Di tengah pandemi, SALAM BERREFLEKSI

Persiapan saya sudah cukup dengan mengisi ulang paket data 5 GB di ponsel saya untuk hari istimewa ini, yaitu peringatan ulang tahun SALAM yang ke-20. Mulanya ultah SALAM ini direncanakan jauh-jauh hari dengan pembentukan panitia ultah yang melibatkan para orang tua SALAM. Apa mau dikata, Corona melanda dan meminta kita tidak ke mana-mana alias di rumah saja. Maka dibuatlah penyesuaian perayaan ini dengan refleksi bersama 20 tahun SALAM di rumah masing2 keluarga dengan memanfaatkan teknologi, IG LIVE yang bisa diakses sambil selonjoran dan makan keripik.

Karena ini refleksi, saya pun menyiapkan buku catatan dan bolpen juga, agar tidak kehilangan pesan penting dari para narasumber kali ini. Ada pendiri SALAM: Bu Wahya dan Pak Toto, orangtua (ortu) SALAM: Pak Dacok, fasilitator SALAM: mbak Sabeth dan siswa SALAM: mbak Rere.

Diawali doa yang indah dari Bu Widhi yg merupakan fasilitator kelas Taman Anak, mengucap harap agar kita semua semakin berpikiran terbuka dan berjiwa merdeka.

Dilanjutkan dengan potong tumpeng ultah oleh Bu Wahya, yang potongannya diberikan kepada Sandhy sebagai perwakilan generasi penerus nilai-nilai yang ada di SALAM.

Dari perbincangan santai yang dimulai pada pukul 16:21 berakhir pukul 17:50, saya menyarikan beberapa hal penting poin refleksi:

  1. SALAM mempunyai tantangan tersendiri sejak berdirinya di Lawen dulu (baca kisah lengkapnya di buku Sekolah Biasa Saja). Tantangan itu akan terus ada dan minta dijawab: bagaimana pendidikan itu seharusnya bisa memutus mata rantai kemiskinan. Pendidikan jangan hanya berbasis hafalan tanpa melihat realitas yang ada sehingga bisa menyelesaikan permasalahan hidup yang terjadi di masyarakat ( Bu Wahya)
  2. Pandemi Covid 19 yang membuat tiap keluarga belajar di rumah saja tanpa tatap muka di sekolah, justru merupakan saat-saat apa yang diyakini SALAM selama ini diuji. Belajar dari keseharian, belajar dari lingkungan terdekat, belajar dari keluarga itu sendiri karena orang tua adalah pendidik pertama dan paling utama. Pandemi menjadi titik balik SALAM meneguhkan diri. Sekolah bisa di mana saja, belajar bisa dari siapa saja (Bu Wahya)
  3. Hubungan antar ortu SALAM berjalan romantis. Saling peduli dalam relasi sehari-hari itu bukan keanehan. Anakmu ya anakku, adikmu ya adikku. Semua dilakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Tidak ada yang melakukan sesuatu untuk pencitraan semata. Itulah yang menguatkan SALAM dan bisa berdiri hingga sekarang. Di SALAM, justru yang belajar adalah para ortunya. Belajar untuk tidak egois memaksakan kehendak dan harapan terhadap anak-anaknya. Hal seperti membantu seorang anak yang terjatuh di selokan sekolah sepertinya sangat mulia dilakukan oleh ortu. Namun ortu juga harus memberikan kepercayaan kepada anak bahwa mereka bisa mencari penyelesaian masalah sendiri, bangun dari selokan dengan upaya sendiri tanpa bantuan (berdasarkan cerita Bu Wahya, Rere dan pengalaman Pak Dacok)
  4. Di antara pendiri SALAM yaitu Pak Toto dan Bu Wahya tentunya pernah terjadi perbedaan pendapat. Namun mereka selalu mengingat bahwa esensi dari apa yang ingin mereka perjuangkan sebetulnya sama. Pak Toto bilang bahwa urip bebrayan di SALAM selalu dihidupi bukan hanya hidup di tengah dunia yang memikirkan untung rugi semata (Pak Toto dan Bu Wahya)
  5. Selama ini SALAM dianggap eksklusif, dengan adanya kuota siswa 15 anak saja di kelas. Tergantung kesiapan SALAM juga nantinya, apakah memungkinkan penerimaan siswa lebih banyak dan mengatur proses tatap muka dengan memanfaatkan teknologi. SALAM harus selalu siap dengan perubahan, untuk itu perlu disukseskan dengan membangun komitmen bersama, membuat perencanaan baru yang lebih baik (Bu Wahya)
  6. Pendiri SALAM selalu memosisikan bahwa SALAM adalah KITA, segala pemikiran beliau berdua (Pak Toto dan Bu Wahya) selalu di-share kepada orang tua lainnya sehingga mereka tidaklah kawatir akan kelanjutan SALAM nantinya, sekalipun saat ini lebih banyak orang mengidentikkan SALAM dengan Bu Wahya atau Pak Toto. Selalu ada harapan generasi penerus yang lebih baik dan tiap generasi punya style masing-masing (Pak Toto dan Bu Wahya)
  7. Beberapa harapan untuk SALAM di usia yang lagi hot-hotnya ini (kata Pak Dacok):

