Belajar Melalui Pemetaan & Silsilah Keluarga

“Sekolah kami sekolah biasa saja

Biasa dekat sesama, dekat kehidupan..”

Begitulah sepenggal lirik dalam mars Sanggar Anak Alam yang tercipta setelah 17 tahun perjalanan SALAM. Maka, apa yang termuat dalam syairnya bukanlah sekedar harapan dan angan, namun laku perjalanan yang sudah dihidupi dan dilakukan. Seperti halnya kalimat “Biasa dekat sesama..” yang tampak sangat sederhana, namun sarat makna. Alih-alih mengikuti arus pendidikan kebanyakan yang justru menjauhkan seseorang dari sesama, masyarakat sekitar, maupun komunitasnya, SALAM menerapkan proses belajar yang memanusiakan hubungan antar sesama. Relasi antar anak, relasi antara anak dengan fasilitator, relasi antara anak dengan masyarakat sekitar, dan banyak lagi relasi lainnya ini tumbuh berbarengan dengan proses belajar.

memetakan lingkungan belajar

“.. Dekat kehidupan..” SALAM – di tengah-tengah arus dunia pendidikan yang tidak lagi mau belajar dari lingkungan yang ada, malahan belajar dari antah berantah, bukan dari yang senyata-nyatanya – melakoni “belajar yang dekat dengan kehidupan” dalam semua proses belajarnya. SALAM merumuskan kerangka belajar baik untuk fasilitator, anak, maupun orangtua yang berangkat dari peristiwa nyata sehari-hari, yang ada di lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar untuk kemudian dijadikan bahan belajar. Riset atau penelitian demikian SALAM menamakan prosesnya.

Riset yang dilakukan di SALAM dapat berupa riset-riset kecil yang bisa secara tak sengaja ditemui dalam proses belajar sehari-hari, maupun riset besar yang diadakan untuk dijadikan proyek bersama maupun individu selama satu semester. Yang jelas, alur dalam riset kecil maupun riset besar – yang dalam pelaksanaannya kadang mengalami perubahan-perubahan ke arah perbaikan – akan selalu berpedoman pada daur belajar yang menjadi pedoman dalam proses belajar.

Riset-riset strategis

SALAM merancang sendiri kurikulumnya. Isinya sedikit dan yang mendasar saja, yang tak penting tidak diikutsertakan. Riset digunakan sebagai media belajar untuk mencapai indikator-indikator tertentu dalam kurikulum tersebut. Karena tidak semua peristiwa yang hadir dapat terhubung dengan capaian-capaian yang dibuat, maka fasilitator perlu merancang riset strategis yang datanya jamak dan dapat diolah untuk mencapai tujuan bersama. Riset-riset kecil yang lain tetap diperlukan untuk melengkapi dan mengisi kekosongannya.

Belajar Dari Lingkungan Setempat

Pemetaan Wilayah

Capaian belajar di kelas 4 adalah peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang berada dalam konteks penguasaan peta geografis, hubungan antar makhluk hidup, dan daur kehidupan. Maka riset yang tergolong strategis untuk mencapai tujuan belajar ini adalah pemetaan wilayah RT. Fasilitator merancang proses belajar yang membawa anak-anak mampu memvisualkan peta wilayah RT 04, tempat di mana SALAM berada. Menggambar peta sebetulnya merupakan kemampuan bertingkat, karena tidak hanya sekedar mengamati, namun mampu menuangkannya secara visual ke dalam bentuk gambar. Tidak hanya sekedar gambar, namun juga simbol dan perbandingan tertentu yang dapat dipahami oleh dirinya sendiri dan orang lain. Tentu saja visualisasi ini berkaitan dengan pemahaman akan ukuran sebenarnya dan ukuran yang akan dituangkan ke dalam peta.

Melalui perjalanan membuat peta, anak-anak semakin mengenal lingkungan sekitar sekolah, pun juga masyarakatnya. Mereka semakin memahami SALAM berada dalam lingkungan yang seperti apa. Apa saja yang terdapat di sekitar lingkungan sekolah, termasuk keunggulan maupun masalah-masalah yang timbul. Memprofilkan orang adalah tugas selanjutnya. Artinya anak-anak memilih satu dari sekian banyak penduduk di RT tersebut untuk kemudian mereka profilkan. Mereka boleh mengangkat apa saja tentang orang yang diprofilkan tersebut. Hasilnya akan seperti mini biografi. Dari aktivitas ini mereka belajar menjalin relasi dengan masyarakat, termasuk dengan orang yang lebih tua. Mereka belajar bagaimana sikap yang tepat ketika meminta dan melakukan wawancara. Mereka juga belajar bagaimana mempersiapkan wawancara, seperti daftar pertanyaan, alat untuk mencatat, dan sebuah kamera sederhana (dari ponsel misalnya) untuk membantu pendokumentasiannya.

