Blog

Napas Demokrasi Kecil di SALAM

Ditulis oleh Langit Senja

Tidak setiap peristiwa pergantian kepemimpinan memerlukan gegap gempita. Tidak setiap pemilu mesti menjadi panggung perebutan kuasa atau lomba popularitas. Di sebuah sudut kecil dunia yang bernama SALAM—sebuah sekolah yang memelihara hidup dengan lembut dan lambat—peralihan kekuasaan bisa jadi berlangsung seperti menyalakan lilin di pagi hari: tak dramatis, tapi menghangatkan dan menandai harapan baru. Pada 20 Juni 2025, Organisasi Anak SALAM (OAS) berganti nakhoda. Langit Senja, ketua periode sebelumnya, menyerahkan tongkat estafet kepada Feo—seorang murid yang bukan hanya mendapat kepercayaan teman-temannya, tetapi juga bersedia menerima tanggung jawab yang ditawarkan. Tidak mudah menemukan figur seperti itu.

Sebab sebelum nama Feo resmi dinyatakan, OAS sempat berada di ujung keraguan. Regenerasi yang mestinya menjadi proses alami dari sebuah organisasi justru tersendat di hadapan kenyataan: tidak ada yang ingin, atau merasa cukup layak, untuk memimpin. Situasi ini mungkin mengherankan bagi dunia luar yang terbiasa dengan obsesi terhadap jabatan. Tapi di SALAM, jabatan bukanlah sesuatu yang diburu. Di sini, keberanian untuk memimpin adalah perkara batin dan kesadaran, bukan sekadar prestise atau urusan daftar riwayat hidup.

Beberapa opsi pun dibahas secara terbuka. Salah satunya: melanjutkan kepengurusan lama. Rasional dan praktis, namun segera ditolak karena dianggap tidak etis dalam semangat demokrasi yang ingin mereka jaga. Lainnya: membubarkan OAS. Sebuah ide ekstrem tapi jujur—karena tak ada gunanya memelihara struktur tanpa nyawa. Namun, opsi ketiga akhirnya dipilih: penjaringan nama dan pemilu, walau dengan segala keterbatasan waktu di tengah hiruk pikuk kegiatan sekolah.

Inilah demokrasi dalam bentuknya yang paling sederhana dan mungkin paling jujur: selembar kertas, sebuah nama, dan sebuah harapan. Tidak ada kampanye, tidak ada spanduk. Hanya anak-anak yang memilih temannya yang dianggap “cocok” untuk mengayomi.

Dari delapan nama yang muncul, hanya satu yang mengiyakan ketika ditanya kesediaannya. Feo. Yang lain menolak secara halus—lebih nyaman menjadi pendukung daripada pemegang komando. Di sinilah kejujuran dan kebebasan bertemu dalam bentuknya yang bersih: tak ada tekanan, tak ada paksaan. Dan pada akhirnya, keputusan dibuat. Feo akan menjadi ketua, tanpa pemilu ulang. Sebab suara terbanyak telah ia kantongi, dan yang lain memilih diam, atau mundur selangkah.

Apakah ini demokrasi? Barangkali ini bukan bentuk yang lazim di dunia orang dewasa. Tapi justru di sinilah keunikan SALAM sebagai ruang pembelajaran kehidupan. Mereka tidak mengajari anak-anak untuk rebutan kuasa, tapi menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab. Bukan soal siapa yang menang, tapi siapa yang mau menanggung.

Langit Senja mengakhiri masa jabatannya dengan sederhana, dan dengan kejujuran yang layak dihargai. Ia meminta maaf atas segala kekurangan, dan berterima kasih atas segala dukungan. Ia menutup masa jabatannya bukan dengan klaim keberhasilan, tapi dengan ketenangan seseorang yang telah menyelesaikan tugasnya.

Dan kita, yang menyaksikan kisah kecil ini dari luar, belajar sesuatu: bahwa demokrasi tidak hanya hidup di ruang parlemen atau bilik suara lima tahun sekali. Ia hidup juga di kertas kecil yang dibagikan di kelas, dalam bisik-bisik yang menyebut nama dengan penuh harapan, dan dalam keberanian seorang anak untuk berkata, “ya, aku bersedia.”

Feo, seperti Langit sebelumnya, kini berjalan dalam ruang tanggung jawab itu. Tidak dengan gegap gempita. Tapi dengan langkah yang, semoga, ringan dan ikhlas. Sebab demokrasi yang sehat, seringkali justru lahir dari keheningan yang jernih.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *