Sekolah Daring dan Kemerdekaan Belajar?

Pandemi membuat aktifitas sekolah menjadi berpindah dari tatap muka secara langsung menjadi tatap muka secara virtual. Dalam praktiknya, sekolah model virtual ini atau yang kita kenal dengan istilah Sekolah Dalam Jaringan (Daring) mengalami berbagai drama dan problematika. Tidak hanya anak-anak sekolah, melainkan juga guru dan orang tua semua dipaksa untuk berkejar-kejaran dengan kuota-sinyal-dan kurikulum yang harus dituntaskan sesuai jadwal. Padahal kalau saja kita mau istirahat sejenak dan mau memperbarui informasi, kementerian kebudayaan telah membuat kurikulum darurat yang bisa digunakan oleh semua satuan pendidikan. Kurikulum darurat konon isinya memampatkan beban kurikulum yang sudah ada dengan memangkas bagian-bagian yang dirasa tidak perlu. Lebih longgar katanya.

Sayangnya, di lapangan, masih banyak ditemukan sekolah-sekolah yang menggunakan metode pengajaran biasa hanya pindah secara virtual, menggunakan kurikulum yang padat dan tidak diubah, penuntasan kurikulum menjadi prioritas. Sayangnya, kurikulum darurat yang sudah ada ini hanya berakhir menjadi sebatas pilihan masing-masing institusi pendidikan di tiap-tiap daerah. Kalau mau penyeragaman, kok ya nanggung, kenapa tidak diimplementasikan saja ke dalam semua ruang belajar, bukannya sekolah itu pada dasarnya didirikan untuk menyeragamkan. Menyeragamkan cara berpikir, menyeragamkan pengetahuan, menyeragamkan sudut pandang, menyeragamkan “produk-produk hasil belajarnya” agar layak untuk kebutuhan industri di luaran sana. Bahkan, bukan tidak mungkin, pemakaian seragam sebagai identitas sekolah pun adalah awal dalam pembentukan manusia-manusia industri.

Banyak kendala terkait dengan pelaksanaan sekolah daring ini. Mood anak yang berubah-ubah, orang tua yang tidak selalu mampu mendampingi karena harus bekerja, pemberian tugas kepada siswa tanpa diawali dengan penyampaian materi sebelumnya. Tugas-tugas yang diberikan juga seringnya padat dan banyak. Belum lagi terkendala sinyal lemah dan tidak semua orang tua memiliki perangkat teknologi yang memadai. Ditambah tidak semua kalangan pendidik cakap dalam pembuatan materi ajar yang menyenangkan. Lengkap sudah penderitaan.

Sekolah daring ini membuat jenuh, tapi dia tetap harus bertahan dan tumbuh entah sampai kapan? Tapi benarkah melalui daring esensi dari kemerdekaan belajar yang didengungkan itu dapat tercapai?

Mayoritas orang tua memilih jungkir balik mendampingi anak dalam pembelajaran daring karena menganggap bahwa pencapaian pembelajaran itu semata karena goalnya adalah nilai akademis. Dari enam belas koresponden yang masuk, dan dua hasil wawancara, sebanyak 90% orang tua mengkhawatirkan anaknya akan tertinggal dalam pembelajaran sehingga nilai akademis yang diperoleh menjadi tidak maksimal apabila anaknya tidak melakoni kegiatan pembelajaran daring dari sekolah; ya mengumpulkan tugas, menghapal surah (bagi siswa yang bersekolah di sekolah Islami), hingga hadir dalam pertemuan kelas secara online baik melalui zoom, google meet atau video call. Bahkan ada anak yang dituntut sebanyak 75% kehadiran dalam pertemuan secara daring tersebut. Ah, saya jadi ingat sewaktu zaman kuliah, 75% kehadiran adalah prasyarat agar bisa mengikuti ujian semester, ada yang senasib dengan saya?

