Belajar (Hanya) Dari Mainan

Setiap hari Jumat setelah makan siang, fasilitator SALAM menyelenggarakan “Jumatan” – sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan kegiatan kumpul fasilitator di setiap hari Jumat. Sesi yang berlangsung kira-kira 1.5 hingga 2 jam tergantung kebutuhan dan keseruan ini akan mereview kegiatan yang telah dijalani dalam pekan tersebut, sedikit mempersiapkan kegiatan pekan depan, dan tentu saja menjadi ajang curhat serta senda gurau.

Doc: SALAM. Foto: Clarissa Amadhea.

Jumat ini lebih banyak menyimak cerita fasilitator di kelas 1 dan 2. Dua kelas ini tema riset bersamanya di semester dua adalah tentang mainan. Mainan? Apa yang bisa “dilakukan” mainan untuk menjadi sarana belajar anak selama satu semester penuh? Dari “Jumat ke jumat” inilah menjadi tahu bagaimana proses belajar bersama teman-teman kecil di kelas 1 dan 2 bersama fasilitator juga orangtuanya.

Awal pekan ini setiap anak di kelas 1 dan 2 diminta membawa satu buah mainannya ke sekolah. Ada yang membawa lego, hotweels, seperangkat permainan dokter-dokteran, pasar-pasaran, dan sebagainya. Ada kesepakatan yang dibuat bersama-sama, bahwa mainan ini akan ditinggal di sekolah selama satu semester, bahwa mainan yang ditinggal di sekolah ini akan dimainkan bersama-sama, tiap anak punya kesempatan meminjam mainan milik temannya dengan ijin terlebih dahulu.

Doc: SALAM. Foto: Clarissa Amadhea.

Nampaknya sederhana saja. Namun senyatanya mendapati banyak dinamika menarik di dalamnya. Dari mulai menentukan mainan mana yang akan dibawa ke sekolah, itu sudah sebuah dinamika. Anak akan mengambil keputusan “penting” seperti : “Kalau aku bawa ini ke sekolah, berarti selama satu semester nggak akan bisa main ini di rumah. Bawa nggak ya….?”. Untuk anak usia 7-8 tahun, ini keputusan yang nggak mudah. Bagaikan emak-emak yang harus ninggal daster sobek kesayangannya di kantor, galau membayangkan bakal nggak bisa memakainya di rumah. Tentu saja ini tantangan buat orangtua untuk menahan diri, tidak mengambil jalan pintas dengan : “Udahlah, daripada ribet, mendingan beli aja”.

Orang tua harus menahan diri, anak-anak sedang belajar. Belum lagi pertimbangan tentang : “Kalau aku bawa mainan ini ke sekolah, aku harus rela berbagi mainan ini dengan semua teman-teman di kelasku, tanpa pilih pilih.” Lagi-lagi ini bukan perkara mudah, masalah kerelaan hati untuk berbagi di saat ego mereka masih tinggi. Kita saja yang sudah setua ini tak jarang masih sulit….

Itu baru masalah memutuskan di awal: memilih satu mainan untuk dibawa ke sekolah. Dinamika berikutnya yang tak kalah menarik adalah ketika mainan itu sudah dibawa ke sekolah. Pengalaman-pengalaman menyenangkan pasti ada, namun pengalaman tak mengenakkan pun pastinya tidak terelakkan. Secara alamiah mereka berproses bersama. Berebut mainan, mengingkari kesepakatan tentang mau berbagi mainan bersama teman, pilih-pilih teman yang boleh pinjam mainan, tidak mau membereskan mainan, sampai dengan “lupa” meminta ijin ketika akan memakai mainan temannya. Semuanya muncul bergantian memperkaya dinamika, disinilah justru letak kekuatannya. Semakin banyak peristiwa yang dihadapi anak, fasilitator, dan orangtua, semakin mereka sering belajar menyelesaikan “tantangan” bersama-sama.

Doc: SALAM. Foto: Clarissa Amadhea.

Belajar apa? Bukannya di sekolah itu harusnya belajar berhitung, membaca, dan beberapa pengetahuan (yang entah….) lainnya? SALAM sebagai pusat pendidikan menginsafi bahwa pendidikan haruslah mampu menjadikan manusia (merdeka) yang seutuhnya. Seutuhnya!. Maka aspek kognitif tidak menjadi satu-satunya yang harus dicapai, ada aspek fisik, sosial, dan emosional yang juga tak kalah penting untuk dikembangkan agarĀ  membuat seorang anak menjadi “utuh”. Pendidikan di SALAM ini sejalan dengan pendapat Tan Malaka, bahwa pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Tidak perlu rumit-rumit bagaimana menggabungkannya, perhatikan saja dinamika di atas dari sebuah benda berupa mainan, SALAM secara alami mengolahnya menjadi sarana untuk mengembangkan aspek fisik, sosial, dan juga emosionalnya. Lalu aspek kognitifnya? Tidak perlu khawatir. Mau belajar berhitung? Ya tinggal pakai mainan-mainan itu sebagai benda konkret untuk mengenalkan konsep jumlah, membilang dan mengenalkan lambang bilangan. Mau belajar membaca dan menulis? Tinggal memantik keingintahuan anak bagaimana menuliskan “LEGO”, “BOLA”, “BONEKA” atau apa saja mainan yang ada di kelas mereka. Ketimbang latihan menulis “INI IBU BUDI” yang mungkin memimbulkan pertanyaan kritis, “Budi itu siapa?”