannya, Lanang tersenyum lebar dan mengaku sangat senang karena bisa berjualan serta mengumpulkan uang dari hasil keringatnya sendiri.
Melihat pemandangan itu, Pak Bomo yang bertindak sebagai notulis sekaligus ayah Lanang, menyunggingkan senyum penuh refleksi. Di balik keberhasilan hari itu, ada sebuah proses panjang yang melatinya. Bagian paling menantang bagi Lanang di semester ini sebenarnya bukanlah memasak, melainkan membangun kebiasaan mencatat proses belajar. Awalnya, Lanang kerap menolak dan merasa berat. Namun, berkat dorongan sabar dari para fasilitator, perlahan tumbuh kesadaran di dalam diri Lanang untuk mau belajar menulis. Bahkan sehari sebelum gelar karya, Lanang telah berjuang sangat keras untuk menulis sendiri materi pada poster jualannya.
Senin siang itu, Lapangan Salam menjadi saksi. Lanang tidak hanya belajar tentang disiplin waktu saat menyiapkan masakan atau mengasah kemampuan literasinya lewat tulisan. Lebih dari itu, ia telah berjalan selangkah lebih dekat untuk menjadi Anak Salam yang seutuhnya—seorang anak yang mengerti arti berbagi dengan sesama.
Hari itu pun ditutup dengan rasa bangga. Sebuah hari yang mengenyangkan, penuh rasa, dan penuh warna; persis seperti sepiring Nasi Goreng Pelangi buatan Lanang.
Dari notulensi: Pak Bomo
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply