BERHITUNG

Berhitung menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Arti dari berhitung adalah: mengerjakan hitungan (menjumlahkan, mengurangi, dan sebagainya). Sedangkan kemampuan berhitung adalah penguasaan terhadap ilmu hitung dasar yang meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

Mathematics

Pelajaran berhitung menjadi syarat untuk dapat belajar matematika. Tapi didak semua orang harus bisa matematika. Seorang tukang bakso tidak perlu mengetahui nilai sin 30 itu berapa ? tapi dia perlu tahu berapa uang ia dapatkankan dari penjualan 30 porsi bakso yang ia jual.

Pengajaran berhitung sudah dimulai sejak dini sebelum anak mengenyam pendidikan secara formal (prasekolah), umumnya orangtua mengenalkan pelajaran berhitung kepada anak anaknya melalui sebuah lagu dengan visualisasi jari mereka (lagu satu-satu aku sayang ibu). Selanjutnya disekolah baik PAUD, TK dan Sekolah Dasar awal (kelas satu dan dua) anak-anak mulai diajarkan angka dalam berhitung.

Pada saat itulah semua elemen pendidik berusaha menanamkan angka sebagai sebuah nilai pengganti dari sebuah jumlah. pada masa ini mereka mulai belajar mengenal angka, angka 2 untuk mengantikan 2 mangga dan  5  untuk mengantikan jumlah 5 mangga. Angka merupakan bentuk abstrak yang harus dipelajari anak didik untuk menunjang kemampuan berhitungnya kelak.

Saya memiliki pertanyaan mengelitik ketika anak yang sudah mengenal angka harus kembali belajar berhitung dengan alat  bantu (benda maupun anggota tubuh) dalam berhitung dalam upaya meningkatkan kemampuannya dalam berhitung. Jika kita sudah mengajarkan ANGKA pada siswa berarti kita sudah memberikan suatu bentuk yang abstrak kepada otak mereka tentang jumlah.

Dengan menggunakan alat sebagai media bantu dalam berhitung tentunya kita membawa kembali bentuk yang abstrak ke bentuk nyata. Bukankah ini suatu langkah yang menghambat kemajuan siswa pada akhirnya.

Berbagai metode saat ini mengklaim sebagai cara yang mumpuni dalam mengajarkan berhitung. Tapi sekali lagi ada suatu pertanyaan yang besar bagi saya. Mengapa? dan apa yang mendasari cara tersebut sehingga anak  harus mempelajarinya untuk meningkatkan cara berhitung mereka.

Saat ini dikenal metode berhitung jika kita mau membuka halaman google, kita akan dapatkan berbagai cara yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berhitung seperti Mental Math, Speed Math, Mental Aritmatik, Trancerberg, Vedic bahkan di Indonesia sendiri ada metode baru yang merupakan intisari dari cara tersebut dan telah sukses membawa anak indonesia juara Olimpiade.

Semua cara yang di ajarkan coba saya rangkum dan pelajari. Ada kelebihan dan ada pula kekurangannya. Tapi jawaban atas mengapa kita harus mempelajarinya belum saya temukan.  Dan mengapa cara tersebut jika memang baik dan mudah mengapa sekolah sebagai tempat anak belajar tidak menggunakannya sebagai pilihan dalam proses pengajaran.

Roger Wolcott Sperry tentang otakdan teori otak dalam berhitung. (Hartford,20 Agustus 1913 – 17 April 1994) ialah seorang neuropsikolog yang menemukan bahwa akal manusia terdiri atas 2 bagian. Ia menemukan bahwa otak memiliki fungsi yang terspesialisasi di sisi kiri dan kanan, dan kedua sisi itu dapat berfungsi praktis tanpa bergantung satu sama lain. Karya Sperry membantu pemetaan otak dan membuka seluruh bidang masalah psikologi dan filsafat. Sperry dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1981 bersama dengan David Hunter Hubel dan Torsten Nils Wiesel. Sebagai hasil dari penelitian beliau kita mengenal tokoh-tokoh terkenal lainnya seperti GADNER dengan Multiple Intelegent dan Tony Buzan dengan Mind Mappingnya. Semua penelitian mereka mengacu akan hasil dari penelitian yang telah dilakukan Roger Wolcott Sperryyang menjelaskan bahwa otak memiliki fungsi yang terspesialisasi di sisi kiri dan kanan, dan kedua sisi itu dapat berfungsi praktis tanpa bergantung satu sama lain.

Untuk itu sebelum kita mempelajari suatu metode dalam berhitung  adalah baik kita mempelajari fungsi dan cara kerja otak dalam berhitung.

Matematika (berhitung), Menulis adalah bagian dari fungsi otak kiri dan cara bekerja otak kiri adalah linear, teratur, urut (menangani hal satu persatu) berbeda sekali dengan otak kanan yang berkerja secara acak tidak teratur, menangani hal banyak sekaligus (global). Sehingga timbul suatu pertanyaan ?

