Friska, Sekolahnya, dan Refleksi Belajar Kita

Saat itu tahun 2007. Saya masih menjadi seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Dalam sebuah kelas Psikologi Pendidikan, kelas saya mendapatkan tugas kuliah untuk membaca sebuah buku anak dan membuat resensinya. Buku ini kelak menjadi buku yang membuat saya mulai tertarik dengan isu pendidikan progresif. Sebabnya, buku ini bercerita tentang sebuah sekolah yang berbeda, yang pengalaman belajarnya tidak sama dengan sekolah pada umumnya. Gedung sekolahnya saja dari gerbong kereta api. Murid-muridnya dibolehkan memilih sendiri urutan kegiatan belajar sesuai minatnya masing-masing. Bagi saya, ini jelas luar biasa. Bayangkan. Minat anak menjadi penggerak kegiatan belajar sekolah. Isi buku ini sendiri bercerita tentang seorang anak yang gandrung dengan kehidupan sekolah barunya ini. Ia menikmati setiap detik momen belajar yang unik dan berbeda dibandingkan dengan apa yang ia rasakan di sekolah lamanya. Buku ini terekam dengan baik dalam ingatan saya, hingga membuat saya berpikir, seperti inilah seharusnya sekolah itu. Buku ini menjadi gambaran imaji saya saat membayangkan sebuah sekolah yang menyenangkan. Judul bukunya adalah Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, karangan Testuko Kuroyanagi.

Seiring waktu berproses, lambat laun saya mempercayai bahwa Sekolah Totto-Chan yang saya bayangkan sebagai sekolah ideal itu tampaknya hanya akan menjadi angan-angan. Kenyataannya, baik di Indonesia maupun di mayoritas negara lainnya, sekolah kerap kali lebih tertarik dengan isu penyeragaman atau standarisasi. Sekolah menjadi institusi untuk mencetak lulusan-lulusan yang memenuhi pasar kerja. Ada profil lulusan yang sudah ditetapkan sedemikian rupa dan menjadi standar kualitas, yang hanya bisa didapat setelah siswa berhasil menuntaskan serangkaian mata pelajaran beserta berbagai ujiannya. Bagi saya sangat sulit, jika tidak mau mengatakan mustahil, untuk menemukan sekolah seperti Totto-Chan di jaman kontemporer yang pekat dengan produksi dan reproduksi kapitalisme.

Di ruang-ruang kuliah yang saya ikuti, pembacaan saya mengenai literatur pendidikan memang kemudian sempat diperkaya dengan karya-karya para filsuf pendidikan, seperti John Dewey, yang membantu saya memahami pendidikan progresif dalam kacamata disiplin. Dewey (1938) misalnya pernah berkata bahwa institusi pendidikan tempat anak-anak belajar hendaknya dibentuk sebagai institusi sosial. Sekolah haruslah dipandang sebagai bagian dari kehidupan anak. Maka dari itu, ia perlu memuat hal-hal yang membuat anak mampu hidup selaras dengan sekitarnya. Pengalaman-pengalaman belajar di kelas, kata Dewey, hendaknya didesain selaras dengan kehidupan nyata. Bagi Dewey, pendidikan bukan sekedar urusan menjejali anak didik dengan mata pelajaran. Pandangan John Dewey ini menegaskan bahwa sekolah adalah ruang tempat anak belajar kehidupan. Namun kesan yang saya rasakan saat membaca tulisan Dewey ini masih sama persis saat saya membaca Totto-Chan: Sekolah progresif itu ide yang menarik, tetapi mungkin akan sulit terlaksana.

Saat penulis (Kurnia Pamungkas Kusumaningrum) dan penerbit (Lingkarantarnusa) memberikan kepada saya buku “Friska dan Sekolah Barunya” ini, perasaan saya campur aduk. Saat menerima buku ini, saya spontan teringat dengan perenungan saya yang telah saya ceritakan tadi. Mungkinkah pendidikan progresif seperti itu benar-benar bisa berhasil? Perasaan ini saya simpan di dalam hati. Saat mulai membaca, perasaan saya mulai bergejolak lagi, kali ini antara senang, kuatir, dan lega. Saya senang karena akhirnya kita punya sebuah buku dengan topik sepenting sekolah non-konvensional seperti ini. Terlebih penulis bercerita tentang pengalaman belajar di sekolahnya, Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, yang isinya sebagian besar merupakan kisah nyata. Namun demikian, terus terang saya juga sempat merasa kuatir. Mengapa? Sebagaimana apa yang telah saya paparkan sebelumnya, ide buku mengenai sekolah progresif bukanlah ide yang baru buat penikmat pendidikan alternatif. Saya takut buku ini hanyalah salinan ide Totto-Chan yang di-Indonesia-kan, atau di-Nitiprayan-kan. Biarpun beberapa orang mengajukan klaim bahwa SALAM adalah satu dari sedikit sekolah di Indonesia yang memiliki konsep sekolah non-konvensional, tetapi sebagai sebuah ide buku dan dalam konteks aktivitas membaca literatur, para pembaca Totto-Chan, termasuk saya, akan menginginkan sebuah plot cerita yang original dan kontekstual. Ketika SALAM telah tersaji sebagai sebuah karya, kita tidak lagi sedang membicarakan originalitas SALAM sebagai institusi. Kita sedang bicara “Friska dan Sekolah Barunya” sebagai sebuah ide penulisan yang merupakan bagian dari himpunan semesta literatur global (Sim, 2019), dan karenanya pula ide penulisannya pun perlu didialogkan dengan literatur global. Di akhir membaca buku, saya lega karena apa yang menjadi kekuatiran saya tidak terjadi. Buku ini memiliki beberapa elemen yang sangat menarik untuk kita cermati.

Kekuatan buku “Friska dan Sekolah Barunya“ ini adalah gaya bertuturnya yang enak untuk dibaca, baik oleh anak maupun oleh orangtua. Cara menarasikan kegiatan-kegiatannya mudah dicerna dan detail, sehingga memudahkan pembaca untuk membayangkan situasi yang ada di SALAM. Membaca buku ini membuat kita serasa dibawa untuk ikut mengunjungi SALAM dan mengikuti kegiatan-kegiatannya. Ada dua belas bab yang menawarkan narasi-narasi keseharian Friska dan interaksinya bersama keluarga, teman-teman dan warga sekolah SALAM, dan interaksi dengan masyarakat sekitar, seperti ketika mengunjungi sebuah pasar tradisional melalui kegiatan minitrip. Meskipun cerita-cerita ini adalah cerita yang terdengar cerita remeh khas kehidupan sehari-hari, tetapi sebenarnya ia memuat pesan-pesan yang penting dan esensial dalam sebuah proses pendidikan. Pada bagian selanjutnya, saya akan mengajak kita menyelami cerita-cerita ini dan beserta tujuh poin utama refleksi-refleksi personal saat membacanya.

Tata nilai persetujuan (consent)

 Di dalam buku ini, sangat terasa bahwa penulis memberikan penekanan yang kuat tentang pentingnya mendapatkan persetujuan. Misalnya pada salah satu bab, terdapat cerita tentang Friska dan sepupunya, Andra, yang meminta persetujuan Tante Eri, ibu Andra, untuk membeli yoghurt. Atau simak pula Andra yang meminta ijin Friska bermain bersama, meskipun pada akhirnya ditolak. Ada pula cerita tentang Friska yang meminta ijin papanya untuk makan talok yang tinggal satu buah, saat Friska meminta ijin salah satu warga sekolah untuk mewawancai beliau sebagai narasumber untuk keperluan tugasnya, atau saat fasilitator meminta anak-anak membuat kesepakatan kelas. Semua upaya dari tokoh dalam buku untuk meminta persetujuan ini dibahas dengan detail, dari mulai gestural (seperti menengok ke arah Tante Eri), hingga verbal (meminta ijin kepada Papa Friska). Hal ini menunjukkan bahwa penulis sangat peduli dengan isu kesepakatan dalam relasi sosial.

