Anak-anak jadi koki.

Anak-anak Bikin Pizza

Ketika gagasan membawa anak-anak untuk mengenalkan salah satu gerai makanan pizza muncul di antara ibu-ibu Kelompok Bermain, sempat muncul keraguan, mengapa SALAM yang mengusung bersikap menggunakan pangan lokal, pangannya sendiri yang sehat ikut acara yang ditawarkan mereka, untuk membuat pizza, bukan meracik gudeg atau mengolah jenang gempol?.

Anak-anak jadi koki.
Anak-anak jadi koki.

Namun, yang jadi pertimbangan kemudian adalah bagaimana anak-anak KB (kelompok bermain) SALAM yang sedang asik melontarkan menggali imajinasi anak-anak mau jadi apa mereka nanti, untuk belajar proses dan pengalaman baru, maka kemudian kami sepakati tawaran itu.

Tanggal 22 September 2017 kemarin teman-teman kecil tidak hanya berkesempatan menyaksikan berbagai peralatan, fasilitas dapur mereka, tetapi diajak langsung berproses tahap demi tahap praktek membuat pizza.

Anak-anak dibagi dalam kelompok, yang masing-masing beranggotakan lima anak, bersama-sama memakai celemek, bertudung kepala dan mengenakan sarung tangan sebagaimana SOP (Standart Operasional Proses). Semua kelompok bersemangat dan bersabar mengantri giliran masuk dapur.

Tentang pemakaian tudung kepala (shower cap), sempat beberapa anak terutama laki-laki tidak mau—Karena dalam pikiran sederhana mereka tudung kepala itu biasanya digunakan saat membungkus rambut di kamar mandi atau perawatan di salon.

Namun ketika dijelaskan mengapa harus memakai tudung kepala, yakni untuk mencegah masuknya helaian rambut agar tidak terjatuh ke makanan, teman-teman  kecil yang semula enggan memakainya akhirnya memakai dengan suka cita.

Teman-teman kecil inilah yang diajak bersama-sama ‘memasak’ pizza untuk mereka sendiri. Walau hanya memoles ‘dough’ pizza yang telah disiapkan dengan saus tomat, menaburkan keju plus daging atau sosis atau jamur sebagai topping sesuai keinginan mereka.

Dapur gerai pizza.
Dapur gerai pizza.

Mereka juga yang akan menyaksikan sendiri bagaimana pizza-pizza hasil kreasi mereka itu keluar dari oven untuk siap disantap. Seru, riuh—beberapa  anak  minta digendong ibunya agar bisa menyaksikan pizza buatannya keluar dari oven yang ukurannya sangat tinggi dibandingkan tingginya anak-anak Kelompok Bermain SALAM.

Teman-teman kecil belajar jadi koki atau chef  yang sehari-hari mereka kenal hanya tugas, pekerjaan perempuan. Namun saat ini semua anak kelas kelompok bermain SALAM baik laki-laki maupun perempuan sama antusias untuk bercelemek dan ‘mengacak-acak’ dapur gerai pizza, yang dipandu para koki bapak-bapak.

Kompor yang besar, kulkas yang besar, oven yang besar memang lebih sesuai untuk dipergunakan bapak-bapak. Karenanya pesan yang disampaikan sebelum masuk dapur adalah untuk berhati-hati dan tidak saling mendorong. Jaga diri, jaga teman selalu diingatkan para fasilitator.

Pekerjaan memasak memang bukan hal baru bagi teman-teman SALAM. Anak-anak kelompok bermain bahkan sudah terbiasa membersihkan, memotong sayur untuk dimasak bersama ibu-ibu mereka pada hari Jumat tertentu. Saat itu mereka lahap menikmati makanan yang  mereka ikut siapkan. Ada kebanggaan melihat wortel, sayur yang tadi dipotong kemudian dinikmati.

Anak-anak pun belajar bahwa ada cara, ada alat yang digunakan untuk mengolah makanan. Dan yang terpenting, belajar proses bagaimana sampai sebuah makanan tersaji di hadapan mereka dan melakukannya membuat teman-teman kecil ini lebih paham. Bukan cuma tinggal melahap, seperti iklan lauk cepat saji. Teman-teman kecil juga belajar untuk menghargai, tidak hanya menghargai makanan yang disajikan namun juga menghargai orang yang membantu menyiapkannya.

Ortu dan anak-anak.
Ortu dan anak-anak.

Selain belajar tentang proses memasak, kunjungan ke gerai pizza ini sekaligus menjadi sarana anak-anak mengenal profesi yang mungkin nantinya menjadi pilihan cita-cita mereka. Bahwa tak selalu cita-cita itu melulu dokter, pilot, tentara, arsitek, guru atau bahkan ultraman, boboiboy, princess Anna (tokoh-tokoh itu yang sering diucapkan teman-teman kecil) tapi juga bisa menjadi koki.

Memang belum ada teman kecil yang mengutarakan hendak menjadi koki, tapi dari cerita ibu-ibu mereka ada beberapa yang selalu bersemangat membantu saat memasak di dapur.

Bahwa mengenal, mempelajari dan mencoba memasak adalah salah satu ketrampilan hidup yang wajib dipelajari setiap anak, apapun jenis kelamin mereka. Karena saat seseorang hendak makan, alangkah elok, apabila ia mampu mencari, mempersiapkan dan mengolah sendiri bahan-bahan yang akan jadi makanannya—Bukan melulu tergantung atau disediakan orang lain.

Mudah-mudahan gagasan mengenalkan anak-anak di gerai pizza ini juga diikuti gerai makanan tradisional lain. Sehingga teman-teman kecil bisa belajar dan bereksplorasi.