– Rere: semoga SALAM bisa terus berdinamika.

– Pak Dacok: saatnya melihat ke dalam diri untuk menjadi lebih baik ke depannya, lebih dewasa dan terus bertahan.

– Pak Toto: SALAM pernah mendeklarasikan diri sebagai sekolah keluarga. Dengan adanya pandemi ini, SALAM ditantang bagaimana memaksimalkan keluarga sebagai pusat pembelajaran. Nantinya Pak Toto ingin membuat semacam webinar untuk mengajak para ortu memikirkan perencanaan baru, mengatur perwujudan gagasan penting tersebut.

-Mb Sabet: SALAM sebagai tempat untuk belajar, semoga terus bisa menjadi wadah untuk belajar bersama.

Refleksi saya yang baru 2 tahun menyekolahkan Gara anak saya, di sini: Menjadi orang tua yang selalu siap mendampingi anak belajar itu tidak mudah, perlu dipikirkan bersama, apalagi dengan adanya corona yang menahan keluarga 3 bulan terakhir ini di rumah saja.

Saya dan ayah Gara juga tidak selalu sependapat, tp kami masih bergantian mendampingi kegiatan Gara sebisa kami. Membangun kesepakatan dengan Gara pun sering tidak sukses, verbal yg keras dan hukuman fisik masih terjadi di rumah. Masalah pangan juga belum bisa sehat sepenuhnya, masih makan makanan instan. Masalah tanam-menanam juga tidak maksimal. Belum lagi tentang pengolahan sampah di rumah. Intinya keluarga saya belumlah SALAM 100% tapi untunglah ada banyak ruang untuk belajar dan bertumbuh dan di SALAM tidak dituntut sempurna, bahkan sepertinya tidak ada hal yang wajib mutlak. Yang ada malahan disuruh mikir sendiri: bagaimana caranya JAGA DIRI JAGA TEMAN JAGA LINGKUNGAN. Nahhhhh itulah permasalahan sekaligus tantangan yg saya rasakan di SALAM. Yang jelas memang banyak orang di luar SALAM yang punya pikiran negatif mengapa saya menyekolahkan anak di SALAM. Pastinya hal ini juga dirasakan banyak ortu lain di SALAM. Tapi tak apa, justru ini juga menjadi tantangan bersama untuk semakin meneguhkan diri berada di SALAM, seperti yang dikatakan Pak Toto dan Bu Wahya. Akhir kata, selamat ulang tahun ke-20 untuk SALAM Yogya, mari kita maksimalkan lagi urip bebrayan, karena SALAM adalah KITA.

Terima kasih SALAM dan segenap warga di dalamnya, saya boleh berproses bersama