BAMBU

Selama ini bambu di Indonesia diidentikan dengan kemiskinan dan kaum ndheso—bahkan pemerintah sejak ORBA menetapkan salah satu indikator kemiskinan adalah masyarakat yang masih menggunakan dinding bambu untuk rumahnya. Tapi apa iya kenyataannya seperti itu?walaupun sebuah Rock Band God Bless telah menyangkalnya: Hanya bilik bambu tempat tinggal kita Tanpa hiasan, tanpa lukisan Beratap jerami, beralaskan tanah namun semua ini punya kita. Memang semua ini milik kitansendiri. Hanya alang alang pagar rumah kita tanpa anyelir, tanpa melati. Hanya bunga bakung tumbuh di halaman namun semua itu punya kita.Memang semua itu milik kita. Haruskah kita beranjak ke kotaYang penuh dengan tanya Lebih baik di sini, rumah kita sendiriSegala nikmat dan anugerah yang kuasa Semuanya ada di sini. Rumah kita—Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa Semuanya ada di sini Rumah kita rumah kita ada di sini.

bamboo Terry Arroyo

Sementara orang bijak sering menggunakan bambu sebagai perumpamaan: Ketika pohon bambu ditiup angin kencang, dia akan merunduk. Setelah angin berlalu, dia akan tegak kembali. Fleksibilitas pohon bambu mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup, walaupun badai & topan menerpa. Tidak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tidak ada alasan untuk terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

Fakta tentang bambu: pertama, batang bambu menghasilkan oksigen 1,2 kg/harinya. Jika setiap orang  menanam satu pohon bambu berapa oksigen dihasilkan? Setelah setahun ditanam bambu tersebut akan tumbuh menjadi rumpun. Kedua, bambu adalah tanaman penyimpan air karena memiliki dua jenis akar yaitu akar serabut dan akar rempu. Kemampuannya menyimpan air dapat dijadikan tanaman alternatif untuk tanaman didaerah kering sebagai cadangan air. Ketiga, bambu merupakan antioksida terbaik terutama pada daunnya.

Bambu juga tanaman yang tak memerlukan perawatan khusus, sekali tanam seumur hidup terus berkembang. Bambu yang hidup berumpun hanya ada ditempat dengan banyak gunung berapi, selain fungsi alam untuk menyuburkan tanah bambu juga memiliki banyak manfaat dari akar hingga daunnya. Saat ini serat bambu sedang dikembangkan menjadi serat pakaian, akarnya dapat dimanfaatkan sebagai hiasan nan cantik, daunnya sekalipun dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus karena kemampuannya menyerap kadar gula dalam makanan.

Jangan sembarangan menebang bambu, ada beberapa pantangan menebang bambu, jangan menebang bambu dipagi hari, saat ada rebung, saat bulan purnama, dan jangan menebang dihari selasa dan sabtu. Memang aneh—alasannya yang masuk akal. Semua hanya demi memperoleh bambu yang kuat dan tak rapuh—Kenapa tidak disarankan menebang dipagi hari? Karena saat pagi hari kandungan air dalam batang bambu sedang optimal sehingga jika memaksa ditebang bambu tidak bisa bertahan lama. Kenapa saat tumbuh rebung juga tak bisa ditebang? Karena pada masa ini bambu diibaratkan seperti orang yang sedang mengandung. Kenapa tidak ditebang saat bulan purnama ini juga dikarena saat ini terjadi penumpukan air didalam batang bambu. Lalu kenapa tidak boleh menebang saat hari selasa atau sabtu? Karena pada hari ini terjadi konsolidasi antar ruas.

Cerita lain tentang tata cara penebangan bambu untuk bahan bangunan selain memperhatikan pantangan di atas juga sebaikya penebangan jangan dilakukan pada bulan berakhiran huru “R” dari september sampai desember tapi sebaiknya pada bulan mei sampai agustus karena pada musim tersebut bambu dalam keadaan paling kuat. Nantinya bambu bisa bertahan sampai ratusan tahun. Sementara bambu untuk anyaman sebaiknya ditebang pada saat bulan peralihan antara april sampai mei.