Spektrum yang luas mengenai persetujuan, mulai dari relasi antar-anak, maupun relasi anak dengan orang dewasa mendemonstrasikan kepada kita bahwa penulis memandang penting bahwa persetujuan bukanlah terbatas pada hubungan anak dengan figur otoritas, tetapi juga relasi horizontalnya dengan teman-teman. Hal ini menarik untuk dibahas lebih lanjut karena anak seringkali dipandang sebagai figur yang disubordinasi, atau hanya harus patuh kepada figur otoritas. Buku anak yang membahas mengenai profil anak sebagai subjek yang berdaya masih sangat terbatas. Dalam buku ini, penulis memberikan penekanan bahwa anak memiliki hak-hak untuk dipenuhi sebagai subjek yang berdaya, berhak membuat keputusan dan mampu menciptakan kesepakatan, dan bertanggung-jawab atas segala konsekensinya.

Performa belajar sebagai produk relasi

 Ada sebuah pesan menarik dalam buku ini untuk pembaca, khususnya menekankan bahwa performa belajar anak adalah produk relasi. Dalam cerita pasar Senin Legi, diceritakan bahwa Friska sedang berdiskusi dengan sahabatnya, Keysa, tentang ide untuk mengikuti Pasar Senin Legi. Pasar ini adalah kegiatan sekolah yang melibatkan anak-anak untuk turut mengambil bagian di dalamnya. Anak-anak peserta didik di SALAM dapat memilih bidang-bidang di mana mereka dapat berkontribusi. Misanya menjadi penyelenggara, menjadi petugas bank, menjadi penjual, petugas kebersihan, dan lain-lain. Keysa dan Friska berminat ambil bagian dengan menjual sesuatu, tetapi belum memiliki ide tentang apa yang ingin dijual. Pada akhirnya, Keysa mengusulkan untuk melibatkan ibunya sebagai penjual lemet untuk membuat lemet untuk ia jual di pasar Senin Legi bersama Friska.

Cerita ini sangat penting karena memberi pesan tentang belajar sebagai sebuah produk relasi sosial anak. Ketika Keysa mengingat ibunya yang mampu menjual lemet, ia mengidentifikasi bahwa sumber belajar itu dekat. Sumber belajar itu ada di sekitar anak. Keysa berupaya untuk menghubungkan apa yang ia punya (ibunya) dengan pengalaman belajarnya. Ia kemudian memutuskan untuk melibatkan ibunya untuk membuat lemet untuk Keysa dan Friska jual di sekolah. Artinya, Keysa menggunakan kepakaran ibunya sebagai elemen pengalaman belajarnya. Menariknya, ia kemudian berkolaborasi dengan Friska yang kemudian dengan kemampuan menggambarnya, membantu menghias daftar harga lemet yang mereka jual agar menarik pembeli. Peforma belajar Friska dan Keysa dalam berjualan di Pasar Senin Legi bukanlah semata-mata produk intelektualitas mereka semata. Ia adalah akumulasi produk relasi sosial mereka. Keberhasilan Friska dan Keysa berjualan adalah hasil kolaborasi dan kontribusi relasi sosialnya, tidak bisa hanya disimplifikasi sebagai kecerdasan intelektual individualnya.

Cerita ini adalah sebuah miniatur tentang pentingnya memahami anak-anak sebagai makhluk belajar yang relasional. Literatur-literatur mengenai pedagogi konvensional kerap kali terlalu menekankan hasil belajar anak murni sebagai produk intelektualitas anak semata. Dalam perspektif pendidikan konvensional, anak dituntut bekerja dan belajar secara individual dalam sebuah iklim sekolah yang kompetitif. Ironisnya, struktur pendidikan kerap mengamplifikasi tren ini dengan menerapkan sistem ranking dan kuantifikasi prestasi akademik lainnya. Dalam cerita ini, Friska dan Keysa justru menunjukkan bahwa sekolah mereka memfasilitasi kemampuan mereka dalam berkolaborasi. Mereka berkolaborasi satu sama lain belajar mengalami praktik sebagai dua orang penjual lemet, tetapi mereka juga berkolaborasi dengan pihak lain seperti orangtua Keysa. Poin mengenai kolaborasi ini adalah poin penting yang esensial untuk disosialisasikan kepada anak-anak.

