Eureka!

Kayaknya saya baru saja memasuki masa Aufklӓrung soal belajar sejarah ha ha ha ha… Atau seperti Archimedes yang berteriak ‘Eureka!’, ketika berhasil menemukan cara untuk membuktikan bahwa mahkota baru bagi Hieron, raja Syracuse itu, tidaklah murni terbuat dari emas.

 Kemarin hari, saya hendak membaca ulang buku mengenai filsafat konstruktivisme dan kaitannya dengan pendidikan, sebab sebelumnya saya hanya membaca namun tidak sekaligus memahami. Ketika saya sampai pada bagian sejarah filsafat konstruktivisme, gairah saya untuk melanjutkan pembacaan ini seketika saja hilang. Pada saat itu saya tenang saja, karena saya tahu ini bagian yang paling tidak menyenangkan dari buku manapun, yakni runut sejarah ha ha ha ha. Tetapi, entah ada angin dari mana, tiba-tiba saya berpikir bahwa sepertinya hanya dengan membaca sejarah panjang munculnya filsafat konstruktivisme ini saya dapat memahami mengapa Piaget menjadi seorang konstruktivis radikal dalam teori-teorinya. Dan taraaaa… saya berhasil membacanya (walau dengan sangat perlahan) sekaligus memahami sejarahnya, bahkan saya menambah sebuah literatur baru. Kayaknya… teman diskusi saya yang suka eyel-eyelan tentang betapa pentingnya sejarah itu, tertawa geli melihat saya akhirnya belajar soal sejarah. Saya kemudian coba melakukan riset terhadap perilaku aneh saya ini heu… Begini hasilnya :

 Saya merasa perlu memahami konsep konstruktivisme Piaget, supaya saya semakin belajar, bagaimana sebuah model pendidikan yang dibangun dengan pondasi konstruktivisme. Saya perlu belajar tentang hal tersebut, sebab saya sedang mencoba memahami berbagai model pendidikan dan juga filsafat sebagai pondasinya. Saya perlu memahami berbagai model pendidikan, agar saya dapat membangun suatu model pendidikan yang menurut saya baik. Dan untuk mencapai hal di atas secara holistik, terlebih dahulu saya perlu belajar bagaimana filsafat konstruktivisme itu sendiri lahir.

Kata ‘perlu’ selalu mengindikasikan adanya suatu problematika yang harus dicari solusinya. Misalnya, saya lapar, maka saya ‘perlu’ makan. Situasi lapar adalah sebuah problematika bagi saya dan makan adalah solusinya. Maka, saya ‘perlu’ makan.

Ok… Mengapa saya cukup panjang lebar berbicara mengenai kata ‘perlu’? Sebab, ternyata perasaan ‘memerlukan’ itulah yang membuat saya akhirnya menyukai sejarah. Sebab saya ‘perlu’. Maka, di sini saya mengalami bagaimana pendidikan itu bermakna bagi kehidupan. Pendidikan memberikan sebuah kontribusi untuk memecahkan suatu problematika. Sehingga saya dengan sukarela mencerap pendidikan itu, sebab ia berguna bagi kehidupan saya. Pendidikan yang memberikan kontribusi bagi pemecahan masalah akan menjadi bermakna bagi individu-individu di dalamnya. Dan dengan begitu, akan timbul sebuah ‘keingin-tahuan’ yang sejati, yang benar-benar muncul dari dalam diri setiap individu yang selalu memiliki hasrat untuk melakukan suatu pemecahan masalah di dalam kehidupannya.

E  u  r  e  k  a  !  !  !