Catatan Akhir Semester SMA SALAM (Sanggar Anak Alam)

“… Semester ini kami ditantang fasilitator untuk menggunakan kuantitas dalam menentukan indikator keberhasilan belajar kami,” ujar Rere saat mempresentasikan indikator keberhasilan belajar semester ini pada Presentasi Kelas 10 semester kedua. Ia lantas melanjutkan dan mengakhiri presentasinya dengan kesimpulan yang berisi penilaiannya sendiri atas capaian belajarnya.

KREASI siswa SMA SALAM

Tiap semester, kami, warga belajar SMA Sanggar Anak Alam (SALAM), memang selalu mengawali dengan mendiskusikan dan memilih tema riset, menyusun indikator dan menentukan sendiri jadwal riset masing-masing. Perancangan riset yang membutuhkan waktu satu hingga dua minggu itu akan menjadi panduan bagi masing-masing anak dalam menjalankan riset mandiri mereka selama satu semester. Semester ini, fasilitator sengaja menantang tiap anak untuk memasukkan kuantitas dalam indikator belajar terkait hasil produk/ pekerjaan yang harus dicapai. Maka seperti Rere, misalnya, yang memilih tema ‘produk kerajinan dari tekstil bekas’, ia harus secara spesifik menentukan misalnya ‘berhasil membuat 4 tas sulam, 4 dompet patchwork, dan 5 aksesoris’ dalam target belajarnya.

Capaian atas indikator keberhasilan belajar itu kemudian mereka presentasikan pada Senin, 28 Mei 2018 yang lalu. Beberapa anak, seperti Satria, Vena dan Rico mempresentasikan hasil dengan mempraktekkan langsung tema-tema riset yang mereka pilih. Satria dengan membuka lapak sablon, Vena dengan melakukan make-up tutorial dengan bantuan Cita sebagai model, dan Rico dengan mempraktekkan cara membuat t-shirt mock-up dari desain yang sudah ada. Sementara Sekar, Rere dan Raykhan menunjukkan hasil karyanya selama 1 semester, baik dalam bentuk pameran maupun presentasi powerpoint.

Tanah, yang pada semester lalu memeriahkan presentasi dengan unjuk lagu barunya bersama Eman-eman Band, kali ini tampil bersama teman-teman kelas 7. Bagi kami selaku fasilitator, hal ini cukup menggembirakan. Ide berkolaborasi sebenarnya sudah kami usulkan sejak semester lalu, tapi saat itu Tanah enggan. Semester ini, saat semua kawan sedang mendiskusikan tentang kemasan presentasi, Tanah tampak antusias dan setuju dengan usulan kami untuk berkolaborasi. Saat itu Tanah tidak langsung memutuskan dengan siapa ia ingin berkolaborasi. Ia tampak galau, apakah dengan grup ‘Drumbleg’ atau dengan teman-teman kelas 7. Namun di hari kedua diskusi, Tanah memutuskan ingin berkolaborasi dengan teman-teman kelas 7 karena ‘ada lagunya’, sementara jika bermain dengan ‘Drumbleg’ akan sepenuhnya perkusi.

Di akhir penampilan, mbak Cipi sempat bercerita sedikit tentang proses latihan kolaborasi ini. Selain hanya berlatih dua kali, Tanah juga belajar beberapa hal baru. Sebelum memutuskan lagu yang dipilih, mbak Cipi membantu Tanah memilih beberapa lagu untuk diunduh dan didengarkan sendiri oleh Tanah. Keesokan harinya, Tanah berhasil mengunduh sendiri beberapa lagu dari band favoritnya, seperti Naif dan Wali.

Tanah dan mbak Cipi seringkali menyepakati istilah-istilah sebagai kode untuk mempermudah saat berlatih. Pada kolaborasi kali ini, mereka berhasil menyepakati istilah ‘break-break’ sebagai kode dimana sebuah pola permainan harus dijeda untuk memberi waktu bagi instrumen lain memainkan melodi.