Apakah kita dalam mengajarkan berhitung sudah sesuai dengan  fungsi dan cara kerja otak dalam berhitung? Apakah metode berhitung yang ada selama ini sudah sesuai dengan fungsi dan cara kerja otak dalam berhitung? Hampir pada kesimpulan setelah mempelajari cara mereka, saya mengatakan belum ?

Sekedar meningatkan, kita pernah mendapatkan istilah Lima di jari satu di otak ketika proses pembelajaran penjumlahan di masa kanak-kanak. Bukankah itu suatu bukti bahwa otak tidak mampu menerima dua instruksi sekaligus dalam satu waktu. Sehingga kita memerlukan bantuan jari dalam berhitung.

Cobalah menjumlahkan 567+765 itu berapa dan 567 x 879  itu berapa?  Lakukan cara tersebut dengan menjumlah dan mengkali dari belakang. Apa yang otak anda rasakan saat ini.  Apakah otak anda merasa terbebani? Bagaimana jika pertanyaan tersebut diajukan kepada siswa didik kita kelas 3 dan mulai belajar perhitungan tersebut. Bagaimana tingkat keberhasilan mereka ?(kebetulan saya adalah orangtua murid dari anak saya yang duduk di kelas 3 SD). Otak mereka akan terbebani bukan ? Ya perhitungan dari belakang selalu menyertakan dua instruksi atau lebih ke dalam otak secara simultan.

Kita saat ini selalu berangapan bahwa berhitung dan menulis adalah sesuatu yang berbeda dan terpisahkan. Bukankah berhitung dan menulis merupakan kesatuan dari fungsi otak kiri? Bukankah Berhitung dan menulis memiliki cara kerja kerja yang sama ?

Cobalah Menulis “Aku ingin belajar berhitung lagi” . kita dengan mudah menuliskannya bukan.   karena menulis kalimat tersebut tidak diperlukan kemampuan berpikir yang dalam. Kita tahu harus memulai dengan menuliskan huruf apa, lalu diikuti huruf apa hingga diakhiri dengan huruf apa untuk menjadi suatu kata, menguntai kata demi kata menjadi suatu kalimat. Dalam menulis terjalin koordinasi otak dan tangan, Otak memberikan instruksi secara simultan atau berkesinambungan huruf apa saja yang harus dituliskan satu demi satu untuk menjadi sebuah kata.Dan kita tahu tidak akan menuliskan huruf “K” sebelum menuliskan huruf  “A” di awal kalimat karena kita sudah tahu letak dan posisi huruf yang akan dituliskan bukan? Otak sudah hapal semua bentuk huruf yang harus dituliskan dan memberikan instruksi ke tangan untuk menuliskannya. Terkesan mudah bukan. Yah karena otak sudah menyimpan semua bentuk huruf yang akan dituliskan.

Begitupun kita dalam berhitung jika sudah hapal penjumlahan dan perkalian satu angka dengan satu angka tentunya otak sudah menyimpan angka angka yang akan dihasilkan dari penjumlahan dan perkalian tersebut tinggal bagaimana kita menuliskan hasilnya dan menempatkan angka tersebut.

Mengapa kita harus memisahkan antara berhitung dan menulis menjadi sesuatu hal yang berbeda? Mengapa kita tidak mencoba menjadikan kesatuan antara menulis dan berhitung?

Itulah yang mendasari metode yang saat ini coba saya hadirkan“BERHITUNG SEPERTI MENULIS”Otak tidak memerlukan kemampuan berfikir yang dalam ketika berhitung tanpa memerlukan proses membayangkan (Visualisasi atau foto frame) cukup tulis tulis dan selesai.

Berikut contoh penjumlahan dan perkalian dengan menggunakan Metode Berhitung Seperti Menulis.

       

 Perhatikan warna pada soal dan jawaban pada tiap alenia dan lingkaran untuk jawaban pada alenia selanjutnya.

“BERHITUNG SEPERTI MENULIS” merupakanpenggabungan dari beberapa cara berhitung seperti : sistem perhitungan Vedic, system Trancerberg di tambah Ilmu berhitung cepat (Mental Math karya Athur Benyamin) Speed Math oleh Bill Handley. yang semuanya menggunakan system perhitungan dari depan (kiri ke kanan). Saya mengkombinasikan model- model perhitungan yang mereka lakukan sehingga di dapat metode pengajaran berhitung yang telah disesuaikan dengan fungsi dan cara kerja otak dalam berhitung sehingga menjadi lebih mudah, sederhana, cepat dan akurat serta lebih mudah dicerna dan dipahami baik oleh anak maupun guru serta orang tua yang mendampingi siswa dalam belajar.[Supriyadi, Guru Bimbingan Belajar]