Jadi filosofi bambu terkait negara ini—Kekuatan Indonesia adalah bambu, tapi entah kenapa tanaman bambu di Indonesia masih dianggap sebagai tanaman gulma. Padahal Indonesia merdeka karena bambu—bambu runcing. Intinya bambu adalah senjata memerdekakan Indonesia dan bambu jugalah yang seharusnya mengisi kemerdekaan Indonesia. Negara yang notabene bambu tak tumbuh subur seperti di Indonesia bambu mulai di berdayakan secara serius. Bahkan jepang menanam bambu di Indonesia berhektar-hektar dan mengangkut hasilnya ke negara mereka untuk dijadikan bahan komoditinya. Tapi di indonnesia malah berlomba-lomba membunuh akar bambu yang sebenarnya bisa menjadi tambang ekonomi bagi rakyatnya.

Bambu adalah tanaman dengan rongga dan ruas di batang—bambu memiliki banyak tipe. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat. Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60 cm (24 Inchi) bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat ia ditanam.

Bambu diklasifikasikan lebih dari 10 genus dan 1450 spesies—Spesies bambu ditemukan di berbagai lokasi iklim, dari iklim dingin pegunungan hingga daerah tropis panas. Mereka terdapat di sepanjang Asia Timur dari 50o Lintang Utara di Sakhalin sampai ke sebelah utara Australia, dan di bagian barat India hingga ke Himalay juga terdapati di Sub Sahara Afrika dan di Amerika dari pertengahan Atlantik Amerika Utara hingga ke selatan ke Argentina dan Cili, mencapai titik paling selatan Bambu pada 47o Lintang Selatan. Benua Eropa tidak memiliki spesies bambu asli.

Baru-baru ini telah diupayakan untuk membudidayakan bambu secara komersial di Danau Besar Afrika di Afrika Tengah bagian timur, terutama di Rwanda. Selain itu, berbagai perusahaan di Amerika Serikat juga menumbuhkan, memanen, dan mendistribusikan spesies bambu seperti Phyllostachys edults. Terdapat dua bentuk bambu secara umum, yaitu bambu berkayu dari sukuArundinarieae dan Bambuseae, dan bambu rerumputan dari suku Olyreae. Analisis molekuler dari pastida menunjukkan bahwa terdapat tiga sampai lima garis keturunan utama dari bambu.

Bambu adalah tanaman dengan laju pertumbuhan tertinggi di dunia, dilaporkan dapat tumbuh 100 cm (39 in) dalam 24 jam. Namun laju pertumbuhan ini amat ditentukan dari kondisi tanah lokal, iklim, dan jenis spesies.   Laju pertumbuhan yang paling umum adalah sekitar 3–10 cm (1,2–3,9 in) per hari. Bambu pernah tumbuh secara besar-besaran pada periode Cretaceous, di wilayah yang kini disebut dengan Asia. Beberapa dari spesies bambu terbesar dapat tumbuh hingga melebihi 30 m (98 ft) tingginya, dan bisa mencapai diameter batang        15–20 cm (5,9–7,9 in). Namun spesies tertentu hanya bisa tumbuh hingga ketinggian beberapa inci saja.

Bambu memiliki laju pertumbuhan yang tinggi. Hal ini berarti bahwa ketika bambu dipanen, bambu akan tumbuh kembali dengan cepat tanpa mengganggu ekosistem. Tidak seperti pohon, batang bambu muncul dari permukaan dengan diameter penuh dan tumbuh hingga mencapai tinggi maksimum dalam satu musim tumbuh (sekitar 3 sampai 4 bulan). Selama beberapa bulan tersebut, setiap tunas yang muncul akan tumbuh vertikal tanpa menumbuhkan cabang hingga usia kematangan dicapai. Lalu, cabang tumbuh dari node dan daun muncul. Pada tahun berikutnya, dinding batang yang mengandung pulp akan mengeras. Pada tahun ketiga, batang semakin mengeras. Hingga tahun ke lima, jamur dapat tumbuh di bagian luar batang dan menembus hingga ke dalam dan membusukkan batang. Hingga tahun ke delapan (tergantung pada spesies), pertumbuhan jamur akan menyebabkan batang bambu membusuk dna runtuh. Hal ini menunjukkan bahwa bambu paling tepat dipanen ketika berusia antara tiga hingga tujuh tahun. Bambu tidak akan bertambah tinggi atau membesar batangnya setelah tahun pertama, dan bambu yang telah runtuh atau dipanen tidak akan digantikan oleh tunas bambu baru di tempat ia pernah tumbuh.

