Anak Kelas V SD SALAM, Belajar geografi melalui Riset Silsilah Keluarga.

Kelas ini awalnya merancang riset Silsilah keluarga, dimulai dari kakek nenek kedua orang tuanya.  Masing-masing anak membuat “Pohon Keluarga”. Dari pohon keluarga tersebut didapatkan data, antara lain: nama, jenis kelamin, domisili—dari domisili itulah anak-anak mulai membuka peta geografi yang di dalamnya terdapat berbagai kekhasan masing-masing tempat (sejarah, kuliner, arsitektur dan adat-istiadat).

Presentasi kelas 5 yang dimulai Selasa 7 Mei 2019 menampilkan 3 anak dengan minat menggambar yang mempresentasikan hasil belajar mereka selama semester dua di kelas 5 SD SALAM. Peta Indonesia menjadi tema riset mereka bertiga—masing-masing memilih bagian mana dari peta Indonesia yang menjadi judul dan yang akan mereka presentasikan.

Ada Ezy yang menggambar pulau-pulau di bagian barat Indonesia dengan alasan karena dia suka menggambar. Raisa yang mempresentasikan tentang waktu Indonesia Bagian tengah dan wilayah apa saja yang termasuk dalam zona waktu Indonesia Bagian Tengah, khususnya pulau Bali yang merupakan pulau kelahirannya—sedikit cerita mengenai budaya dan makanan tradisional yang berasal dari Bali. Selain Ezy dan Raisa, ada juga Laras yang mempresentasikan risetnya menggambar peta Indonesia dengan menunjukan foto proses belajar menggambar Laras di rumah, didampingi mama dan kakaknya. Dengan melihat hasil gambar mereka di akhir presentasi, ternyata menggambar tidak semudah yang saya bayangkan. Harus benar-benar teliti, fokus, dan tidak asal gambar saja, apalagi yang digambar adalah peta Indonesia dengan pulau-pulau yang memiliki bentuk-bentuk unik dan banyak lekukannya.

Derel & Bejokarto

Dilanjutkan hari Kamis 9 Mei 2019 3 anak lagi yang mendapat giliran untuk mempresentasikan hasil riset mereka—antara lain Derel yang presentasi mengenai patung yang menurut Derel memiliki visi dan misi yang tegas, yakni patung Bejokarto sendiri memiliki arti “Bejo” untung dan “Karto” aman. Maka dari itu, alasan Derel memilih meriset tentang patung ini, adalah ingin Jogja menjadi kota yang aman dan nyaman untuk ditinggali dan sadar dengan masalah sampah.

Maket Rumah Limasan Jawa By. Cita

Setelah Derel, ada Cita yang mempresentasikan tentang rumah tradisional Jawa, yaitu Rumah Limasan. Menurut Cita rumah Limasan adalah rumah yang memiliki sejarah dan filosofi unik. Hal inilah yang membuat Cita tertarik untuk meriset. Selain itu, Cita juga memiliki cita-cita menjadi seorang Design Interior dan mempunyai mimpi akan membangun rumah dengan ciri-ciri seperti rumah Limasan. Dan yang terakhir ada Jalu, yang mempresentasikan tentang tugu Golong Gilig (Tugu sebelum Jogja yang sekarang) karena rasa penasarannya kenapa orang-orang sangat suka berfoto di tugu Jogja. Dengan alasan sendiri-sendiri mereka meriset apa yang menjadi kesukaan mereka. Presentasi hari ini memberikan informasi yang bahkan orang yang tinggal di Jogja pun baru tahu ketika melihat presentasi ini. Misalnya, ternyata tugu yang sekarang lebih pendek 10cm dibandingkan tugu yang dulu. Atau ternyata nama patung bejokarto disesuaikan dengan nama-nama daerah yang ada di Jogja. Dan rumah limasan hanya terdiri dari kayu-kayu dan memiliki makna di setiap bagiannya. Dan setelah itu presentasi ditutup, namun kita juga bisa melihat dan miniatur-miniatur dari hasil riset anak-anak kelas 5 ini yang dipajang di depan kelas. []