Dalam perjalanan anak juga akan bertemu tempat-tempat komunal, bisa saja itu cakruk, warung angkringan, balai desa, sanggar tari, dan sebagainya. Lagi-lagi anak akan dibawa lebih mendalam mengenal tempat-tempat komunal ini. Di angkringan mereka bisa belajar soal hitungan, bahasa, relasi sosial. Di cakruk mereka juga bisa belajar tentang hitungan, bahasa, tanggung jawab sosial, ataupun soal konsekuensi jika tidak melakukan tanggung jawabnya. Begitupun juga dengan balai desa, sanggar tari, atau tempat-tempat lainnya. Ada banyak sumber-sumber belajar yang melimpah tersedia.

Riset Pohon Keluarga

Banyak anak diharuskan mengingat tanggal lahir pahlawan nasional, namun mirisnya seringkali tanggal lahir orangtua atau kakek neneknya sendiri belum tentu hafal. Tahu banyak tentang orang lain dari hafalan, namun asal-usul dirinya sendiri belum paham. Belajar sejarah itu seharusnya dimulai dari belajar tentang asal usul keluarga. Kalau asal-usul keluarga sendiri diabaikan, bagaimana mau belajar tentang sejarah orang yang tidak kita kenal. Jatuhnya lagi-lagi hanya hafalan tanpa makna.

Membuat silsilah keluarga, berarti membangun struktur berpikir dari abstrak menuju konkrit dalam bentuk visual yang mudah dipahami baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Wawancara dan proses bertanya tentu menjadi bagian proses yang harus dilakoni. Proses ini bukan proses yang instant, jadi tentu saja melatih ketekunan serta keberanian untuk mencari cara menggali sebanyak-banyaknya informasi. Proses wawancara dan mencari tahu daftar keluarga mendorong anak-anak belajar untuk mengkomunikasikan keinginannya. Bertanya, mendengar, menyimak, lalu menuliskan. Begitu berulang-ulang hingga semua bagian pohon keluarga terisi. Kemudian memvisualkan dalam bentuk gambar yang berjenjang.

Bagaimana dengan anak dari keluarga yang bercerai? Kekhawatiran tersebut sempat terlintas di benak fasilitator saat menyusun proyek ini. Tetapi Pak Toto dengan ringan berkomentar, “Hla yo rapapa, wong kuwi kasunyatan sing ora perlu ditutupi. Bocah ya kudu sinau ngadepi kasunyatan, aja diapusi. Mengko deweke bakal sinau dhewe. Mesti akeh sing disinau. Kuwi sing jenenge “pelajari hakikat kehidupan.” Kami terhenyak, benar juga ya. Anak-anak seringkali kita sterilkan dari beberapa permasalahan, padahal sejatinya kita perlu menghadapkan mereka pada kenyataan, pada peristiwa yang sebenarnya, supaya mereka juga belajar bahwa dunia ini tidak menjanjikan yang indah-indah saja. Supaya ketika ada masalah mereka tidak “lari”, namun berani menghadapi.

Belajar di mana saja dan dengan siapapun saja

Apa saja yang bisa dipelajari dari riset pohon keluarga ini? Contoh saja dari data mengenai tahun lahir dan tahun meninggal (bagi yang sudah meninggal misalnya), anak-anak menjumpai panjang usia yang beragam yang membawa mereka ke dalam diskusi yang lebih menarik misalnya, “Ada yang berumur sangat panjang, mengapa ya? Ada juga yang berumur sangat pendek, ada apa ya?” Keingintahuan yang berasal dari data yang tersedia ini akan memancing mereka untuk mencari tahu sesuai kebutuhannya. Berikutnya data tempat lahir misalnya, lahir di kota mana, atau negara mana. Jangan-jangan mereka baru tahu bahwa nenek moyangnya mungkin dari negara lain. Soal tempat lahir ini juga akan menjadi sarana belajar tentang geografi. Di manakah Bukittinggi? Samarinda? Gorontalo? Sorong? Atau Pekalongan? Itu kota atau kabupaten? Terletak di provinsi mana? Apa yang terkenal dari daerah tersebut? Apa makanan pokoknya? Apa budaya khasnya? Suku apa yang mendiami kota-kota tersebut? Pohon keluarga apakah mungkin dipakai menjadi media belajar berhitung lebih mendalam? Mungkin saja. Ketika masuk ke peta geografis pasti akan berlanjut ke persoalan jarak, kecepatan, perhitungan waktu, dan lainnya. Dan rasanya masih banyak deretan pertanyaan yang akan muncul di kepala mereka melihat daftar daerah dari hasil membuat pohon keluarga.

Riset besar dengan tema yang sama. Apakah ini bentuk penyeragaman? Tidak. Karena dalam perjalanannya apa yang diamati, apa yang diminati dalam observasi bisa jadi berbeda satu dengan yang lainnya. SALAM memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak yang ingin memperdalam apa yang menjadi ketertarikannya selama proses mengerjakan proyek bersama tersebut.

Dan akhirnya, dari proses belajar yang akan dilakukan nanti mari kita buktikan apakah yang ada di bagian terakhir mars SALAM ini benar

“… Mendengar aku lupa

Melihat aku ingat

Melakukan aku paham

Mendengar aku lupa

Melihat aku ingat

Menemukan aku kuasai…”