Banyak spesies bambu tropis akan mati pada temperatur mendekati titik beku, sementara beberapa bambu di iklim sedang mampu bertahan hingga temperatur −29 °C (−20 °F). Beberapa bambu yang tahan dingin tersebut mampu bertahan hingga zona 5-6 dalam kategori USDA Plant Hardiness Zones, meski pada akhirnya mereka akan meruntuhkan daun-daunnya dan menghentikan pertumbuhan, namun rizomanya akan selamat dan menumbuhkan tunas bambu baru di musim semi berikutnya.

Bambu dari genus Phyllostachys dikategorikan sebagai spesies invasi di Amerika Serikat dan jual-beli maupun perbanyakan adalah ilegal. Tunas bambu empuk, ranting, dan dedaunan adalah sumber makanan utama dari panda di Cina, Panda Merah di Nepal dan Lemur Bambu di Madagaskar. Tikus memakan buah bambu. Gorila Gunung Afrika juga memakan bambu, dan telah didokumentasikan mengkonsumsi nira bambu yang telah berfermentasi dan mengandung alkohol. Simpanse dan Gajah  juga memakan bagian dari batang bambu.

Larva dari pelubang bambu (ngengat Omphisa fuscidentalis) di LaosMyanmarThailand, dan Cina memakan pulp dari bambu yang masih hidup. Larva ngengat ini menjadi bahan makanan setempat.

Kebanyakan bambu berbunga sangat jarang. Faktanya, bambu hanya berbunga dengan interval 5 sampai 120 tahun. Pembungaan massal pada spesies tertentu berbeda-beda waktunya. Pembungaan massal yang paling lama periodenya adalah bambu dari spesies Phyllostachys bambusoides. Spesies ini berbunga secara massal dalam waktu bersamaan meski terpisah secara geografis dan iklim, dan setelah itu bambu akan mati menyisakan rizomanya. Pembungaan ini memiliki dampak yang kecil, sehingga mengindikasikan keberadaan alarm biologis di dalam sel yang memicu penjatahan energi untuk memproduksi bunga dan menghentikan pertumbuhan vegetatif. Mekanisme ini, termasuk penyebabnya secara volusi, masih menjadi pertanyaan.

Satu hipotesis yang menjelaskan evolusi dari pembungaan massal ini adalah untuk “mengenyangkan” predator, di mana pembungaan dan pembuahan dalam waktu yang bersamaan akan meningkatkan ketahanan populasi benih mereka dengan membanjiri area dengan buah sehingga predator akan memakan yang mereka butuhkan dan lalu meninggalkan biji-bijian yang tersisa untuk tumbuh menjadi tanaman baru. Bambu memiliki siklus pembungaan yang jauh melebihi usia hidup rodentsehingga mampu mengatur populasi rodent agar tidak terbiasa memakan buah bambu. Dan bambu dewasa yang mati sebelum berbunga akan lebih efektif jika tidak dipertahankan sebagai mekanisme penyimpanan energi untuk melakukan pembungaan.

Hipotesis lainnya adalah berdasarkan pada teori kebakaran hutan bambu, di mana kematian massal pasca pembungaan memicu gangguan habitat. Bambu yang mengering di atas biji-bijian yang telah jatuh di atas tanah dapat memicu kebakaran hutan akibat sambaran petir. Karena bambu dapat menjadi tanaman suksesi yang agresif, dan tunas bambu yang baru dapat mencegah pertumbuhan tanaman yang lain sehingga mereka mampu menguasai lahan.

