Siapa yang Harus Bercermin?

Nulis meneh ayuk. Begitu pesan singkat dari Pak Toto Rahardjo yang saya terima di suatu siang. Pendek, tapi berimplikasi dasyat. Kenapa? Karena saya termasuk orang yang memiliki mood naik turun, begitu pula dengan motivasi yang mungkin bisa dikatakan kurang. Intinya, lebih banyak malesnya dibanding geraknya.

Rachel dan teman-teman sedang merencanakan petualangan. Foto Yanuar Surya

Bukan sekali dua kali Pak Toto mengirimkan pesan singkat seperti itu via Whatsapp. Mungkin beliau juga mengirimkan pesan itu ke orang tua SALAM yang lain, dan mungkin juga akan segera dijawab dengan kiriman tulisan yang panjang, menarik, dan berbobot. Sedangkan jawaban yang saya berikan hanya satu kata  “siap” tanpa tahu kapan akan mengirimkan tulisan itu ke email beliau. Pesan singkat yang dikirimkan itu menjadi motivasi bagi saya untuk akhirnya ngadep komputer, mbukak word, dan mulai menjentikkan jari-jari di atas keyboard.

Bicara tentang motivasi, saya jadi teringat dengan rapot yang baru dibagikan di sela pelaksanaan kemah akhir semester pertengahan Juli kemarin. Rapot di SALAM berbeda dengan lembar-lembar penilaian seperti di sekolah lain. Bagi yang belum tahu, rapot di SALAM berupa keterangan deskriptif mengenai semua peristiwa yang terjadi selama proses belajar. Hanya berupa review, bukan judgement. Bukan pula berupa simbol-simbol angka yang tak memiliki roh—alias angka mati sebagai penilaian.

Belajar di mana saja. Foto by. Yanuar Surya

Saat membuka rapot, akan ada penjelasan singkat tentang Skala Nilai dan Skala Usaha. Skala Nilai terdiri dari T atau Terampil yang artinya siswa memiliki kemampuan lebih dalam memahami konsep dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan dapat mengembangkan sendiri konsep yang dipelajari.

Kemudian M atau Mampu, artinya siswa mampu memahami konsep serta menunjukkan kemampuan dalam proses belajar—Kemudian ada P atau Perlu Bantuan, artinya siswa masih membutuhkan fasilitasi orang lain untuk memahami konsep dalam proses belajar.

Sedangkan Skala Usaha terdiri dari empat angka, mulai dari 4 yang artinya Konsisten, di mana siswa mampu melakukan dan menyelesaikan tugas-tugas pribadi dan kelompok secara konsisten dengan motivasi pribadi yang kuat. Angka 3 artinya Cukup Konsisten, di mana siswa mampu melakukan dan menyelesaikan tugas pribadi dan kelompoknya dengan cukup konsisten dan terkadang masih membutuhkan motivasi orang lain.

Ada lagi angka 2 artinya Belum Konsisten, artinya siswa masih membutuhkan motivasi dari orang lain—bisa orang tua, fasilitator atau teman sebaya. Angka 1 artinya Sedikit Usaha, di mana siswa sedikit usaha dalam melakukan dan menyelesaikan tugas pribadi dan kelompoknya, menyesuaikan kemauan dan kondisi fisik serta psikis siswa. Siswa juga masih membutuhkan bantuan dan motivasi dari orang lain untuk menumbuhkan kemauan berusaha. Kemudian ada angka 0 atau Tanpa Usaha, artinya siswa sama sekali tidak mau berusaha melakukan dan menyelesaikan tugasnya, siswa membutuhkan perhatian khusus dan motivasi lebih.

Baru kemudian di lembar berikutnya berupa catatan belajar anak berdasarkan risetnya, mulai dari tahap perencanaan, pencarian data, tahap olah data, dan workshop. Ada pula catatan sikap siswa selama menjalani proses belajar.

Nah, yang saya paling suka membaca catatan sikap ini karena kadang muncul deskripsi tentang anak saya yang kadang lucu-lucu nggemesin. Seperti sering mengajak ngobrol di kelas atau harus diingatkan untuk bicara lemah lembut terhadap teman. Bagi saya ini menarik, karena di rapot saya dulu tak ada catatan-catatan detail begini.

Foto Yanuar Surya

Kemudian di lembar yang lain ada catatan kemampuan olah tubuh siswa selama kegiatan belajar. Aspek yang dicatat merupakan gerak motorik halus dan kasar. Di lembar selanjutnya berupa aspek pembelajaran di kelas, seperti kemampuan membaca dan menulis, berhitung, konteks ilmu alam, juga ilmu sosial. Dan, sebagai penutup terdapat catatan minat dan bakat. Juga saran untuk anak dalam meningkatkan pembelajaran di semester atau jenjang berikutnya. Tak lupa juga disertakan catatan untuk orang tua yang berisi ucapan terima kasih karena kerja sama yang sudah dijalin selama ini antara orang tua dan fasilitator. Juga saran untuk tetap mendampingi anak selama belajar misalnya.

Saat membaca rapot terutama catatan untuk orang tua, fasilitator sangat jujur sehingga kadang menohok. Tapi, inilah intinya, saling mengingatkan dan belajar. Sikap anak terkadang juga menjadi cerminan orang tuanya. Konon katanya anak adalah peniru ulung. Jadi jika anak saya kurang motivasi, maka siapa yang mestinya bercermin diri? Ya tentunya saya, bukan anak saya.

Maka dari itu SALAM adalah ruang belajar juga bagi saya. Seperti yang sudah berkali-kali saya ungkapkan, di SALAM yang belajar adalah orang tuanya bukan cuman anak-anak. Maka tepat jika SALAM dikatakan sebagai komunitas belajar. Di tahun ajaran baru ini, ayok bapak dan ibu kita belajar bareng. Dan semoga bisa saling memotivasi ya hehee. Tabik. []