Hari Pendidikan Ketika Sudah Berkeluarga

Hari Pendidikan Nasional tak pernah benar-benar menjadi hari yang penting untuk dirayakan, begitu pikiran saya dulu semasa masih bersekolah. Saat itu saya berpikir, merayakan hari besar seharusnya ditandai dengan libur. Bukan dengan tetap memakai seragam, membawa buku pelajaran yang berat, dan bangun sepagi mungkin karena takut terlambat untuk mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional di sekolah.

Saya mungkin siswa yang payah, sampai-sampai tak bisa meresapi apa  pentingnya Hari Pendidikan Nasional. Jelas bahwa saat itu saya memandang pendidikan hanya sebagai kewajiban untuk berangkat ke sekolah. Saya tak bisa memaknai kegiatan belajar di sekolah sebagai kebutuhan akan ilmu, didikan, apalagi sebagai modal untuk menjamin bahwa saya akan memiliki kehidupan yang baik di masa depan. Kalau diingat-ingat lagi, alasan saya datang ke sekolah adalah agar presensi saya penuh, agar orangtua saya lega, dan agar saya tak dianggap sebagai siswa bermasalah hingga perlu dipanggil oleh guru Bimbingan dan Konseling.

Kebebasan memilih ilmu untuk dipelajari baru mulai muncul saat menempuh pendidikan tinggi. Ini pun tak terlalu bebas. Sebagai siswa, sekalipun sudah maha, pikiran saya selalu dicekoki dengan doktrin untuk mencari jurusan yang sekiranya punya kemungkinan yang lebih baik untuk dipakai mencari pekerjaan. Fakultas Kedokteran, Ilmu Komputer dan Teknik Informatika, Komunikasi, Hubungan Internasional, Teknik Sipil, Hukum dan Psikologi adalah fakultas-fakultas yang dianggap bergengsi dan selalu menjadi incaran mayoritas lulusan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kini, setelah saya menjadi orangtua dan masa-masa memilih lembaga pendidikan terbaik untuk masa depan saya sudah berlalu, giliran saya mencarikan sekolah yang memiliki konsep pendidikan yang baik untuk anak saya. Pilihan pun jatuh pada Sanggar Anak Alam (SALAM), Yogyakarta, setelah menimbang segala aspek mulai dari biaya, siapa pendirinya hingga bagaimana pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan di SALAM. Sekolah ini bukanlah sekolah terbaik sejagad raya, pun  bukan pula sekolah yang dapat memberi jaminan bahwa masa depan lulusannya pasti  gemilang.

SALAM menawarkan konsep kemerdekaan belajar yang cukup berbeda dengan gagasan merdeka belajar milik Kemendikbud. Gagasan kemerdekaan belajar yang digaungkan oleh Kemendikbud adalah upaya untuk mendobrak kekakuan metode transfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid. Sementara, di SALAM, perihal kemerdekaan belajar sudah menjadi ruh dan bukan lagi diterapkan untuk mengubah sesuatu tetapi sudah dijalankan secara konkrit lewat daur belajar yang diterapkan di SALAM.

Bagi saya sebagai orangtua, SALAM adalah sekolah yang “memaksa” orangtua untuk bersedia hadir secara nyata dan terlibat penuh dalam urusan pendidikan anak. Ya, SALAM memang salah satu sekolah dengan model pendidikan alternatif yang menuntut peran orangtua dalam pendidikan anaknya. SALAM bukan lembaga pendidikan yang mengizinkan para orangtua untuk “menitipkan” anak untuk dididik menjadi sosok yang memiliki kualifikasi tertentu sesuai kebutuhan industri. SALAM mengambil peran sebagai fasilitator untuk memberikan stimulus bagi siswanya dalam menemukan hal-hal baik yang sebenarnya sudah ada dalam diri tiap siswa itu sendiri.

Sekolah yang didirikan oleh Sri Wahyaningsih bersama Toto Rahardjo ini memang mengutamakan kemerdekaan anak dalam berpikir, berkreasi dan mengutarakan pendapat. Setiap anak diberi kesempatan yang sama untuk menemukan minat, mempelajari hal yang sesuai dengan minatnya, serta memberikan ruang untuk memutuskan berhenti dan berganti minat tanpa disalahkan. Sekolah yang menyebut dirinya sebagai sekolah biasa saja ini nyatanya adalah sekolah yang selalu berusaha manusiakan anak.

Apa yang saya paparkan di atas memang hanya hasil dari bergaul dengan SALAM selama lima tahun. Pemikiran saya muncul setelah saya membandingkan era anak saya dengan masa-masa ketika saya harus menjadi manusia yang merasa terkekang saat menempuh pendidikan formal. Jika dulu saya  amat menyukai libur hanya karena jenuh bersekolah, nampak berbeda dengan para siswa SALAM yang justru kurang suka jika liburnya terlalu panjang.

SALAM memang lebih tepat disebut sebagai sanggar, bukan sekolah melihat kegiatannya yang santai, ketiadaan seragam dan buku paket, serta kebebasan yang diberikan. Mungkin siswa SALAM sedemikian menyukai sekolah mereka karena kemasan SALAM yang santai dan tidak formal. Meski masih banyak yang menilai SALAM sebagai sekolah urakan hanya karena ketiadaan seragam dan atribut sekolah formal lainnya, namun cara SALAM menerapkan konsep mendidik, jelas dilakukan dengan sangat serius.

Meski sebagai orangtua, saya dan pasangan,  berupaya menyediakan hal yang kami pandang baik untuk anak berupa sekolah yang seasik SALAM, tetap saja, bukan tidak mungkin bahwa kelak di masa depan anak saya akan merasakan kegelisahan tentang pendidikan ideal menurutnya. Pikiran itu terlintas saat menyadari bahwa kadang anak saya juga menunjukkan sikap memberontak dari cara belajarnya saat ini. Ada kalanya anak saya hanya ingin tidak melakukan apa-apa. Tidak berpikir ingin membuat sesuatu yang kreatif. Bahkan tidak penasaran dengan apapun yang terjadi di sekitarnya.

Merumuskan kesempurnaan pendidikan  adalah yang mustahil. Meski bagi kami, orangtua dari anak-anak kami, SALAM adalah sekolah yang saat ini paling ideal dan sesuai dengan kehidupan kami, namun bisa saja kelak tidak demikian untuk anak-anak kami. Kami pun harus siap untuk kebaruan pandangan mereka kelak tentang pendidikan bagi generasi selanjutnya. Bisa jadi, hal yang tak mustahil bukanlah mengejar kesempurnaan sistem pendidikan, tapi mau menjadi lebih lentur terhadap perubahan-perubahan kebutuhan individu dalam belajar.

Saya pun menyadari, ternyata, saat saya sudah menjadi orangtua barulah terasa bahwa Hari Pendidikan menjadi hari yang cukup penting. Bukan sekadar untuk dirayakan dengan upacara, tapi untuk duduk diam dan merenung tentang pendidikan dan peran apa yang bisa saya lakukan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Ya, setidaknya kini saya sadar bahwa pendidikan bukan hanya bagian yang wajib dijalankan oleh anak saja, demi masa depan gemilang yang sebenarnya saya pun tak punya kuasa untuk merancang itu. []