Saya kemudian bertanya-tanya, apakah sekolah daring mengalami adanya pengembangan ‘ruh belajar’ dalam pelaksanaannya? Sayangnya, jawaban yang saya temukan masihlah tetap sama dengan pembelajaran sebelum pandemi ini terjadi. Ruh belajar itu bahkan tidak bermetamorfosis, dia masih saja tersembunyi dalam balutan jubah “nilai akademis”.

Hal itulah yang membuat mayoritas orang tua melakukan segala upaya agar anaknya melaksanakan sekolah daring ini dengan khidmat. Kalau orang tua merasa tidak sanggup, proses pendampingan belajar ini akan diserahkan kepada yang dianggap lebih ahli yaitu guru les.

Sungguh belajar demi mencapai nilai akademis itu adalah sebuah kehidupan yang utopis. Jemu dan rupanya semu. Ah, iya, karena saya dulu pun begitu dan sayangnya saya telat tahu.

Kemudian saya mencermati proses pembelajaran daring yang saya lakukan setiap hari, saya mungkin boleh sedikit senang. Model pembelajaran yang bagi sebagian besar orang tua lain berkesan lambat dan tidak up to date ini membuat saya sedikit bisa lega karena penugasan yang diberikan sekolah anak saya masih relatif sederhana dan mudah. Meski setiap hari, pada pukul setengah sembilan pagi tugas sekolah sudah mulai menanti. Penugasan pun biasanya hanya satu atau dua mata pelajaran saja, dan tak lebih dari lima soal yang memerlukan jawaban. Selebihnya anak-anak bebas merdeka untuk bermain. Orang tua memang tidaklah terlalu dibuat repot, namun orang tua dituntut untuk belajar dan menjadi fasilitator dalam penyampaian materi terkait soal yang diberikan. Ya, orang tua mendadak harus mau belajar dan menjadi guru bagi anak-anaknya.  Tapi, bukankah sejatinya orang tua adalah guru pertama dalam kehidupan anak-anaknya. Sosok yang digugu dan ditiru.

Pembelajaran daring selama pandemi ini membawa kisah tersendiri. Semua orang dituntut untuk menjadi lebih berdaya dan mandiri.

Kemerdekaan belajar yang diagungkan Pak Menteri mungkin hanya akan menjadi sebatas mimpi kalau tidak dibarengi dengan mengubah tatanan paradigma masyarakat dari awal tentang makna dari belajar di sekolah.

Apakah sekolah hanyalah semacam tempat biar kamu tambah pinter? Atau hanya sekedar tempat untuk berlomba-lomba meraih prestasi?

Pandemi ini sebetulnya bisa menjadi langkah para pelaku pendidikan untuk mulai berbenah. Kemerdekaan belajar mungkin bisa diawali dengan penugasan melakukan riset sederhana di lingkungan rumah terkait dengan tema pembelajaran. Seperti misal melakukan penelitian terhadap minat diri sendiri kemudian menggalinya. Seperti halnya anak salah seorang teman yang melakukan riset menggoreng nasi sebagai salah satu pengembangan dari tema pembelajaran kegemaranku. Alih-alih memberikan banyak penugasan hanya demi ketuntasan kurikulum semata seperti yang sudah acapkali terjadi.

Sejauh kita masih terbelenggu oleh stigma bahwa sekolah adalah satu-satunya sumber segala ilmu dan pengetahuan, dan masih teperdaya oleh khayalan semu tentang sekolah, mungkin sejatinya kita masih perlu belajar untuk memerdekakan diri kita dari cara pandang yang sempit.

Untuk sampai pada kemerdekaan dalam belajar kelihatannya kita masih perlu belajar untuk menjadi pribadi yang merdeka.

Kalau sekolah dan orangtua masih berpedoman pada standardisasi angka semata, maka kemerdekaan belajar sebetulnya masih jauh dari harapan.

Kepada siapa murid akan mengadu, kalau lingkungan sekolahnya saja masih terbelenggu.