KELAS KREASI DI SALAM : SEMUA MURID SEMUA GURU

Kadang saya bertanya-tanya, bagaimana sih rasanya menjadi fasilitator SALAM? Capekkah para fasilitator itu? Repotkah menyediakan diri untuk anak-anak orang lain? Pusingkah menanggapi para orang tua dengan beragam latar belakang? Bagaimana, ya, cara para fasilitator menyiapkan materi yang sesuai dan disukai anak sebagai pemantik pembelajaran sembari mencermati kemampuan anak yang beragam?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum pernah saya tanyakan langsung pada para fasilitator. Hanya, saya pernah berkesempatan bertanya pada Bu Wiwin, fasilitator kelas 3 SD, mengapa Bu Wiwin terlihat enjoy menjadi fasilitator dengan aneka dinamika yang terjadi? Jawabnya, ya karena beliau senang menjadi fasilitator. Menurut Bu Wiwin, dengan menjadi fasilitator, ia berjumpa dengan banyak anak, melihat interaksi banyak anak, melihat anak-anak bertumbuh dan hal-hal itu adalah salah satu yang membuat jiwa Bu Wiwin bahagia. Itu baru Bu Wiwin saja. Saya tidak tahu, apakah semua fasilitator sebahagia Bu Wiwin?

Akhirnya, tahun ini saya mendapatkan jawaban dari sebagian pertanyaan-pertanyaan itu. Hal yang tak saya sangka terjadi. Tahun ini saya berkesempatan mencicipi pengalaman menjadi fasilitator walau hanya satu jam saja. Ceritanya begini. Anak kedua saya, Agni, saat ini duduk di kelas 1. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2022 ini di kelas 1 SD SALAM, ada agenda bernama Kelas Kreasi.

Sebenarnya, menjadi fasilitator di Kelas Kreasi, mirip dengan saat orang tua diminta menjadi fasilitator saat agenda home visit. Bedanya, Kelas Kreasi dilakukan di sekolah. Bagi saya yang sangat pemalu, tentu saja, menjadi fasilitator walau hanya sebentar adalah hal yang menantang. Setidaknya, saya jadi punya gambaran seperti apa sih rasanya menjadi Ibu Umi, Mbak Mega, dan Mbak Kiki, para fasilitator kelas 1 SD.

Agenda Kelas Kreasi disepakati di awal semester. Sejak kesepakatan itu, setiap anak dan keluarganya bersiap untuk menjadi fasilitator bagi temannya. Walau yang diminta menjadi fasilitator adalah orang tua, tentu saja anak tetap dilibatkan. Hal ini saya ketahui dari beberapa anak dan orang tua yang sudah lebih dulu mengisi jadwal Kelas Kreasi.

Yang pertama, ada Addry bersama orang tuanya yang berkreasi dengan botol air mineral bekas. Kelas kreasi yang pertama sangat seru dan menyenangkan, demikian kata anak saya sepulang sekolah. Meski Agni merasa kesulitan menggunting botol, namun bagi Agni kegiatan menggunting dan mewarnai dengan kuas adalah hal yang membuatnya senang. Lalu selanjutnya, Jojo dan orang tuanya, mengajak teman-teman berkreasi membuat kotak pensil dan wadah serba guna. Kegiatan kedua ini juga asyik. Apalagi Jojo adalah salah satu kawan favorit Agni. Tak hanya karena Jojo, anak saya rupanya terkesan dengan Ibu Ochie – Mamanya Jojo – yang pandai mencairkan suasana.

Di pekan ketiga, ada Kalandra yang mengajak teman-teman membuat hiasan dari stik es krim. Anak saya tidak masuk waktu kegiatan ini berlangsung. Namun, reaksi teman-teman yang diceritakan di WAG kelas menunjukkan kalau teman-teman menikmati membuat hiasan sesuai keinginan mereka. Agni pun menyusul ikut membuat dengan dibantu Ibu Umi, setelah ia masuk sekolah. Ia pun terlihat bangga saat membawa pulang hasil karyanya bersama Ibu Umi.

Hal yang sama, terjadi saat giliran Arros dan keluarga yang mengajak teman-teman berolahraga. Kedua orang tua Arros berprofesi sebagai dokter. Awalnya saya menyangka orang tuanya yang memberi ide olahraga. Tapi ternyata saya keliru. Ide muncul dari Arros sendiri. Hal ini dituturkan oleh Ibu dari Arros, Ibu Ria saat saya sedikit bertanya tentang pendapatnya soal Kelas Kreasi. Tak hanya berolahraga, Arros juga mengajak teman-teman menikmati susu kedelai dari Pak Yanto, favorit teman-temannya, seusai berolahraga. Tentu saja semua anak bergembira.

Kelas Kreasi memang tak membatasi harus berupa prakarya atau kerajinan tangan. Saat giliran Kenzi, teman-teman diajak membuat sendiri roti isi. Tema ini juga dipilih sendiri oleh Kenzi. Saat ibunya memberi usulan bagaimana  kalau rotinya dipanggang atau dibuat olahan lain, Kenzi menolak. Ia bersikukuh dengan idenya. Pilihan Kenzi rupanya disenangi teman-teman. Seusai Kelas Kreasi hari itu, teman-teman pulang dalam keadaan kenyang dan gembira. Mereka bisa berkreasi dan menyantap hasil kreasinya. Lagi-lagi, anak saya bercerita soal ibu dari temannya yang menurutnya menarik karena mampu berinteraksi dengan luwes.

