Mendiskusikan Peristiwa

Suatu siang, Ayya pulang bermain lebih cepat dari biasanya. Dari jendela kamar, terlihat ia berlari-lari kecil. Temannya sedang menyiapkan kejutan, katanya. Itu sebabnya ia diminta pulang lebih dulu. Tiga jam di rumah, Ayya pamit untuk main di luar lagi. Tak lama, ia pulang sambil terisak. Ayya tergolong anak yang periang. Ia senang bergerak dan bercerita. Kalau bukan mulutnya yang sibuk bicara, ya badannya yang sibuk bergerak. Seringkali kedua-duanya sibuk semua. Tapi kalau hatinya sedang patah, Ayya hanya masuk kamar, memeluk guling dan menangis diam-diam. Ia juga hanya akan menjawab ‘nggak papa’ ketika ditanya. Menyelesaikan tangisnya, lalu bermain tanpa suara.

Jagad Peristiwa Anak adalah Bermain

Siang itu juga sama. Ayya menutup mukanya dengan bantal. Ia menjawab ‘nggak papa‘ dengan suara serak. Saya pikir, yang terbaik yang bisa dilakukan saat itu adalah membiarkannya tanpa interupsi.

Maka barulah beberapa hari setelahnya, saya tahu kalau ia sedih karena di-prank temannya. Kejutan yang dimaksud si teman itu ternyata menyembunyikan mainan-mainan milik Ayya yang memang sering ia bawa lalu ditinggal di rumah si teman. Ayya bukan termasuk anak yang pelit, justru cenderung pemurah bahkan untuk barang-barang bukan miliknya yang ada di rumah. Kali itu ia pulang dengan menangis karena ia baru menyadari si teman bukan memintanya pulang untuk menyiapkan kejutan, melainkan karena ingin bermain dengan teman lain. Sungguh plot yang tak kalah pelik dari skenario drama korea.

Saya lalu teringat dengan beberapa kejadian sebelumnya. Dibanding Ayya, si teman lah yang sering jadi penentu permainan. Dari ceritanya, saya jadi tahu kalau Ayya kadang merasa tidak sepakat namun tidak kuasa menolak. Tidak mudah memang mengatakan tidak, apalagi kepada seseorang yang lebih tua, empat tahun pula.

Selepas kejadian prank di siang hari itu, pertanyaan yang saya lontarkan tiap Ayya pulang main jadi lebih detail. Meski perlu waktu lama, kami jadi sering diskusi soal kesepakatan dalam permainan. Juga tentang pentingnya mengemukakan sikap. Diskusi yang santai dan Ayya yang terkesan mengikutinya sambil lalu, membuat saya tidak berharap banyak.

Sampai pada suatu malam, ketika kami sedang menonton serial di televisi, dengan berbinar-binar Ayya bercerita bahwa hari itu dia berhasil mengatakan tidak pada usulan bermain si teman. Alih-alih bertengkar, ia mengajukan usulan permainan berbeda yang akhirnya disetujui oleh si teman. Ah, diskusi santai itu ternyata ada gunanya juga.

Setelahnya, saya mendapati ketika bermain, Ayya memiliki pendirian yang semakin kokoh. Jika ada yang tidak ia suka, ia punya keberanian untuk menyampaikan pendapatnya. Sebaliknya, jika pendapatnya ditolak, ia tak lagi melihatnya sebagai hal yang menyakitkan. Dengan demikian, hubungan perkawanannya menjadi jauh lebih sehat.

Di SALAM, peristiwa semacam ini disebut daur belajar. Siklus ini melihat sebuah peristiwa sebagai alat untuk berefleksi, memberikan pemahaman tertentu dan pada akhirnya menghasilkan kesepakatan-kesepakatan baru.

Peristiwa diprank adalah peristiwa yang biasa terjadi pada dinamika relasi anak-anak. Namun dalam kacamata daur belajar, tidak ada peristiwa yang biasa-biasa saja. Setiap peristiwa memberikan bermacam-macam kesan pada semua pihak yang terlibat.

Mulanya, kita perlu melihat secara fokus pada satu peristiwa. Saya memilih melihat peristiwa diprank. Karena yang mengalami adalah anak, maka saya perlu mengajaknya melakukan refleksi. Tahap ini yang memakan waktu paling lama. Sebabnya bermacam-macam, ada perasaan takut (dengan membahasnya, akan muncul lagi perasaan diabaikan), denial (menyangkal fakta bahwa ia disuruh pulang karena temannya ingin bermain dengan teman lain) juga malas (apa gunanya membahas ini?).

Tahap berikutnya juga butuh waktu. Setelah berefleksi, ada pemahaman-pemahaman baru yang akan muncul. Tahap ini cukup tricky mengingat kebiasaan orangtua yang senang menyuapi anak, alih-alih memintanya mengunyah sendiri dengan pelan-pelan. Berharap anak dengan usia muda mampu menumbuhkan pemahaman dengan sendirinya, mungkin terlalu berlebihan. Namun setidaknya, anak diajak dalam proses pengambilan kesimpulan.

Ayya sendiri misalnya, saya ajak mengingat pengalaman-pengalamannya dulu saat bermain. Ia ingat sering melakukan permainan tertentu yang tidak ia suka. Ia juga ingat, ia tak pernah bilang kepada temannya bahwa ia tak suka permainan tersebut. Saya lalu menggarisbawahi bahwa kejadiannya mungkin akan berbeda kalau ia bilang bahwa ia tidak suka. Saya bilang, kita tidak bisa mengontrol orang lain, tapi kita selalu bisa mengontrol diri sendiri.

Diskusi yang kelihatannya ia ikuti sambil lalu ini, ternyata membuatnya memiliki pemahaman baru bahwa perilakunya mempengaruhi perilaku orang lain. Ayya perlahan memiliki sikap asertif, menumbuhkan keberanian sedikit demi sedikit hingga ia mampu mengemukakan pendapatnya. Ia akhirnya bisa bilang tidak pada usulan permainan yang tidak ia suka, juga bisa mengusulkan permainan yang ingin ia mainkan. Ini tahap terakhir yaitu timbulnya kesepakatan.

Kesepakatan ini tidak serta merta dijalani setelah anak mengatakan: oke, aku sepakat. Seringnya, justru tidak ada kalimat tersurat bahwa anak sudah sepakat. Anak barangkali butuh waktu untuk memproses pengalaman berefleksi yang baru baginya, orangtua juga butuh waktu untuk mengamati. Tidak jarang anak menyampaikan kata sepakat melalui sikap dan perilakunya. Meski tak dikatakan secara terbuka, kesepakatan yang langsung dijalani biasanya justru muncul dari kesadaran dalam diri anak. Setelahnya, diskusi yang ringan juga diperlukan agar orangtua dan anak memiliki sudut pandang yang sama dalam menjalani kesepakatan baru.

Prosesnya panjang dan tidak mudah memang. Tapi selalu ada pilihan untuk memperlakukan sebuah peristiwa, dan mengabaikan peristiwa sama saja dengan melewatkan kesempatan besar untuk belajar.

Menemani anak memproses peristiwa menggunakan siklus belajar, membuat saya juga belajar menggunakan siklus yang sama untuk memproses peristiwa-peristiwa yang saya alami sendiri. Demikianlah paradoks orangtua masa kini. Mendorong anak melakukan sesuatu yang baik, sesuatu yang justru masih dipelajari oleh si orangtua sendiri. []