Namun kedua hipotesis diragukan dengan berbagai alasan. Hipotesis “pengenyangan” predator tidak menjelaskan secara detail mengapa pembungaan massal memakan waktu hingga 10 kali usia hidup rodent. Dan hipotesis kebakaran bambu diragukan karena tidak ditemukan bukti terjadinya kebakaran hutan bambu akibat sambaran petir; hampir semuanya disebabkan oleh manusia. Dan teori pemanfaatan sambaran petir sebagai satu-satunya alasan dalam kemajuan evolusi bambu diragukan karena sambaran petir merupakan kejadian alam yang sangat tidak terduga. Meski kebakaran hutan akibat sambaran petir sebenarnya terjadi dalam jangka waktu evolusi kehidupan di bumi di beberapa tempat. Dan spesies tanaman Pinus contorta membutuhkan pemicu ekologis seperti kebakaran hutan untuk menyebarkan biji lebih cepat, dan Sequoiadendron giganteum membutuhkan kebakaran hutan agar tunas mereka mampu mendominasi hutan.

Pembungaan massal juga memiliki dampak ekonomi dan ekologis. Kemunculan buah bambu yang secara drastis dapat memicu pertumbuhan populasi rodent, sehingga dapat memicu kerusakan tanaman pertanian setempat. Seperti pembungaan massal oleh tanaman bambu Melocanna bambusoides di Teluk Bengal yang terjadi setiap 30-35 tahun sekali. Rodent juga memicu penyebaran penyakit seperti typhustyphoid, dan wabah pes.

Dalam beberapa kasus, pembungaan massal memicu munculnya kultivar baru di tempat tersebut dengan karakteristik yang berbeda dengan populasi bambu sebelumnya. Sehingga periode pembungaan berikutnya mungkin tidak akan sama dengan periode pembungaan sebelumnya.

Meski tunas bambu mengandung toksin taxiphyllin, senyawa glikosida sianogenik, yang mampu menghasilkan sianida di dalam lambung, pemrosesan yang sesuai akan menjadikan tunas bambu bisa dimakan. Berbagai masakan Asia menggunakan tunas bambu, dan tunas bambu dijual dalam bentuk segar maupun kalengan. Lemur bambu emas memakan tunas bambu mentah dan mereka tidak terpengaruh toksin taxiphyllin.

Tunas bambu dalam kondisi terfermentasi adalah bahan utama dalam berbagai kuliner di Himalaya. Di India disebut khorisa. Di Nepal, tunas bambu difermentasikan dengan kunyit dan minyak sayur, lalu dimasak dengan kentang menjadi masakan yang dimakan bersama nasi (alu tama (आलु तामा) in Bahasa Nepali).

Di Indonesia, tunas bambu yang akan di konsumsi dipotong tipis-tipis dan direbus untuk menghilangkan senyawa toksin,lalu di cuci bersih untuk kemudian dapat di tambahkan santan dan rempah-rempah untuk membuat gulai rebung. Resep lain yang memanfaatkan tunas bambu yaitu sayur lodeh dan lumpia. Tunas bambu yang telah diiris dicuci bersih dan/atau direbus sebelum dimakan untuk menghilangkan toksin.

Acar tunas bambu digunakan sebagai pelengkap makanan, bisa juga dibuat dari inti batang bambu muda (pith)

Getah dari batang bambu muda disadap ketika musim hujan untuk menghasilkan minuman beralkohol. Daun bambu bisa dipakai sebagai pembungkus makanan ringan.

Bagian dalam batang bambu tua biasanya digunakan sebagai alat memasak di banyak budaya Asia. Sup dan beras yang dimasak di dalam batang bambu dipaparkan ke api hingga matang. Memasak di dalam batang bambu dipercaya menghasilkan rasa yang berbeda.

Bambu juga digunakan untuk membuat sumpit dan alat memasak lainnya seperti spatula. Bambu merupakan bahan baku dari berbagai peralatan rumah tangga yang utama sebelum datangnya era peralatan rumah tangga dari plastik. Bakul nasi, tampah, bubu/perangkap ikan, tempat kue (besek), topi bambu (caping) adalah contoh dari beberapa peralatan yang terbuat dari bambu.