DRAMA SAMPAKAN SARAT RISET ALA SALAM

Angin sepoi berhembus di sebuah lapangan di tengah lokal kelas Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta yang kebetulan ada di tengah persawahan, seorang anak berjalan di atas level rendah memanjang di sisi barat lapangan, di lehernya tergantung kamera yang kemudian digunakannya mengambil gambar teman-temannya di sisi timur panggung. Sontak yang diambil gambarnyapun bergaya, bahkan beberapa yang lain memanggil-manggil nama Oyi – anak berkamera tadi – untuk juga mengambil gambar mereka.

Foto Budi Gemak

Kemunculan Oyi di panggung barat lapangan itu bukan hanya untuk memotret, teknik pemunculan ini adalah awal dari sebuah pementasan drama hasil riset teman-teman kelas 5 SD Salam. Pementasan sambil menunggu buka puasa ini memang sengaja diadakan dalam rangka Bulan Presentasi. Ajang dimana seluruh siswa bisa belajar bersama dan menyaksikan teman-teman lain mempresentasikan hasil risetnya.

Bergaya sampakan yang memang sangat familiar di iklim pementasan di Yogyakarta, cerita mulai mengalir saat Oyi berhenti memotret dan berdialog rhetoric dengan audience. “Teman-teman tahu tidak siapa penemu kamera yang pertama? Bapak dan ibu semua tahu siapa pendiri SALAM?”, Begitulah cara Oyi untuk mulai menceritakan hasil riset fotografi tentang sejarah SALAM dengan melontarkan pertanyaan kepada para hadirin.

Riset Oyi adalah salah satu dari 16 judul riset yang dilakukan seluruh siswa kelas 5 selama semester 2 tahun ajaran ini, 16 judul riset inilah yang kemudian diusung ke atas panggung oleh Oyi dan teman-teman, semua dialog dan cerita drama ini merupakan ringkasan hasil riset yang sudah mereka lakukan.

Foto: Tami (Ibunya Sadat)

Ada yang menceritakan tentang pulau-pulau di Indonesia beserta zona waktunya, sejarah Keraton Yogyakarta, Patung Bedjokarto, Lurik, Tugu Golong Gilig, Rumah Limasan, sejarah bahasa Ngapak Banjarnegara, manusia purba, bahkan sampai menceritakan tentang bahaya merokok.

Ada juga yang bercerita tentang proses membuat lopis, tape singkong, tekwan, serta tempe yang berbahan kedelai, murah namun penuh gizi.  Kesemuanya ini dirangkai menjadi satu dalam sebuah dialog penuh harmoni.

Pementasan drama ini sendiri memang disiapkan awalnya oleh  sebagian teman-teman kelas 5 yang menyusun alur cerita drama dan langsung disetujui oleh seluruh warga kelas 5 tanpa melalui diskusi panjang. Penyatuan ide cerita dari semua warga kelas pun dilakukan dengan mudah, fasilitator memang memberi ruang gerak dan kreatif yang besar kepada teman-teman didiknya, sehingga kreatifitas dan spontanitas justru lebih keluar, misalnya saat Banyu diwaktu latihan kesulitan menyebutkan kata “mikroba”. Banyu justru berkali-kali mengucapkan “mikobra”, itupun diucapkannya dengan suara terbata-bata. Karena melihat Banyu kesulitan mengucapkan kata mikroba dengan tepat, fasilitator kemudian meminta Sadat untuk membantu mengingatkan Banyu.

Anak-anak Kelas lain menikmati drama kelas V. Foto Sisca Marindra

Sadat yang awalnya diminta untuk mengingatkan Banyu, pada akhirnya justru terpengaruh dan ikut mengucapkan “mikobra” yang membuat seisi kelas tertawa. “Mikroba Dat…” begitu teman-teman serempak mengingatkan Sadat. Adegan spontan ini akhirnya dipatenkan untuk diusung di atas panggung, dan terbukti, cukup bisa memancing tawa dari para penonton.

Meski awalnya warga kelas 5 mengira hanya akan mempresentasikan risetnya bergantian di kelas seperti biasa, konsep bulan presentasi yang menstimulus siswa mempresentasikan riset di hadapan warga kelas lain ternyata bisa direspon dengan baik oleh teman-teman kelas lima. Karena pertimbangan waktu, akhirnya tercetus ide untuk mempresentasikan 16 riset secara bersama-sama yang kemudian dikemas dalam  sebuah pertunjukkan drama. “Presentasinya drama aja, kan bareng-bareng jadi ngga grogi”. Ucap beberapa teman kelas 5 memperkuat argumen mereka selain karena pertimbangan waktu.

Foto Sisca Marindra

Alhasil jadilah sebuah pementasan bergaya sampakan yang cukup segar di sore hari menjelang berbuka puasa. Melengkapi kesegaran sore itu, Lintang, Jihan dan Laras mengakhiri pementasan dengan mengajak teman-teman makan siang dengan lauk tempe goreng yang juga hasil riset mereka, dan Jihan membawakan tekwan buatannya untuk dinikmati bersama.

Foto: Tami (Ibunya Sadat)

Secara dramaturgi dan keaktoran, mungkin pementasan drama ini jauh dari kesan professional, namun keterlibatan aktif seluruh teman kelas lima yang membawakan riset masing masing, menjadikan bukti bahwa mereka memang memahami riset yang dilakukannya.

Terima kasih teman-teman, tetaplah berkarya!  []

 #bulanpresentasi