Peran krusial sekolah menyediakan fungsi fasilitasi

 Dalam cerita mengenai Pasar Senin Legi, penulis juga bercerita bagaimana Keysa dan Friska berada pada momen kuatir karena lemetnya belum habis terjual. Friska dan Keysa berdiskusi tentang kemungkinan laku atau tidaknya lemet jika mereka menurunkan harga, lengkap dengan dilema pendapatan yang akan berkurang. Friska dengan inisiatifnya mengusulkan kepada Keysa untuk berjualan secara aktif, dengan mendatangi dan menawarkan lemet ini kepada orangtua murid yang hadir di sekolah. Menariknya, Keysa yang merupakan putri dari seorang penjual lemet justru tampak takut dan malu untuk menjual lemetnya langsung dengan aktif menjajakan kepada pengunjung. Friska meyakinkan Keysa dan akhirnya mereka menjajakan itu.

Cerita ini adalah cerita yang memberikan pesan yang amat kuat tentang esensi belajar. Sebagaimana tercermin dalam ketakutan Keysa untuk aktif menawarkan lemet kepada orangtua siswa, kerap kali aktivitas belajar mencakup situasi di mana kita perlu masuk ke dalam ruang gelap meskipun kita kuatir, ragu, atau takut mencoba. Tetapi Keysa, berkat dukungan Friska, berhasil melaluinya dengan baik. Dalam hal ini, peran sekolah sangat krusial karena sekolah berhasil menyediakan fungsi fasilitasi berupa penyelenggaraan Pasar Senin Legi. Jadi, Pasar Senin Legi ini dapat kita baca sebagai ruang belajar yang aman bagi anak untuk mencoba hal baru. Pasar Senin Legi memungkinkan anak mengalami peristiwa-peristiwa besar yang akan memberinya skill penting seperti berdagang. Keahlian berdagang adalah keahlian penting dan kontekstual untuk masyarakat lokal di sana. Dengan demikian, Friska dan Keysa, beserta dengan teman-temannya yang lain, hakikatnya sedang belajar kehidupan dan mencari penghidupan di sekolah.

Uniknya, kegiatan pasar ini menggunakan nama Pasar Senin Legi. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Pasar Senin Legi itu sendiri adalah elemen penting dalam kehidupan masyarakat lokal, masyarakat Nitiprayan pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Jadi, menyelenggarakan Pasar Senin Legi di sekolah hakikatnya adalah membawa elemen penting kehidupan masyarakat itu ke dalam proses belajar di sekolah. Anak-anak belajar tentang konsep Legi, Kliwon, Pahing, Wage dan Pon sebagai elemen penting dalam penanggalan Jawa. Dengan kata lain, belajar di sekolah membuat Friska dan Keysa tetap terhubung dengan masyarakat sekitarnya. Terlibat dalam kegiatan Pasar Senin Legi di sekolah ini memproduksi dan mereproduksi (Lefebvre, 1974/1991) peran Keysa, Friska dan semua anak-anak sebagai bagian dari masyarakat Nitiprayan. Dengan menyelenggarakan Pasar Senin Legi ini, sekolah esensinya sedang menjaga anak-anak didik agar tetap menjadi bagian dari masyarakat dan tetap melakukan adat istiadat setempat. Jadi, cerita ini merupakan cerita penting yang mengantarkan anak ‘menjadi’ masyarakat setempat.

Kelindan sekolah, keluarga dan masyarakat

 Pasar Senin Legi adalah miniatur pasar tradisional di Nitiprayan. Namun demikian, bukan berarti anak-anak tidak memiliki pengalaman pergi ke pasar yang sebenarnya. Cerita tentang minitrip ke sebuah pasar lokal di Bantul juga merupakan cerita penting yang memperkuat poin mengenai kelindan (intersection) antara sekolah, keluarga dan masyarakat. Dalam cerita ini, Friska digambarkan mendapatkan tugas dari ibunya untuk berbelanja di pasar di mana ia akan berkunjung bersama dengan fasillitator dan teman-temannya. Ibu Friska meminta Friska untuk membeli sayur untuk kebutuhan rumah. Friska menyanggupi dan membawa sejumlah uang. Tidak lupa ia berkoordinasi dengan fasilitatornya mengenai hal ini.

Cerita ini menarik karena memberikan penekanan pada poin kelindan antara sekolah, keluarga dan masyarakat. Dengan meminta bantuan kepada Friska, ibu Friska sebenarnya sedang menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Friska di sekolah merupakan bagian dari upaya untuk menyelesaikan tanggung jawab peran rumah tangga (de Certeau, 1984). Cerita ini menunjukkan bahwa meskipun Friska masih kecil, ia dapat berkontribusi menyelesaikan tanggung jawab melalui kemampuannya memanajemen aktivitas sekolah (minitrip) dan rumahtangga (belanja). Ini menunjukkan realitas sosial yang memang secara natural memuat kelindan domain sekolah, keluarga, dan masyarakat. Kemampuan Friska menyelesaikan minitrip dan belanja membuat ia mereproduksi peran sosialnya sebagai murid yang baik dan anak yang baik. Michel de Certeau (1984) menyebut apa yang dilakukan Friska ini sebagai “the art of making do”. Sembari menyelesaikan urusan sekolah, Friska juga menyelesaikan urusan rumah. Kemauan Friska dalam menyelesaikan belanja juga penting dimaknai sebagai penetrasi peran sosial anak dari definisi tradisionalnya yang kerap secara reduksionistik menempatkan tugas anak hanya perlu untuk fokus dengan sekolahnya, sedangkan ayah mencari nafkah, dan ibu melakukan pekerjaan domestik. Kisah Friska menunjukkan bahwa anak pun berdaya dalam menyelesaikan urusan rumah tangga.

Ketika fasilitator bertanya

 Masih dalam bab tentang minitrip, penulis juga menggambarkan sebuah kejadian menarik di pasar. Saat fasilitator melihat bahwa anak-anak sudah menyelesaikan belanja, ia kemudian bertanya apakah anak-anak tidak tertarik untuk tahu lebih banyak mengenai para penjual di pasar. Proses bertanya ini menarik untuk diketengahkan karena cerita ini menunjukkan peranan fasilitator dalam menjadi aktor untuk mengeluarkan kemampuan terbaik anak melalui pertanyaan-pertanyaan yang eksploratif. Saat fasilitator bertanya apakah anak-anak tidak ingin tahu lebih banyak tentang penjual, setidaknya ada dua hal yang hakikatnya sedang fasilitator lakukan. Pertama, fasilitator menunjukkan bahwa pertanyaannya mempertajam arah belajar. Pada dasarnya, anak memiliki kemampuan untuk mengeskplorasi namun terkadang energi dan semangat anak masih sporadis. Anak kerap membutuhkan arahan untuk bergerak. Dalam cerita ini, fasilitator tidak menggiring apa pertanyaan yang seharusnya ditanyakan. Ia hanya mengarahkan anak kepada tujuan besar, yakni interaksi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitator yang baik memiliki kemampuan bertanya yang bersifat eksploratif dan membuat anak percaya diri mengeksplorasinya.

Kedua, pertanyaan dari fasilitator juga memiliki dimensi etis. Penulis menunjukkan bahwa meskipun pasar pada dasarnya merupakan tempat jual beli atau transaksi ekonomi, namun pada hakikatnya para penjual ini adalah manusia yang perlu berinteraksi. Dengan pertanyaan-pertanyaannya, ia mengajak anak untuk terlibat aktif, berbincang, dan bertukar informasi. Melalui pertanyaan arahan dari fasilitator, anak-anak belajar bahwa interaksi sosial di pasar adalah lebih dari sekedar urusan transaksi ekonomi semata. Ia punya dimensi etis tentang relasi sosial yang menjadikan anak anak mampu memanusiakan manusia lainnya.

data divisualkan anak salam by. Agnes Wilis Prawismi

Partisipan riset bukan sekadar data

 Salah satu bagian yang paling saya sukai dalam buku ini adalah cerita tentang Friska dan Pak Yanto. Di buku ini, ada sebuah bab yang menggambarkan interaksi Friska yang memohon bantuan Pak Yanto sebagai narasumber dalam menyelesaikan risetnya. Pak Yanto, yang selama ini dikenal suka menanam tanaman, dengan senang hati membantu Friska menerangkan fungsi tanaman tertentu. Friska yang merasa tugasnya terbantu kemudian membalas kebaikan Pak Yanto dengan membuatkan Pak Yanto lukisan dirinya, hasil buatan Friska sendiri. Pak Yanto merasa senang dan kemudian membalas lagi dengan memberi Friska susu kedelai kesukaannya.

Menurut saya cerita ini merupakan salah satu cerita terkuat di buku ini. Friska menunjukkan kepada kita tentang pentingnya etika riset yang tidak hanya terbatas pada etika prosedural, tetapi juga etika relasional. Seringkali dalam riset-riset yang melibatkan manusia, pandangan periset lebih condong terbatas pada definisi etis mengenai epistemologi, atau bagaimana pengetahuan itu diciptakan. Misalnya memastikan bahwa cara mengambil data sudah benar, pertanyaan interview-nya sudah benar, pengkategorian tema (coding) sudah benar, dan penarikan kesimpulan sudah benar. Definisi etis juga sering terbatas pada etis prosedural, misalnya apakah subjek riset sudah menandatangani lembar kesediaan menjadi partisipan riset, mengetahui prosedur riset, hak-haknya, dan hal-hal administratif lainnya. Namun di cerita ini, Friska menunjukkan bahwa apa yang disebut etis dalam riset juga mencakup etika relasional (relational ethics). Friska menempatkan Pak Yanto tidak hanya sekedar data, tetapi manusia yang perlu dihargai. Friska menjaga hubungan baik dengan Pak Yanto dan memberikan penghargaan untuk waktu yang ia sediakan. Ia bahkan secara imersif terlibat dalam kegiatan-kegiatan Pak Yanto, misalnya membantu Pak Yanto menyiram tanaman. Dalam kacamata keilmuan (Hodgetts dkk, 2020), Friska hakikatnya sedang menjadikan Pak Yanto partner untuk mengonstruksi pengetahuan dan bukan hanya sekedar objek atau informan riset (doing research WITH a participant rather than doing research TO a participant).

Selain itu Friska juga memberikan kita inspirasi tentang seni memberi hadiah. Apa yang Friska berikan kepada Pak Yanto adalah pesan penting tentang makna hadiah. Dalam cerita ini, Pak Yanto telah memberikan keahliannya untuk membantu Friska menyelesaikan tugas sekolahnya. Sebagai balasan, Friska juga memberikan lukisan wajah Pak Yanto, yang adalah juga manifestasi keahlian Friska. Apa yang Friska lakukan ini mengingatkan saya tentang literatur klasik karya Marcell Mauss (1950/2002). Bagi Mauss, hadiah bukanlah sekedar benda atau objek material yang netral. Hadiah adalah objek atau bisa juga non-objek, yang telah kita beri makna subjektif untuk diberikan kepada orang lain. Maka, hadiah sebenarnya adalah bagian dari identitas kita. Cerita ini sangat menarik karena sebagaimana Pak Yanto telah memberikan keahliannya untuk membantu Friska, Friska membalas dengan memberikan keahliannya, yang termanifestasi dalam lukisan, sebagai hadiah. Kata Mauss, dalam setiap hadiah yang kita terima, kita memiliki tanggung jawab untuk membalas kebaikan tersebut. Resiprositas kebaikan ini membuat relasi sosial Friska dan Pak Yanto terjalin dengan baik.

 Memaknai presentasi sebagai konferensi para ahli

 Bagian akhir dari buku ini juga membahas tentang hal yang sangat menarik. Kegiatan-kegiatan di sekolah Friska tidak mengenal ujian. Sebagai gantinya, mereka melakukan riset. Anak-anak peserta belajar di SALAM akan memilih topik yang akan mereka dalami dan kemudian di akhir periode belajar, mereka akan mempresentasikannya kepada warga sekolah, termasuk para fasilitator dan orangtua murid. Dengan kata lain, anak-anak difasilitasi menjadi para ahli dalam bidang favoritnya masing-masing. Mereka telah melakukan riset dan mengembangkan pengetahuannya sendiri. Mereka mengembangkan subjektivitasnya dan belajar mempresentasikannya kepada publik.

Membaca bab ini mengingatkan saya pada konferensi ilmuwan. Dalam sebuah konferensi, para ahli akan hadir sebagai presenter tetapi juga sekaligus peserta. Para ilmuwan ini akan dibagi ke dalam ruang-ruang parallel dan diberikan waktu untuk mempresentasikan riset terbarunya. Ilmuwan lainnya yang sedag tidak bertugas menjadi peserta konferensi. Mereka saling bertanya untuk belajar. Mengapa? Karena walaupun mereka meneliti topik yang sama, bisa jadi ada temuan dan refleksi yang berbeda. Orangtua yang hadir di presentasi anak di SALAM ini bagi saya seperti para ahli yang lain yang sedang tidak bertugas itu. Mereka mendengarkan anak-anak presentasi menanam terong, merawat burung, atau hal lain. Tema-tema ini bisa jadi sudah menjadi keahlian orangtua. Tetapi para audiens mendengarkan presentasi anak-anak SALAM dengan hormat dan respek. Mereka bertanya dengan keingintahuan. Karena mereka tahu bahwa apa yang terjadi dalam sebuah riset bisa jadi berbeda dengan pengalaman yang mereka pernah alami sebelumnya. Ini merupakan sebuah proses belajar yang sangat suportif dan memfasilitasi anak berkembang.

Penutup

 Setelah tuntas membaca buku ini, saya merasa lega karena kekuatiran yang saya rasakan di awal tidak terjadi. Buku ini bukan Totto-Chan yang di-Indonesia-kan, atau Totto-Chan yang di-Nitiprayan-kan. Penulis mampu menyajikan sebuah karya yang original, kontekstual, dan dekat dengan realitas sosial. Meskipun saya belum pernah berkunjung ke SALAM, namun buku ini berhasil membuat saya bisa membayangkan situasi belajar yang ada di sana. Bagi saya, sekolah Friska adalah sebuah komunitas belajar yang menyenangkan. Saya memilih menyebutnya dengan komunitas karena aktivitas-aktivitasnya digerakkan oleh minat dan kesepakatan peserta didiknya. Buku ini memberikan kepada saya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan kegelisahan saya tentang pendidikan alternatif yang terefleksi dalam pandangan John Dewey di awal tulisan ini. Buku ini mampu memotret dengan baik baik aktivitas belajar yang bermakna, dengan meleburkan diri kita, pembaca, ke dalam sekolah, keluarga, dan masyarakat, dan semua dinamikanya. Buku ini adalah cerita tentang seorang anak yang belajar tanpa harus tercerabut dari konteks sosialnya. Malah, ia memberi dampak untuk orang-orang di sekitarnya. Buku ini adalah buku yang perlu dimiliki oleh siswa, guru, orangtua murid, mahasiswa, dosen, praktisi pendidikan, aktivis, serta semua orang yang peduli dengan pendidikan di Indonesia.

Pustaka Acuan

 de Certeau, M. (1984). The practice of everyday life. University of California Press.

Dewey, J. (1938). Experience and education. New York: Macmillan.

Hodgetts, D., Sonn, C., Drew, N., Carr, S., & Nikora, L. W. (2020). Social psychology and everyday life. Palgrave Macmillan.

Lefebvre, H. (1974/1991). The production of space (Vol. 142). Oxford Blackwell.

Mauss, M. (1950/2002). The gift: The form and reason for exchange in archaic societies. Routledge.

Sim, W. (2019). Overlapping Scriptworlds: Chinese Literature as a Global Assemblage. CLCWeb: Comparative Literature and Culture, 21(4), 7.