Rekonstruksi Proses Riset

Hari Rabu, 8 Mei 2019 hari keempat dalam rangkaian Bulan Presentasi SALAM. Pukul 10.00 WIB di ruang Togog-Mbilung giliran dua siswa SMP mempresentasikan risetnya. Riset mereka berdua termasuk dalam satu tema, yaitu seputar ikan. Presenter yang pertama Luthfi, siswa kelas 8 SMP SALAM. Risetnya budidaya ikan cupang, sesuai dengan hobinya yaitu memelihara ikan.

Dylan & Luthfi

Luthfi sudah pernah melakukan riset yang sama di kelas 7 semester pertama, tapi saat itu ia gagal untuk membiakkan ikan cupangnya. Maka dari itu, ia ingin mencoba kembali untuk meriset tentang ikan cupang tersebut. Di kelas 8 semester kedua ini Luthfi berhasil membiakkan cupangnya, meskipun masih ada yang mati dimakan jentik-jentik nyamuk. Proses membiakkannya cukup rumit dan membutuhkan waktu. Karena ikan cupang harus dipisah terlebih dahulu. Setelah sang betina bertelur, cupang jantan akan dipisah dari telur-telur itu agar tidak stress, karena sang jantan bisa memakan telur-telur tersebut jika tidak dipisah.

Foto By. Sisca Marindra

Hingga sekarang, telur-telur itu sudah menjadi ikan cupang yang berumur sekitar 4-5 bulan, dan berwarna putih dan termasuk dalam jenis ikan cupang platinum. Luthfi juga menjelaskan bahwa biasanya di untuk media memelihara ikan cupang diletakkan daun ketapang yang berfungsi sebagai pengatur ph air atau keasaman air.

Dylan Presentasi. Foto Sisca Marindra

Setelah Luthfi berbagi cerita tentang risetnya, giliran Dylan mempresentasikan hasil risetnya di semester ini. Dylan siswa kelas 7 SMP SALAM yang memilih tema riset ‘Memancing’. Ia memilih riset tersebut karena suka memancing, dan ia juga sudah melakukan 5 kali wawancara dengan nelayan di beberapa pantai seperti Pantai Baron dan Pantai Depok. Dylan juga membandingkan harga-harga ikan di laut, mulai dari ikan yang dipancing dan yang ditangkap menggunakan jala oleh nelayan. Ia membandingkan harga saat wawancara di pantai, di penjual ikan segar di Pasar Beringharjo, juga di restoran seafood. Dan hasilnya adalah, ikan yang dijual di pantai harga perkilonya akan jatuh lebih murah dibandingkan dengan harga di pasar lokal atau yang sudah di dalam restoran. Jika di pantai dengan uang Rp.50.000 bisa mendapatkan 2-3 ekor ikan atau setara dengan 1 kg, di pasar hanya bisa digunakan untuk membeli 1 ekor ikan saja. Saat itu Dylan sudah sempat ingin ikut nelayan untuk memancing ke laut, tapi tidak diijinkan. Kemudian ia memutuskan untuk memancing di kali Bedog bersama temannya. Ia memancing di kali selama 2 jam dengan menggunakan umpan cacing, tapi tidak ada hasilnya atau tidak mendapatkan satu ikan pun. Lalu, Dylan juga menjelaskan tentang alat pancing yang ia bawa, bahwa total uang yang ia keluarkan untuk membeli alat-alat pancingnya tersebut sekitar Rp.70.000.

Bonar

Selain kedua siswa SMP ini, di ruangan lainnya juga ada presentasi menarik dari Bonar, siswa kelas 5 SD SALAM. Bonar riset tentang mading berjudul ‘Bahaya Merokok’. Di dalam mading tersebut, Bonar menjelaskan bahwa ia memilih riset ini karena ia ingin tau alasan orang-orang merokok terutama anak-anak di bawah umur. Juga karena ia tahu bahwa para perokok masa depannya akan buruk, terlebih terkena penyakit seperti stroke, kanker paru-paru, sesak nafas, dan lain-lain. Bonar juga menyertakan komik-komik pendek tentang bahayanya merokok, juga tentang anak-anak kecil yang sudah kenal dengan benda bahaya ini. Ia juga sudah melakukan survey kepada beberapa anak  tentang alasan mereka merokok. Dan Bonar mendapati bahwa sebagian dari anak-anak perokok tersebut awalnya hanya coba-coba dan kemudian menjadi ketagihan. Dan di situ Bonar juga menuliskan pesan untuk orang tua, “jadi jika ada orang tua yang tidak ingin anaknya merokok, jangan pernah mengijinkan anaknya untuk mencoba rokok!”. []