Doa Orang Samaria

Sekolah Desa#4. Begitulah tulisan yang saya baca di banner acara yang berlangsung Minggu, 15 Juli 2018 lalu. Saya sama sekali tidak memiliki wawasan tentang diskusi yang akan berlangsung di Balai Desa Ngentakrejo, Lendah, Kulonprogo ini. Saya hanya diajak dengan pesan singkat dari pak Toto Rahardjo, “Besok ikut ke Kulonporogo ya.”

Anak-anak Desa Jaman Dulu Foto by.Totok Anwarsito

Ketika kami datang pukul 10.00 WIB pagi itu, pembicara dari komunitas Bule Mengajar-Kulonprogo, Lia Andarina, sedang memaparkan profil diri dan profil komunitas yang telah berlangsung sejak beberapa tahun silam. Sesi berikutnya, setelah jeda menyantap kudapan gebleg dan tempe benguk, adalah paparan dari Qaryah Thayibbah, Salatiga.

Setelah perut mulai terisi oleh berbagai kudapan, baru saya menangkap benar inti dari acara yang diinisiasi oleh komunitas Ketjilbergerak berkolaborasi dengan Karang Taruna Tunas Harapan, Desa Ngentakrejo, ini. Pemberdayaan masyarakat desa lewat pendidikan alternatif. Itulah inti diskusi yang membuat saya harus bangun pagi di hari Minggu terakhir libur panjang ini.

Sekolah Desa?

Itulah yang menjadi kalimat pembuka slide presentasi pak Toto, yang tampil sebagai pembicara terakhir siang itu. Apa yang dimaksud dengan ‘sekolah desa’? apakah benar desa-desa masih membutuhkan sekolah? Apakah sekolah yang ada sudah benar-benar melakukan tujuannya untuk membangun ‘manusia yang seutuhnya’? Lalu jika yang akan kita rintis adalah sekolah yang tidak jauh beda dengan sekolah yang sudah ada, maka apakah nantinya juga akan menjadi solusi untuk memberdayakan masyarakat desa? Begitulah kurang lebih pak Toto membuka paparannya. Khas dan cukup mengobrak-abrik alam pikiran umum.

Bagaimana Nasib Desa di jaman kini? Foto Totok Anwarsito

Jika memang sedianya para muda-mudi sebuah desa hendak melakukan pemberdayaan lewat pendidikan, maka perlu disadari bahwa tujuan utamanya hendaklah untuk membuat warga menjadi ‘melek’ informasi. Literated. Melek berarti bukan sekedar ‘tahu’ namun sekaligus ‘mau’.

‘Tahu’ berarti, warga mampu mengenali, mengurai, menilai dan memutuskan berbagai hal terkait permasalahan yang dihadapi di lingkungan dan komunitas desanya. ‘Mau’berarti memiliki kehendak untuk melakukan, menerapkan, mengembangkan serta pada akhirnya mau berbagi sebagai bagian dari kehendak hidup bebrayan. ‘Mau’ dalam konsep bebrayan ini dapat memuncak dalam bentuk kesediaan seluruh anggota masyarakat untuk bersepakat dengan sebuah ketentuan.

Sejarah berdirinya Sanggar Anak Alam (SALAM)  di Lawen, Banjarnegara, serta praksis pendidikan SALAM yang telah berlangsung 18 tahun di Nitiprayan, Bantul menjadi contoh praktek pendidikan yang berbasis pemberdayaan, baik masyarakat maupun orangtua. SALAM hingga hari ini masih menerapkan konsep ‘membangun kesepakatan’ alih –alih menyusun sederet peraturan sekolah yang harus disepakati.

Pak Toto juga memaparkan untuk berhati-hati dengan diksi ‘sekolah’. Kata ‘sekolah’ itu sendiri telah terbingkai dan teridentifikasi erat dengan beragam ‘persyaratan umum’. Bahwa sekolah harus ada ruang kelas, guru, kurikulum, hingga ujungnya urusan administratif terkait akreditasi. Jika ingin bergerak leluasa, para penggerak-penggerak cukup memilih diksi sederhana serta bersifat aplikatif, semacam ‘kursus membuat tempe’, ‘kelas pembibitan lele’, dan sebagainya.

Diskusi berlangsung hangat.muncul beberapa pertanyaan dari peserta-peserta diskusi yang telah merintis kegiatan belajar di desa masing-masing. Persoalan yang umum terjadi adalah tentang bagaimana membangun kepercayaan para orang-orang tua di desa, bagaimana membuat anak-anak tertarik untuk terus terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang sebagian besar bersifat afterschool, dan lain sebagainya.

Kesimpulan diskusi siang itu adalah untuk merintis kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis pendidikan, dibutuhkan berbagai hal. Waktu, ruang serta ketekunan saja tidak cukup. Dibutuhkan konsep yang kuat serta peran serta seluruh elemen untuk menyelenggarakan gerak pendidikan yang berkesinambungan.

Paparan pak Toto siang itu ditutup dengan sebuah kutipan ‘Doa Orang Samaria’, yang berbunyi:

Ya  Tuhan, berilah aku kemampuan mengubah apa yang bisa diubah,

Berilah kesabaran menerima apa yang tidak bisa diubah,

serta berilah kearifan untuk memahami perbedaan di antara keduanya. []