karya anak salam

Ayya dan Detra: Belajar Memasak, Berjualan, dan Menemukan Kepercayaan Diri

Pagi itu suasana Petruk Bawah terasa lebih ramai dari biasanya. Hari Jumat, 15 Mei 2026, merupakan hari presentasi riset bagi Karimilatifa Nuhanakamil Basyiraya, yang akrab dipanggil Ayya, dan Detra Zaki Ar Rafi atau Detra. Sejak sebelum pukul sembilan, Ayya sudah hadir dan bersiap di lokasi. Sementara itu, Detra datang beberapa menit kemudian bersama bundanya. Di ruangan yang dipenuhi sekitar dua puluh penonton tersebut, tampak hadir keluarga, teman-teman, fasilitator, serta beberapa wajah baru yang mungkin memanfaatkan hari cuti bersama untuk berkunjung ke SALAM.

Jika Ayya terlihat siap dan tenang, Detra tampak menyimpan kegugupan. Namun justru dari perbedaan itulah perjalanan belajar mereka selama dua semester terakhir menjadi menarik untuk disimak. Semester ini, Ayya dan Detra melanjutkan riset tentang memasak dan berjualan yang telah mereka mulai sejak semester sebelumnya. Jika sebelumnya mereka berfokus pada aneka camilan, kali ini mereka mencoba sesuatu yang lebih menantang: membuat dan menjual ayam geprek.

Ide berjualan ayam geprek berasal dari Detra. Bundanya mendukung dengan menyiapkan bahan dan mendampingi proses memasak. Ayya ikut berperan penting dengan membantu membuat poster promosi dan meracik sambal. Bersama fasilitator, mereka menjalani seluruh proses, mulai dari menyiapkan bahan, memasak, mempromosikan produk, hingga menjualnya kepada warga SALAM.

Salah satu keunikan ayam geprek mereka adalah penggunaan tepung mocaf sebagai pengganti tepung terigu. Dengan bangga, Ayya menjelaskan bahwa tepung mocaf dianggap lebih sehat dan merupakan alternatif lokal yang menarik. Produk mereka juga selalu habis terjual karena menggunakan sistem pre-order sehingga jumlah produksi dapat disesuaikan dengan pesanan.

Dalam perjalanannya, mereka juga belajar tentang perhitungan usaha. Harga ayam geprek yang semula dijual Rp10.000 per porsi akhirnya dinaikkan menjadi Rp12.000 setelah melalui diskusi antara Detra dan bundanya. Dari pengalaman sederhana ini, mereka belajar bahwa menentukan harga bukan sekadar menempelkan angka, tetapi juga mempertimbangkan biaya dan keberlanjutan usaha.

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi ketika Detra harus memasak ayam geprek tanpa didampingi bundanya. Hari itu menjadi semacam ujian bagi dirinya. Ia harus memimpin proses memasak, mengingat setiap tahapan yang biasanya dilakukan bersama-sama, serta mengambil keputusan sendiri.

Ayya mengenang hari itu sebagai proses yang terasa sangat panjang. Detra bergerak perlahan, mengingat satu demi satu langkah yang harus dilakukan. Namun pada akhirnya, ia berhasil menyelesaikan seluruh proses. Bahkan kegiatan menguleg sambal yang selama ini sering ia hindari karena merasa tidak mampu, berhasil dilakukan sendiri.

Dengan nada bercanda, Ayya mengaku sempat kesal karena selama ini Detra sering mengatakan tidak bisa, padahal ketika benar-benar mencoba, ternyata ia mampu melakukannya.

Selain ayam geprek, mereka juga melakukan berbagai eksperimen kuliner lainnya. Salah satunya adalah membuat donat menggunakan tepung mocaf bersama Shila, teman kelas 1 SMA. Eksperimen ini tidak berjalan sesuai harapan. Donat yang dihasilkan pecah-pecah dan sulit menyatu. Namun kegagalan tersebut justru memunculkan diskusi dan ide baru. Ayya menduga bahwa penambahan kentang mungkin dapat membantu memperbaiki tekstur adonan.

