Forum Orang Tua SALAM (FORSA)

FORSALAM itu apa sih? Forum orang tua Salam, macam komite sekolah gitu? Terus Forsalam itu isinya siapa saja? Mungkin perwakilan orang tua yang sudah dipilih sekolah ya?

Saat ORTU SALAM ketemuan

Begitu dulu saya menduga-duga tentang Forsalam. Saya pun tak terlalu ambil pusing dengan undangan yang disampaikan di grup Whatsapp orang tua Salam yang saya ikuti saat awal saya bergabung.

Awalnya saya nggak pernah datang, karena merasa saya bukan bagian dari Forsalam. Saya hanya orang tua yang menyekolahkan anak di Salam, dan saya sudah (merasa) berkontribusi dengan aktif di kelas anak saya. Cukup, pikir saya kala itu.

Lantas suatu saat, saya bertemu dengan beberapa teman yang mengajak saya untuk datang ke acara kumpul-kumpul orang tua Salam. Saat itu, saya mengungkapkan ketidaktahuan saya tentang Forsalam.

”Emang Forsalam itu isinya siapa saja dan ngapain?,” tanya saya kala itu.

Saya ingat waktu itu dijelaskan oleh Mbak Endah Palupi, yang saat ini anaknya sudah lulus dari Salam. Dia bilang, kurang lebih begini “Forsalam ki yo wong tuo kabeh iki sik nyekolahke anake neng Salam,” begitu jawabnya.

Pertanyaan saya juga dijawab oleh Pak Tri Broto, yang akrab disapa Pak Bro, dia menyatakan bahwa semua kegiatan anak, sekolah, dan yang terjadi di lingkungan Salam adalah tanggung jawab bersama orang tua, Forsalam hanya memudahkan koordinasinya saja.

Saya pun hanya manggut-manggut. Dan, sejak itu saya menyempatkan untuk sesekali hadir jika ada undangan kumpul-kumpul orang tua Salam. Dikatakan aktif, tidak juga, karena saya tipe orang yang mengamati dulu sebelum akhirnya ikut gabung.

Mungkin itu pula yang dirasakan orang tua, baik yang baru maupun orang tua lama yang belum “ngeh” banget apa itu Forsalam, saat sebuah undangan digital bergambar mangkuk bakso di-share oleh Mbak Gernata Titi pada suatu sore di grup Whatsapp Salam Semangat dan diteruskan ke grup Whatsapp kelas.

Orang tua nggak “ngeh” jika mereka adalah bagian dari Forsalam itu sendiri. Maka saat hari kumpul-kumpul itu tiba, jreng jrengg muka-muka baru hanya satu dua orang. Sisanya?? Ya ibu-ibu dan bapak-bapak yang itu-itu saja. Saya sampai merasa dejavu hehe.

Saya jadi inget obrolan santai di grup Whatsapp Salam Semangat yang cukup menggelitik disampaikan oleh Pak Anang Febe, saat banyak orang tua baru yang bergabung di grup. “Mantap makin banyak orang tua Salam yang bergabung…makin melengkapi keluarga Salam..monggo ditambah.. biar tidak itu-itu saja yang muncul..” begitu ucapan yang dia sampaikan lewat pesan teks.

Memang mendatangkan orang tua untuk ikut kumpul dan urun rembuk tentang kegiatan dan dinamika di Salam masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dipecahkan bersama.

Yah, tak kenal maka tak sayang kan? Nah, kalau memang ingin ngerti apa sih Forsalam itu, ya sempatkan waktu dan mari kita ngobrol bareng sambil potluck-an. Syahdu kok. Swear deh.

Bahkan saat duduk-duduk bareng dan ngobrol-ngobrol yang kelihatannya nggak terlalu penting itu justru membuka cakrawala baru. Ditambah lagi, Pak Toto dan Bu Wahya menyempatkan untuk hadir. Jadi, kita bisa berdiskusi banyak hal, tak hanya tentang sekolah saja.

Bagi saya, yang bekerja sebagai wartawan, saat melihat para orang tua Salam saya tidak bisa benar-benar hanya melihat mereka sebagai orang tua yang biasa saja. Saat melihat, mengamati, dan mengobrol, di mata saya mereka adalah narasumber yang layak untuk diangkat kisahnya dalam sebuah tulisan. Hawane ming arep wawancara terus.

Di kelas anak saya misalnya, ada seniman, kurator, guru bahasa Inggris sekaligus motivator, praktisi jamu, web desaigner, ahli kepanduan, ahli masak, hingga make-up artist (MUA) yang sangat paham riasan gagrak Jogjakarta. Itu baru yang di kelas ya, coba bayangkan saat semua orang tua Salam kumpul dalam balutan Forsalam, bakalan ada berapa ide yang muncul dari beragam latar belakang orang tua Salam. Bayangkan?!

Maka dalam pertemuan Forsalam yang diadakan di rumah Pak Ronald Apriyan dan Mbak Yogka Agustin di Kasongan, Kasihan, Bantul pada Jumat (27/7) itu dirumuskan beberapa hal. Salah satunya, Forsalam kemungkinan tak akan lagi menggunakan konsep presidium sebagaimana sebelumnya dan forum benar-benar dikembalikan ke orang tua yang nantinya akan terlibat dalam beberapa event yang direncanakan sebelumnya oleh forum-forum kecil sebelum beranjak ke forum yang lebih besar lagi.

Terus, apa lagi yang dirumuskan dalam pertemuan perdana orang tua Salam di tahun ajaran baru ini? Penasaran? Datang ya bapak dan ibu dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sampai ketemu di sana. Tabik. []