Saat tiba giliran Ave dan orang tuanya, anak-anak juga merasakan kegembiraan karena bisa melihat dan menikmati hasil kreasinya. Ya jelas saja, siapa yang nggak senang dengan es krim? Ave mengajak teman-teman belajar membuat es puter dengan alat sederhana. Kelas kali ini sangat meriah. Karena bukan cuma anak-anak yang senang, para orang tua juga tertarik belajar membuat es puter dengan alat-alat sederhana.

Akhirnya, tiba juga giliran Agni. Saya menawarkan untuk membuat makanan saja. Olahan pisang sepertinya selalu disukai di kelas 1. Tapi, Agni menolak. Seperti teman-temannya, ia sudah punya ide sendiri. Ia ingin membuat boneka kaus kaki, karena boneka kaus kaki yang dulu dibuat saat kakaknya kelas 2 sudah rusak. Dulu, Agni ikut membuat boneka kaus kaki saat kelas 2 belajar membuat boneka kaus kaki bersama Mas Manik, fasilitator kelas kakaknya tahun lalu.

Saya dan bapak pun berkutat mempelajari cara membuatnya. Maklumlah, saya sendiri bukan tipikal orang yang kreatif. Dua minggu sebelum kegiatan, kami sudah mencoba di rumah berkali-kali. Agni pun paham cara membuatnya dari awal hingga akhir. Ternyata perkara berkreasi tak terlalu membuat Agni risau. Ia lebih khawatir soal siapa yang akan jadi fasilitator, ibu atau bapak? Setelah diputuskan bahwa saya yang jadi fasilitator, Agni makin risau. Tampaknya ia meragukan, apakah ibunya bisa bicara di depan teman-temannya?

Menariknya, Agni mengajari saya hal-hal yang ia amati dari para orang tua yang sudah lebih dulu menjadi fasilitator Kelas Kreasi. Agni memberi saran agar saya berkenalan terlebih dahulu. Lalu ia mengingatkan saya untuk menentukan ingin dipanggil sebagai siapa. Ibu, Tante, atau yang lain. Ketika saya bilang, lebih suka dipanggil dengan sebutan Budhe, Agni cemberut. Katanya, ia tidak setuju. Ibu atau Tante saja. Hahaha… Tidak hanya soal itu, Agni juga memberi saran fashion. Ia melarang saya memakai celana pendek dan atasan batik. Ia memberi saran untuk memakai kaos yang gelap agar keren. Tentu saja, saya menuruti saran Agni.

Pukul 11.00 kami memulai Kelas Kreasi. Saya baru menyadari, kalau Ruang Raya bawah, tempat anak kelas 1 belajar, begitu berisik. Terlalu banyak suara masuk dari luar. Belum lagi anak-anak kelas 1 sendiri, kadang bercandanya dengan volume maksimal. Wah, capek juga jadi Ibu Umi, Mbak Mega, dan Mbak Kiki kalau harus bersuara keras saat suasana bising. Suara saya sendiri, tidak bisa keras. Untunglah, ada Mbak Mega yang bisa mengajak teman-teman kelas 1 untuk lebih tenang. Seperti yang saya cemaskan, di awal perkenalan, suara saya gemetar. Bicara di dekat teman-teman anak saya ternyata bukan hal mudah.

Ajaibnya, teman-teman seperti merasakan kegelisahan saya. Mereka membuat suasana menjadi cair dengan aneka celetukan lucu. Kami sempat membicarakan arti nama saya, Butet, yang terdengar asing. Lumayanlah, jadi berkesempatan untuk sedikit mengenalkan nama-nama panggilan suku Batak dalam suasana yang santai. Selain anak-anak yang terlihat bersemangat, saya juga terkesan dengan Kenzi. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam dan enggan dengan orang baru. Tapi hari itu, Kenzi menyapa dengan suaranya yang lembut. Ia meminta dibantu memasang lima mata untuk bonekanya, setelah semua temannya selesai. Rupanya ia bersabar menunggu saat suasana sepi.

Tentu saja, kegiatan satu jam itu tidak membuat saya merasa sudah sah menjadi fasilitator. Tapi setidaknya, dari kegiatan itu, orang tua berkesempatan untuk mengenal semua teman dari anaknya secara langsung. Bukan kreasinya yang menjadi inti agenda, tapi rupanya banyak kesan dan pelajaran lain yang didapat oleh setiap anak dan orang tuanya baik saat mengikuti kelas maupun saat mendapat jadwal bertugas memimpin. Hal ini dikatakan oleh Ibu Ochie, orang tua dari Jojo dan saya pun merasakan hal serupa.

Perjalanan belajar anak-anak kelas 1 bersama Ibu Umi, Mbak Mega, Mbak Kiki masih panjang. Jadwal Kelas Kreasi masih terus ada setiap hari Selasa. Selain itu, masih ada sederet agenda lain seperti home visit, mini trip, dan lain-lain. Tentu masih akan ada banyak pembelajaran yang akan diterima oleh anak-anak, orang tua, dan fasilitator. Memang benar bahwa di SALAM, prinsipnya adalah semua guru dan semua murid. Setidaknya hal ini saya rasakan saat menjadi fasilitator selama satu jam dan mendapat tuntunan dari guru public speaking saya, Agni.

Tentu pembelajaran itu bukan melulu satu ditambah satu sama dengan dua. Seperti yang baru saja dikatakan Agni pada kakaknya tentang kesannya menjadi anak kelas 1 SD SALAM , ” Siapa bilang kelas 1 SALAM nggak ada pelajarannya? Belajarannya ternyata banyak sekali. Agni bisa belajar bikin sule, es krim, bikin roti lapis, kelas kreasi, nulis, aaahh banyak sekali, kok.”