Membangun Kesepakatan

Saat sekolah pada umumnya menggelar penataran P4 sebagai bentuk orientasi siswa, Sanggar Anak Alam (SALAM) melakukan hal yang tak umum. Hari pertama sekolah, 16 Juli 2018 lalu, semua kelas (SD, SMP, SMA) sepakat untuk mendiskusikan tentang ‘kesepakatan kelas’. Karena disusun oleh masing-masing kelas, maka isi kesepakatan pun jelas berbeda antara satu kelas dengan kelas yang lain.

SMA SALAM. F0t0 Anang Istiawan

Saya semester ini memfasilitasi kelas 10 yang hampir semua siswanya adalah siswa baru. Dari keenam siswa, hanya Imung yang akrab dengan konsep kesepakatan kelas. Saya mencoba memberi sedikit pengantar dan lebih banyak memberi kesempatan Imung untuk bercerita tentang budaya bersepakat yang telah ia jalani bertahun-tahun di SALAM. Setelah itu kami menyusun poin-poin tentang hal apa saja yang akan kita jadikan kesepakatan.

Berbeda dengan jenjang SD, membangun kesepakatan dengan para remaja SMA ini harus lebih detail. Yang terjadi semester lalu tentang kesulitan siswa lepas dari gadget selama jam belajar, bisa jadi diawali dari kealpaan dalam mendetailkan kesepakatan. Untuk itu kali ini kami membangun kesepakatan, sekaligus menyetujui konsekuensi yang harus dihadapi jika hal-hal berjalan tidak sesuai kesepakatan. Selain itu, seluruh anggota belajar juga menyepakati bahwa tidak hanya fasilitator, namun juga sesama teman boleh berkeberatan setiap kali kesepakatan terlanggar.

Seperti kesepakatan soal gadget, misalnya. Jika ada teman yang merasa terganggu dengan aktifitas teman lain terkait gadget di jam belajar, maka ia boleh melihat untuk memastikan gadget digunakan sebagaimana mestinya, dan lebih lanjut berhak menyita gadget kawannya.

Beberapa hari kemudian, kelas 10 dan kelas 11 bergabung untuk membahas kesepakatan yang telah disusun masing-masing. Diskusi kemudian berlanjut dengan menyepakati poin yang akan digunakan sebagai kesepakatan bersama kelas SMA, serta poin yang akan disepakati berbeda di tiap kelas.

Budaya membangun kesepakatan, alih-alih membuat sederet peraturan tanpa persetujuan siswa yang menjadi objeknya, merupakan satu keunikan baru yang saya temukan di SALAM. Istilah ini kerap saya dengar sejak awal bergabung di kelas Kelompok Bermain (KB) beberapa tahun yang lalu. Saat itu tentu saja bentuk kesepakatan yang paling ingin saya capai bersama anak saya adalah ia segera bersepakat untuk mau ditinggal.

Tentu saja sangat berbeda, bersepakat dengan anak sendiri yang masih balita dengan anak-anak orang lain yang telah remaja. Bersepakat dengan balita sangat mudah disusun tata bahasanya. Tak perlu juga muluk-muluk menyusun konsekuensinya. Tapi pelaksanaannya? Butuh dua semester penuh menunggu di kelas, dua semester menunggu di area sekolah, dan segepok kesabaran yang perlu terus diasah supaya anak saya akhirnya mau benar-benar ditinggal.

Sementara dengan remaja, empati yang sudah terbangun dalam diri mereka memudahkan kesepakatan terbangun. Seperti ketika membahas tentang makan siang. Kebiasaan jajan saat istirahat, ditambah ketidaksukaan beberapa siswa terhadap bahan makanan tertentu, membuat makan siang dari sekolah bersisa banyak. Sementara makanan itu telah dipersiapkan dengan sepenuh hati oleh tim dapur. Untuk itu kami sepakat untuk selalu menyantap menu apapun yang disajikan untuk menghargai kerja keras tim dapur. Jika menu tersebut tidak sesuai selera makan kami, maka kami harus makan paling tidak sedikit saja sambil belajar menyukai semua jenis bahan makanan.

Saat menyusun konsekuensi, sebisa mungkin kami memilih konsekuensi yang berhubungan dengan kesepakatan yang diingkari. Misalnya terkait keterlibatan. Semester lalu, beberapa siswa tidak mau terlibat dalam kegiatan bersama seperti game pagi, pasar Senen Legi, dan lain-lain, dengan alasan yang singkat, “Males aja.” Semester ini, teman-teman yang berkeberatan dengan rendahnya keterlibatan kawan sekelasnya mengusulkan supaya dibangun kesepakatan tentang ini. Karena tidak ada alasan yang kuat untuk tidak terlibat, maka semua siswa SMA harus terlibat di semua kegiatan. Jika tetap tidak mau terlibat, konsekuensinya teman tersebut mendapat porsi tugas yang lebih besar di kegiatan yang sama pada periode berikutnya.

Kesepakatan Harus Dijalankan. Foto Anang Istiawan

Ketika semua poin kesepakatan telah disetujui oleh semua siswa dan fasilitator, semua merasa lega dan bahagia. Perasaan yang jauh berbeda dengan yang kita alami saat membaca sederet peraturan sekolah. Tersiksa. []