Presentasi terakhir adalah presentasi dari fasilitator kelas terkait kegiatan yang kami rencakan sebagai media belajar dan kegiatan literasi yang telah terlaksana. Di akhir presentasi yang berakhir tepat pukul 12.00 WIB, pak Gemak selaku pembawa acara menginisiasi sebuah diskusi singkat bersama orangtua dan teman-teman SMA. Pada diskusi kali itu, Bu Dede selaku orangtua Sekar berbagi cerita tentang kesulitan yang dihadapi putri sulungnya dalam menjalankan riset. Tema riset ‘bisnis baju dan tas’ yang dipilih Sekar ternyata cukup berat dijalani karena Sekar merasa itu bukan passion-nya. Saya merasa cukup lega ketika mendengar cerita ini. Artinya komunikasi antara orangtua dan anak telah terbangun dengan sendirinya tanpa fasilitator perlu campur tangan.

Pak Gemak lantas menjelaskan pilihan sikap fasilitator SMA untuk tidak terlalu banyak menginformasikan tentang proses perjalanan riset tiap-tiap anak pada orangtua. Alasan utamanya adalah karena anak-anak kelas 10 dianggap telah memasuki usia pra-dewasa yang sudah mampu membangun komunikasi dengan orangtua dan keluarga. Saya pribadi seringkali merasa, pada beberapa anak, terlalu banyak menginformasikan (atau jika capaiannya minim maka akan terdengar seperti ‘melaporkan’) pada orangtua justru akan mengganggu proses terbangunnya kesadaran diri pada anak.

Bu Woro, ibu dari Raykhan, juga mengungkapkan bahwa Raykhan banyak mengalami perubahan sejak kembali bersekolah di SALAM. Sebelumnya saat Raykhan masih bersekolah di sekolah formal, ia selalu tampak suntuk tiap pulang sekolah. Tentu saja masih ada PR besar baginya untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan putranya, namun sejak kembali bersekolah di SALAM, bu Woro merasakan mood Raykhan jauh lebih baik.

Walaupun hanya sebentar, namun kesempatan berdiskusi dengan orangtua ini cukup menggembirakan. Selain itu ketujuh siswa SMA kelas 10 berhasil menutup tahun ajaran ini dengan percaya diri saat melakukan presentasi. Saya juga sangat bangga pada ketekunan Tanah menulis semester ini. Tulisan yang ia susun bersama bu Nik di rumah seringkali ia sodorkan ke muka saya jika dalam kurun lebih dari satu minggu lupa saya tanyakan di kelas. Saya bahkan berkhayal, kelak tulisan-tulisan ini bisa disusun menjadi semacam cerita bergambar karena sangat komikal.

Saya juga bahagia melihat karya hasil kolaborasi Raykhan dan Rere di lapak sablon Satria yang berhasil menggalang donasi hingga mencapai tigaratus ribuan. Begitu juga dengan Vena yang berhasil melakukan tutorial make-up dengan santai walaupun gobyos. Saya juga mengapresiasi keberanian Sekar mengakui bahwa pilihan risetnya kali ini ternyata jauh dari passion-nya. Sementara, meskipun berkali-kali melakukan distorsi gambar saat praktek, namun tetap mau hadir dan maju saat presentasi adalah sebuah bentuk keberanian tersendiri bagi Rico. Sebelumnya, di kesempatan lain yang mengandung kerja dan tanggung jawab, Rico lebih memilih tidak hadir.

Lalu apakah saya puas? Tidak. Saya sangat menyayangkan hasil belajar beberapa anak, yang jika mereka lebih fokus, tekun dan penuh inisiatif, bisa mempresentasikan hasil belajar yang jauh lebih kompleks. Hasil belajar yang jika dipresentasikan bisa menjadi sumber belajar baru, baik bagi diri mereka sendiri, maupun orang lain, terutama bagi adik-adik kelas di SALAM.

Tapi mau bagaimana lagi? Saya hanya pendamping belajar yang tidak terlalu banyak berguna jika yang didampingi lebih suka menggenggam gadget daripada cita-cita dan impian. Paling tidak, seperti kata pak Candra, sayalah yang belajar banyak semester ini. Belajar sabar. []