Mereka juga mencoba membuat bakso setelah melakukan survei di kawasan Sumur Miring ISI. Dari hasil pengamatan, ternyata sudah ada beberapa penjual ayam geprek di lokasi tersebut. Hal itu mendorong mereka mencari alternatif produk yang berbeda agar memiliki peluang usaha yang lebih baik.

Di balik cerita tentang memasak dan berjualan, presentasi ini sebenarnya memperlihatkan perjalanan tumbuhnya dua anak muda dengan karakter yang sangat berbeda.

Ayya tampil percaya diri sepanjang presentasi. Ia mampu menceritakan proses yang dijalani, menjelaskan berbagai eksperimen yang dilakukan, serta menjawab pertanyaan audiens dengan lancar. Kepercayaan dirinya terlihat semakin kuat dibandingkan semester-semester sebelumnya.

Riset memasak yang dijalaninya selama dua semester terakhir membuat Ayya semakin yakin bahwa dunia kuliner adalah bidang yang ingin ia tekuni. Ia berharap dapat diterima di Jurusan Teknik Boga Universitas Negeri Yogyakarta sebagai pilihan utamanya. Namun ia juga telah menyiapkan rencana cadangan dengan mendaftar ke akademi JICA untuk melanjutkan pembelajaran di bidang kuliner. Bahkan saat presentasi berlangsung, Ayya sudah mengabarkan bahwa dirinya telah diterima dan tinggal menunggu proses berikutnya dimulai.

Sementara itu, perjalanan Detra memiliki warna yang berbeda. Saat diminta berbicara di depan banyak orang, ia beberapa kali terdiam, menatap ke atas, berusaha menangkap kembali ingatan yang ingin disampaikan. Ketika kesulitan menjelaskan, Ayya hadir membantu, menjadi jembatan bagi cerita-cerita yang mereka alami bersama.

Namun di balik kesan pemalu dan sering mengatakan lupa, Detra sebenarnya menunjukkan banyak perkembangan. Bundanya menceritakan bahwa Detra bahkan sudah mulai mempersiapkan usaha ayam gepreknya untuk masuk ke ShopeeFood. Ia juga mulai memelihara lele sebagai bagian dari eksplorasi minatnya.

Menariknya, ketika tidak berada dalam situasi yang membuatnya gugup, Detra justru sering menunjukkan inisiatif yang besar. Pernah suatu kali ia membawa pulang sisa ayam dari hasil jualan. Tanpa diminta siapa pun, ia mengolahnya sendiri, memasak, bahkan membuat sambal secara mandiri.

Momen-momen seperti itulah yang membuat para fasilitator percaya bahwa kemampuan Detra jauh lebih besar daripada yang sering ia tunjukkan di depan banyak orang. Tantangannya bukan terletak pada kemampuannya, melainkan pada keberaniannya untuk percaya pada dirinya sendiri.

Selama presentasi berlangsung, satu hal yang paling mencuri perhatian adalah hubungan antara Ayya dan Detra. Ketika Detra kesulitan berbicara, Ayya hadir membantu tanpa mengambil alih. Ia menemani, mengingatkan, dan melengkapi cerita sahabatnya. Sikap saling mendukung ini menjadi gambaran indah tentang proses belajar yang tidak hanya menghasilkan keterampilan, tetapi juga kepedulian dan persahabatan.

Dua semester perjalanan memasak dan berjualan mungkin menghasilkan ayam geprek, bakso, atau donat yang belum sempurna. Namun lebih dari itu, proses ini telah melahirkan keberanian baru. Ayya semakin mantap melihat potensi dirinya di dunia kuliner. Detra perlahan belajar bahwa banyak hal yang selama ini ia kira tidak bisa, ternyata mampu ia lakukan ketika berani mencoba. Di situlah letak makna terdalam dari riset mereka. Bukan sekadar belajar memasak atau berjualan, melainkan belajar mengenali diri sendiri, menemukan keberanian, dan melangkah sedikit demi sedikit menuju masa depan yang mereka impikan.

Dari Notulensi: Andre

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *