Pagi itu, suasana Museum Sonobudoyo terasa lebih hidup dari biasanya. Di salah satu serambi museum, Awaloka Nyanyian Nusantara, atau yang akrab dipanggil Awa, Kelas 6 SD SALAM berdiri di hadapan teman-teman, fasilitator, dan para orang tua yang hadir. Hari itu, Sabtu, 9 Mei 2026, Awa membagikan hasil risetnya tentang arca—peninggalan bersejarah yang selama berbulan-bulan ia pelajari dengan penuh ketekunan.
Awalnya, Awa berencana melakukan presentasi di Candi Plaosan, tempat yang selama ini menjadi lokasi utama pengamatannya. Namun setelah mempertimbangkan jarak dan fakta bahwa ia sudah beberapa kali melakukan presentasi di lingkungan candi, Awa akhirnya memilih Museum Sonobudoyo. Keputusan itu sempat membuatnya ragu. Bagaimanapun, risetnya banyak dilakukan di kawasan candi. Akan tetapi, koleksi arca yang cukup lengkap di museum serta kemudahan akses bagi teman-temannya membuat Awa mantap mengambil keputusan tersebut.
Pilihan itu ternyata tepat. Seluruh teman sekelas hadir untuk memberikan dukungan. Kehadiran mereka menciptakan suasana hangat dan penuh semangat. Meskipun presentasi sempat dimulai sedikit lebih lambat karena menunggu semua peserta datang, antusiasme yang muncul sejak awal membuat kegiatan berjalan dengan menyenangkan.
Sejak memulai presentasi, Awa terlihat santai dan percaya diri. Ia tidak hanya berdiri menjelaskan materi, tetapi juga mengajak audiens berkeliling menyusuri serambi museum. Satu per satu arca diperkenalkan dengan rinci. Mulai dari Arca Dwarapala yang gagah menjaga gerbang, Arca Ganesha yang dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan, Arca Awalokiteswara, Arca Agastya, hingga berbagai arca lainnya yang menjadi bagian dari koleksi museum.
Dengan bahasa yang mudah dipahami, Awa menunjukkan bagian-bagian penting dari setiap arca sambil menjelaskan fungsi, makna, dan ciri-ciri yang membedakannya. Tidak hanya berbicara tentang bentuk fisik, Awa juga mengingatkan audiens mengenai etika saat berada di situs bersejarah. Ia menjelaskan bahwa pengunjung tidak boleh menginjak, memindahkan, atau memperlakukan arca secara sembarangan. Menurutnya, benda-benda tersebut merupakan warisan sejarah yang harus dijaga bersama.
Perjalanan riset Awa sendiri tidak selalu mudah. Berbeda dengan riset sebelumnya yang memungkinkan pertemuan langsung dengan narasumber, kali ini ia lebih banyak berkomunikasi melalui telepon dan WhatsApp karena narasumber tinggal di sekitar Candi Cetho yang cukup jauh. Meski begitu, keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk belajar.
Awa berulang kali mengunjungi Candi Plaosan untuk melakukan pengamatan langsung. Di sana ia mempelajari berbagai jenis arca, baik yang berasal dari tradisi Hindu maupun Buddha. Awalnya ia berencana memfokuskan presentasi pada arca Buddha. Namun karena koleksi arca Buddha di Museum Sonobudoyo tidak terlalu banyak, ia menyesuaikan materi presentasinya dan lebih banyak membahas arca Hindu yang tersedia di lokasi.
Dalam prosesnya, Awa sering menemukan pertanyaan-pertanyaan baru yang belum terjawab oleh narasumber. Ketika itu terjadi, ia tidak berhenti sampai di sana. Ia mencari informasi tambahan melalui buku, jurnal, internet, video edukasi di YouTube, hingga berbagai sumber lain yang dapat dipercaya. Dari proses pencarian itulah ia semakin memahami sejarah arca serta perbedaan-perbedaan antara arca Hindu dan Buddha.
Saat sesi tanya jawab berlangsung, kemampuan Awa semakin terlihat. Berbagai pertanyaan dari orang tua, fasilitator, dan beberapa teman berhasil dijawab dengan tenang dan runtut. Ia mampu menjelaskan hampir seluruh arca yang ditanyakan dengan detail. Hanya ada satu arca yang belum dapat ia jelaskan karena ia sendiri baru mengetahui keberadaan arca tersebut saat presentasi berlangsung. Namun alih-alih merasa malu, Awa mengaku belum mengetahui jawabannya. Sikap jujur ini justru menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu berarti mengetahui segalanya, melainkan juga berani mengakui hal-hal yang masih perlu dipelajari.
Ketika ditanya mengenai tantangan terbesar selama menjalankan riset, Awa menjawab dengan sederhana: mengingat nama-nama arca dan sejarahnya. Namun ia tidak menyerah pada kesulitan tersebut. Ia mengatasinya dengan kembali berkunjung ke candi, memotret objek yang diamati, bertanya lagi kepada narasumber, dan mencari informasi dari berbagai sumber hingga menemukan jawaban yang memuaskan.
Seluruh proses itu memperlihatkan bagaimana rasa ingin tahu dapat menjadi kekuatan utama dalam belajar. Awa tidak sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga membangun kebiasaan mencari jawaban secara mandiri. Ketekunannya dalam mengamati, bertanya, dan memverifikasi informasi menjadi bagian penting dari perjalanan risetnya.
Di akhir kegiatan, yang paling berkesan bukan hanya banyaknya pengetahuan yang berhasil dibagikan Awa, tetapi juga cara ia menyampaikannya. Sikapnya yang tenang, tidak tergesa-gesa, dan penuh keyakinan menunjukkan bahwa ia benar-benar menikmati topik yang dipelajarinya. Arca-arca yang bagi sebagian orang mungkin hanya tampak sebagai batu-batu tua, di tangan Awa berubah menjadi jendela yang membuka kisah panjang tentang sejarah, budaya, dan peradaban masa lalu.
Melalui riset ini, Awa tidak hanya belajar tentang arca. Ia juga belajar tentang ketekunan, keberanian mencari jawaban, serta pentingnya menjaga warisan sejarah agar tetap dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi yang akan datang.
Dari Notulensi: Tinita
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply