Foto: Yanuar Surya.

Sekolah Tanpa Jurusan

Percayakah Anda, ketika hari ini saya memberi tahu Anda sebuah temuan saya yang terbaru, yang bunyinya: Bahwa IPA, IPS, Bahasa dan sekolah kejuruan itu sudah tidak aktual? Premis ini memang tidak berdasarkan riset bertahun-tahun dalam jenjang akademis yang ndakik-ndakik. Ini hanya hasil belajar saya selama empat minggu (dikurangi 4 hari Sabtu dan 4 hari Minggu) bersama teman-teman kelas 10 Sanggar Anak Alam (SALAM). Jadi kalau jawaban Anda atas pertanyaan awal tadi adalah ‘Ah, mbel’, maka sebaiknya Anda segera beralih ke bacaan lain, atau kembali ke laman media sosial buat nyecroll down-in news feeds, tepat sesudah paragraf ini selesai terbaca.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Penjurusan di tingkat SMA itu tampaknya memang sudah tidak aktual jika pendidikan yang kita imani adalah sebuah pendidikan yang mengikuti passion seorang anak. Praksis pendidikan yang hidup dan dihidupi para pembelajar di SALAM.

Pola belajar umum, yang membagi aspek pengetahuan dalam mata pelajaran dan menggunakan Pekerjaan Rumah (PR) dan ujian sebagai agenda rutin adalah hal yang tidak ditemui di SALAM. Jadi bagaimana anak-anak SALAM belajar?

Aspek pengetahuan diharapkan hadir lewat keseharian anak, melalui peristiwa sehari-hari. Di kelas Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) SALAM yang praksisnya sudah berjalan sejak sembilan dan 3 tahun silam, orangtua dan fasilitator menggunakan metode ‘riset mandiri’ untuk membawa aspek-aspek pengetahuan tersebut hadir. Tema riset pun dipilih sesuai minat dan kegemaran masing-masing anak.

Sayangnya, mewacanakan metode ini hanya dengan tulisan bisa bikin jari keriting. Tidak akan pernah cukup hanya dengan satu-dua artikel. Atau bahkan satu-dua buku. Terlibat langsung, baik sebagai orangtua yang aktif mendampingi anak atau sebagai fasilitator kelas selama (paling tidak) satu atau dua semester, adalah salah satu cara yang lebih masuk akal.

SMA SALAM

Lalu bagaimana dengan jenjang SMA? Pertanyaan itu juga yang berkelebat dalam benak saya ketika wacana tentang membuka kelas SMA SALAM ini digelontorkan pak Toto Rahardjo, inisiator SALAM, akhir tahun lalu. Untuk pendidikan dasar, para fasilitator tetap menggunakan kurikulum Nasional untuk mengembangkan aspek pengetahuan dan menentukan indikator. Tapi bagaimana dengan jenjang SMA?

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Seperti kita semua ketahui, penjurusan adalah hal yang jamak, bahkan wajib, terjadi di jenjang pendidikan ini. bahkan beberapa fakultas dan jurusan Perguruan Tinggi mensyaratkan jurusan tertentu sebagai syarat masuk. Mengingat satu-satunya cara untuk paham adalah dengan melakukan, maka saya memutuskan untuk ikut terlibat sebagai fasilitator kelas yang masih kinyis-kinyis ini.

Awalnya, membayangkan menjadi fasilitator saja sudah cukup menakutkan. Pasalnya saya dan anak saya sama-sama tidak pintar bangun pagi. Tapi pak Gemak dan pak Candra, sesama orangtua murid SALAM yang ikut bergabung sebagai fasilitator kelas 10 sungguh baik budinya. Saya diijinkan untuk bergabung 1 jam lebih siang setiap harinya. Terutama untuk semester pertama ini. Jadi, kendala teknis yang menakutkan sudah terpecahkan.

Selebihnya, kami mulai merancang cara belajar untuk kelas SMA ini. Metode ‘riset mandiri’ yang sudah dirintis di jenjang SD dan SMP akan tetap diteruskan. Selain itu, kami juga menyisipkan kelas literasi dan life skills.

Lalu bagaimana hasilnya? Secara keseluruhan, dalam 3 minggu, keenam kelas 10 ini telah berhasil merancang sendiri kurikulum belajar mereka untuk satu semester. Iya, enam. Jumlah kami totalnya hanya 9 jika ditambah fasilitator. Kelas kecil memang menyenangkan. Diskusi yang bergulir bisa menjadi lebih intim. Namun ada pula kelemahannya, spektrum pengetahuan yang dapat dibagi dari masing-masing anak menjadi sempit.

Di minggu pertama, saya sempat memetakan spektrum ini. Kewarganegaraan adalah salah satu aspek pengetahuan yang sulit dikembangkan spektrumnya, meihat minat dan tema yang muncul dari teman-teman kelas 10 berkisar pada kewirausahaan, musik dan craft. Tema yang cukup jauh dari aspek pengetahuan tentang kewarganegaraan. Namun mudah untuk dikaitkan pada aspek pengetahuan tentang ekonomi, seni dan budaya.

Tapi rupanya kesulitan yang kami hadapi ini terpecahkan dengan sendirinya ketika suatu hari saya membawa “Rubuhnya Surau Kami” sebagai bahan bacaan. Sebelum membaca, saya hanya memberi petunjuk sederhana untuk mencermati siapa saja tokoh dalam cerita pendek karangan A.A Navis itu. Setelah membaca, kami membangun diskusi ringan tentang tokoh, karakter tokoh, latar belakang cerita dan pengarang. Dalam diskusi yang berlangsung singkat sebelum makan siang ini, terjadi tanya jawab yang bergulir hingga Marxisme. Serem!

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Selain membaca, kami juga berkomitmen untuk rajin menulis jurnal. Kebutuhan akan sebuah wadah untuk menulis, membawa kami dalam sebuah lokakarya membuat website. Website yang kami pilih sendiri nama domainnya ini seyogyanya akan menjadi wadah jurnal digital kami. Selain Tanah yang rekam jejak risetnya akan dibantu orangtua, teman-teman lain sudah berhasil menerbitkan satu hingga tiga tulisan yang dapat disimak di cahsalam.id.

Dengan ini kami menemukan sendiri sebuah pola, bahwa sebuah kegiatan sesederhana ‘membaca sebuah bacaan-bacaan singkat di sela-sela jam belajar’ dapat memperluas spektrum pengetahuan. Membaca adalah segelintir dari kegiatan-kegiatan lain yang bisa kami lakukan untuk memperluas aspek pengetahuan. Kami masih mempunyai stok kegiatan lain seperti menonton film, memasak, mengikuti lokakarya, wawancara, praktek langsung bahkan jalan-jalan. Stok kegiatan itu tentu saja bisa terjadi di dalam maupun di luar kerangka riset anak. Seru, bukan? Saya yakin Anda sedang mbatin, “Duh, pengen SMA lagi..”

SMA SALAM akan berlangsung selama 3 tahun. Tak jauh beda dengan SMA lain. Alasannya mudah saja, karena 3 tahun itu adalah jumlah waktu yang pas untuk bersenang-senang, layaknya 3 tahun penuh kenangan milik semua orang yang pernah muda. Pun, di atas semua kenangan yang akan terukir, terbersit pula sebuah harapan. Semoga kelak selepas SMA, pemuda-pemudi ini dapat berperan dalam masyarakat dengan mandiri. Kemandirian yang tidak melulu secara finansial, namun mandiri dalam cara berpikir dan belajar. Seumpama kemandirian itu adalah bekal, maka bekal itu seyogyanya dapat menjadi api untuk urip sing urup.